Harga emas mengalami sedikit penurunan pada Kamis, 5 Maret 2026. Penurunan ini terjadi seiring dengan penguatan nilai tukar dolar AS. Sebelumnya, logam mulia ini sempat naik tajam karena meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Investor yang awalnya mencari aset safe haven mulai mengambil keuntungan, terutama saat dolar menguat.
Menurut data dari Investing.com, harga emas spot tercatat di level USD5.087,63 per ons, turun sekitar 1,1 persen. Sementara itu, emas berjangka AS juga mengalami penurunan 0,8 persen, menjadi USD5.095,96 per ons. Meski demikian, sepanjang awal tahun ini, emas sudah naik hampir 20 persen karena ketidakpastian geopolitik global.
Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah
1. Konflik yang Memicu Lonjakan Permintaan Emas
Ketegangan di kawasan Timur Tengah masih tinggi. Setelah Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran, negara tersebut terus merilis rudal ke beberapa negara tetangga. Kabar yang beredar juga menyebutkan bahwa infrastruktur energi penting di wilayah tersebut menjadi target.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya perang regional yang lebih luas. Investor pun mulai mengalihkan portofolio mereka ke aset yang dianggap lebih aman. Emas, sebagai safe haven tradisional, menjadi pilihan utama saat ketidakpastian ekstrem terjadi.
2. Emas sebagai Pelindung Nilai
Dalam kondisi seperti ini, emas kerap diandalkan sebagai pelindung nilai. Nilai historisnya sebagai aset yang tahan terhadap gejolak ekonomi dan politik membuat permintaan emas meningkat. Namun, kenaikan harga yang terjadi sebelumnya juga memicu aksi ambil untung dari sebagian investor.
Penguatan Dolar yang Menahan Harga Emas
3. Dolar yang Menguat Menekan Harga Emas
Indeks Dolar AS kembali menguat pada Kamis setelah sempat terkoreksi sebesar 0,3 persen sehari sebelumnya. Kenaikan beruntun selama dua sesi membuat dolar lebih kompetitif. Penguatan ini berdampak langsung pada harga emas, karena emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Penguatan dolar bukan hanya soal nilai tukar. Ini juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Investor mulai mempertimbangkan kembali alokasi aset mereka, termasuk emas yang tidak memberikan bunga.
4. Ekspektasi Suku Bunga dan Dampaknya
Salah satu faktor yang membuat emas terlihat kurang menarik adalah ekspektasi kenaikan suku bunga jangka panjang akibat konflik di Timur Tengah. Inflasi yang membengkak, terutama dari sektor energi, bisa memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga lebih lama.
"Aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas akan menghadapi tekanan jika suku bunga diharapkan akan terus tinggi," kata analis ING. Namun, mereka juga mencatat bahwa ketidakpastian geopolitik masih menjadi penopang utama harga emas.
Faktor Lain yang Mempengaruhi Pergerakan Emas
5. Likuiditas Pasar dan Sentimen Investor
Beberapa faktor makro lainnya juga turut memengaruhi harga emas. Di antaranya adalah ekspektasi pemotongan suku bunga Federal Reserve, fluktuasi mata uang global, dan kondisi likuiditas pasar. Semua ini menciptakan lingkungan yang kompleks bagi pergerakan harga emas.
Menurut strategis Morgan Stanley, penjualan emas dalam beberapa hari terakhir kemungkinan bukan karena perubahan sentimen jangka panjang. Mereka lebih memandang bahwa investor sedang mengumpulkan likuiditas karena tekanan pasar jangka pendek.
6. Perbandingan Kinerja Logam Mulia Lainnya
Selain emas, beberapa logam mulia lain juga mengalami pergerakan yang berbeda. Berikut adalah rincian harga beberapa logam pada Kamis, 5 Maret 2026:
| Logam | Perubahan Harga (%) | Harga per Satuan |
|---|---|---|
| Emas | -1,1% | USD5.087,63 per ons |
| Perak | -1,6% | USD82,1880 per ons |
| Platinum | Stabil | USD2.152,80 per ons |
| Tembaga (LME) | +0,8% | USD13.057,50 per ton |
| Tembaga (AS) | -1% | USD5,8457 per pon |
Data di atas menunjukkan bahwa tidak semua logam mengalami tekanan yang sama. Tembaga justru naik, menunjukkan bahwa permintaan industri masih cukup kuat meskipun investor lebih hati-hati terhadap aset finansial.
Penutup
Meskipun emas sempat naik tajam karena ketegangan geopolitik, penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga membuat harga logam mulia ini kembali tertekan. Namun, situasi ini belum tentu berkelanjutan. Jika ketidakpastian global masih tinggi, emas bisa kembali menjadi sorotan investor.
Investor perlu terus memantau perkembangan kebijakan moneter AS, pergerakan dolar, dan situasi geopolitik global. Semua faktor ini saling terkait dan bisa memicu volatilitas harga emas dalam waktu singkat.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini sesuai dengan tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













