Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS sempat melemah pada akhir pekan lalu, memicu reaksi di pasar keuangan global. Penyebab utamanya adalah data pekerjaan yang jauh dari ekspektasi. Namun, meski terlihat lesu dalam jangka pendek, dolar tetap berada di jalur kenaikan mingguan yang solid. Dinamika ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang makin memanas di Timur Tengah.
Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,4 persen menjadi 98,89. Meski begitu, secara mingguan, dolar masih mencatatkan kenaikan sebesar 1,3 persen. Angka ini merupakan lonjakan tertinggi sejak Agustus 2025. Pergerakan ini menunjukkan bahwa meski ada tekanan jangka pendek, permintaan terhadap dolar sebagai aset safe-haven tetap tinggi.
Data Pekerjaan yang Mengecewakan Picu Spekulasi Penurunan Suku Bunga
Salah satu faktor utama yang memicu pelemahan dolar pada Jumat adalah laporan penggajian non-pertanian Februari. Data ini menunjukkan bahwa ekonomi AS kehilangan 92.000 lapangan kerja, jauh di bawah ekspektasi yang memperkirakan penambahan 58.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran pun naik ke 4,4 persen.
Angka ini jadi kejutan besar, terlebih lagi setelah angka Januari yang sebelumnya terlihat kuat direvisi turun dari 130.000 menjadi 126.000. Bahkan, data Desember 2025 juga direvisi dari penambahan 48.000 pekerjaan menjadi pengurangan 17.000 lapangan kerja.
1. Reaksi Pasar terhadap Data Pekerjaan
Investor langsung bereaksi terhadap data tersebut dengan meningkatkan ekspektasi akan penurunan suku bunga Federal Reserve. Pasalnya, suku bunga yang lebih rendah cenderung melemahkan mata uang. Sebaliknya, suku bunga tinggi justru memperkuat dolar.
2. Spekulasi Penurunan Suku Bunga Fed
Semakin banyak pelaku pasar yang memasang taruhan pada kebijakan moneter yang lebih longgar. Ini berpotensi menekan nilai tukar dolar dalam jangka pendek. Namun, tidak semua faktor mendukung pelemahan berkelanjutan.
Konflik Timur Tengah Jadi Penopang Permintaan Dolar
Meski sempat terpuruk, dolar tetap mampu mempertahankan kekuatannya berkat situasi geopolitik yang memanas. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, memicu lonjakan permintaan terhadap aset safe-haven seperti dolar AS.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa kekuatan militer AS akan ditingkatkan secara signifikan di kawasan. Israel juga mengklaim telah melancarkan serangan besar terhadap infrastruktur Iran. Balasan dari Iran pun tak lama, dengan menargetkan sejumlah negara di kawasan.
3. Dampak Geopolitik terhadap Stabilitas Dolar
Analisis dari ING menyebut bahwa selama ketegangan ini belum mereda, dolar cenderung tetap kuat. Investor cenderung mencari perlindungan di tengah ketidakpastian. Ini menjelaskan mengapa, meski data ekonomi melemah, dolar tetap bisa mencatatkan kenaikan mingguan.
Indeks Dolar Dekati Level Resistensi Kritis
Indeks dolar kini mendekati level psikologis 100. Menurut David Morrison dari Trade Nation, level ini menjadi resistensi penting yang sulit ditembus. Sebelumnya, level 100 telah beberapa kali diuji namun tidak berhasil ditembus pada November lalu.
4. Pergerakan Indeks Dolar Sebelumnya
Sejak awal tahun, indeks sempat mengalami tekanan dan turun ke level terendah empat tahun di akhir Januari. Namun, momentum bullish kembali muncul seiring ketegangan global dan ekspektasi terhadap kebijakan Fed.
5. Spekulasi Penurunan Status Dolar sebagai Mata Uang Cadangan
Beberapa kalangan mulai memperkirakan bahwa dominasi dolar sebagai mata uang cadangan global bisa terancam. Namun, sejauh ini, belum ada tanda kuat bahwa pergeseran itu akan terjadi dalam waktu dekat.
Performa Mata Uang Dunia Lainnya
Di tengah gejolak dolar, performa mata uang lainnya juga menunjukkan dinamika yang menarik. Euro, misalnya, mengalami tekanan besar akibat lonjakan harga energi dan data pertumbuhan yang melemah.
6. EUR/USD Cenderung Datar
EUR/USD berada di kisaran 1,1611. Meski datar hari ini, euro tetap mencatatkan kerugian mingguan sekitar 1,7 persen. Ini terjadi karena ekspektasi pertumbuhan di kawasan Eropa tergerus oleh kenaikan harga energi.
7. Data Inflasi dan Pertumbuhan Zona Euro
Inflasi di kawasan euro mencatatkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan pada Februari. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kuartal terakhir diperkirakan hanya sebesar 0,3 persen secara kuartalan, dan 1,3 persen secara tahunan.
8. GBP/USD Naik Tipis
Poundsterling naik tipis 0,3 persen ke level 1,3393. Meski begitu, sterling tetap mencatatkan kerugian mingguan sebesar 0,8 persen. Kenaikan harga energi menjadi beban tambahan bagi pemerintah Inggris yang sedang berjuang mempertahankan popularitas.
9. USD/JPY Terus Menguat
Pasangan USD/JPY naik 0,2 persen ke level 157,83. Ini menunjukkan yen Jepang masih melemah. Pelemahan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak yang memicu risiko inflasi di negara pengimpor energi seperti Jepang.
10. USD/CNY dan AUD/USD
Di pasar Asia lainnya, USD/CNY naik tipis ke 6,8965. Sementara AUD/USD berada di 0,7026, naik 0,3 persen namun tetap mencatat kerugian mingguan sebesar 1,3 persen. Dollar Australia tetap tertekan karena sensitivitasnya terhadap risiko global.
Tabel Pergerakan Mata Uang Utama
| Pasangan Mata Uang | Perubahan (%) | Posisi Akhir | Tren Mingguan (%) |
|---|---|---|---|
| EUR/USD | Datar | 1,1611 | -1,7 |
| GBP/USD | +0,3% | 1,3393 | -0,8 |
| USD/JPY | +0,2% | 157,83 | +1,1 |
| USD/CNY | +0,1% | 6,8965 | +0,5 |
| AUD/USD | +0,3% | 0,7026 | -1,3 |
Penutup
Meskipun data pekerjaan yang lemah sempat membuat dolar terguncang, tekanan geopolitik global justru menjadi penyelamat bagi greenback. Dolar tetap kuat karena permintaan terhadap aset safe-haven. Namun, ke depannya, pergerakan dolar akan sangat bergantung pada kebijakan Fed dan perkembangan ketegangan di Timur Tengah.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi dan geopolitik global.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













