Menjelang momen Lebaran, aktivitas keuangan masyarakat cenderung meningkat. Mulai dari belanja, transfer THR, hingga pembayaran utang menjadi rutinitas yang banyak dilakukan. Namun, lonjakan transaksi ini juga jadi peluang emas bagi pelaku kejahatan siber. Mereka memanfaatkan situasi yang penuh kesibukan dan kepanikan untuk menjebak korban lewat berbagai modus penipuan digital.
Maybank Indonesia pun mengimbau masyarakat untuk mewaspadai sejumlah skema penipuan yang kerap muncul menjelang hari raya. Direktur Kepatuhan PT Bank Maybank Indonesia Tbk, Yessika Effendi, menyebut bahwa pelaku kini semakin pintar dalam mengelabui korban. Mereka bahkan tak butuh meretas sistem perbankan, cukup memanipulasi korban agar menyerahkan akses secara sukarela.
Modus Operandi Penipuan Digital Menjelang Lebaran
Menurut Yessika, pelaku biasanya menggunakan teknik seperti social engineering dan phishing. Mereka mengirim pesan yang terkesan mendesak, seperti pemberitahuan transaksi mencurigakan atau tagihan mendadak. Korban pun panik dan langsung mengikuti instruksi pelaku tanpa berpikir panjang.
1. Mengaku sebagai pihak resmi
Pelaku sering berkedok sebagai pegawai bank, petugas pajak, aparat penegak hukum, atau bahkan keluarga korban. Mereka menggunakan data pribadi hasil kebocoran sebelumnya untuk membuat skenario yang terasa nyata.
2. Mengirim tautan palsu
Tautan yang dikirim sering kali menyerupai situs resmi institusi keuangan atau pemerintah. Korban diminta memasukkan data pribadi seperti PIN, password, dan OTP di halaman palsu tersebut.
3. Meminta unduh aplikasi ilegal
Modus lainnya adalah mengarahkan korban untuk mengunduh file APK yang berisi malware. Aplikasi ini bisa mencuri data, merekam layar, hingga mengakses akun perbankan secara diam-diam.
4. Melakukan share screen
Pelaku juga meminta korban untuk melakukan “share screen” melalui WhatsApp atau platform lainnya. Dengan begitu, mereka bisa melihat langsung data sensitif yang muncul di layar ponsel korban.
5. Mengaku butuh biaya administrasi
Dalam skenario ini, pelaku mengklaim bahwa ada biaya tambahan yang harus dibayar agar transaksi bisa diproses. Padahal, ini hanyalah dalih untuk menguras dana korban.
Cara Melindungi Diri dari Penipuan Digital
Menghadapi ancaman ini, Maybank Indonesia memberikan sejumlah saran agar nasabah bisa tetap aman saat bertransaksi secara digital. Berikut langkah-langkah yang bisa diikuti.
1. Hanya gunakan aplikasi resmi
Transaksi perbankan sebaiknya hanya dilakukan melalui aplikasi resmi seperti M2U ID App yang tersedia di App Store dan Google Play Store. Pastikan nama aplikasi sudah benar dan berasal dari publisher resmi Maybank.
2. Jangan klik tautan mencurigakan
Tautan dari sumber tidak dikenal atau yang dikirim mendadak harus dihindari. Jika ragu, cek langsung ke situs resmi atau hubungi layanan pelanggan secara langsung.
3. Jangan bagikan data rahasia
OTP, PIN, TAC, maupun kode CVV/CVC adalah data pribadi yang tidak boleh dibagikan dengan siapa pun. Maybank Indonesia tidak pernah meminta informasi ini melalui telepon atau pesan singkat.
4. Matikan fitur share screen
Fitur “bagikan layar” di ponsel sebaiknya dimatikan saat tidak digunakan. Jika ada yang meminta untuk melakukan ini, segera hentikan komunikasi.
5. Ganti password secara berkala
Gunakan password yang kuat dan unik untuk setiap akun. Ganti secara berkala dan hindari menggunakan informasi pribadi seperti tanggal lahir atau nama keluarga.
6. Periksa notifikasi transaksi
Selalu aktifkan notifikasi dari bank. Dengan begitu, setiap transaksi yang terjadi bisa langsung terlihat dan dicek kebenarannya.
7. Hubungi layanan pelanggan jika curiga
Jika menerima informasi mencurigakan, jangan panik. Hentikan komunikasi dan langsung hubungi Maybank Customer Care 24/7 untuk verifikasi.
Perbandingan Modus Penipuan Digital dan Cara Menghindarinya
| Modus Penipuan | Ciri-ciri | Cara Menghindari |
|---|---|---|
| Mengaku sebagai pihak resmi | Menggunakan data pribadi korban, berbicara dengan nada mendesak | Verifikasi langsung melalui saluran resmi bank |
| Mengirim tautan palsu | Tautan menyerupai situs resmi, meminta data sensitif | Hindari klik tautan dari sumber tidak dikenal |
| Mengirim file berisi malware | File APK, dokumen PDF mencurigakan | Hanya unduh dari sumber terpercaya |
| Share screen | Meminta akses layar ponsel | Matikan fitur share screen |
| Meminta biaya tambahan | Mengklaim ada biaya administrasi atau materai | Transfer hanya ke rekening resmi |
Pentingnya Edukasi dan Kewaspadaan
Kejahatan siber tidak hanya soal teknologi, tapi juga soal psikologi. Pelaku memanfaatkan rasa takut, panik, dan kepercayaan korban untuk mencapai tujuan mereka. Oleh karena itu, edukasi menjadi salah satu cara paling efektif untuk mencegah penipuan.
Masyarakat perlu dibekali pengetahuan tentang tanda-tanda penipuan. Mulai dari bahasa yang terlalu mendesak, hingga permintaan data rahasia yang tidak lazim. Semakin banyak orang yang sadar, semakin kecil ruang gerak pelaku kejahatan.
Tips Tambahan untuk Transaksi Aman
Selain langkah teknis, ada beberapa kebiasaan yang bisa dibentuk agar lebih aman saat bertransaksi digital.
- Gunakan autentikasi dua faktor (2FA) di semua akun penting.
- Hindari menggunakan Wi-Fi umum saat melakukan transaksi.
- Simpan nomor layanan pelanggan resmi di kontak ponsel.
- Jangan menyimpan PIN atau password di catatan ponsel.
- Gunakan aplikasi keamanan yang terpercaya.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan modus penipuan terbaru. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan memverifikasi informasi melalui sumber resmi. Maybank Indonesia tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat kelalaian pengguna dalam menjaga data pribadi.
Menjelang Lebaran, keamanan digital bukan pilihan, tapi keharusan. Dengan kewaspadaan dan pengetahuan yang cukup, setiap orang bisa melindungi diri dari ancaman siber yang semakin canggih.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.












