Rumor soal Sony yang mungkin tak akan merilis sejumlah game eksklusif PlayStation ke PC kembali mengemuka. Kabar ini mulai mencuat setelah laporan dari jurnalis ternama Jason Schreier yang menyebut bahwa mulai dari judul-judul tertentu ke depan, game eksklusif single-player tidak akan lagi dirilis di platform PC.
Salah satu game yang disebut sebagai titik awal dari kebijakan baru ini adalah Ghost of Yotei. Judul yang merupakan kelanjutan dari seri Ghost of Tsushima ini rencananya akan tetap eksklusif untuk PlayStation. Begitu juga dengan Saros, game terbaru dari studio Housemarque yang juga tidak akan dirilis ke PC.
Apa Sebenarnya yang Terjadi?
Sebenarnya, bukan hal baru jika game eksklusif PlayStation akhirnya dirilis juga di PC. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak judul populer seperti Horizon Zero Dawn, Days Gone, dan Marvel’s Spider-Man sudah bisa dinikmati di platform PC. Namun, kabar terbaru ini menunjukkan bahwa Sony mungkin akan mengubah strategi distribusi mereka.
Perubahan ini bukan berarti semua game PlayStation akan berhenti dirilis ke PC. Game dengan model live service atau multiplayer seperti Marvel Rivals, serta judul dari developer pihak kedua (2nd party) seperti Kojima Productions, masih akan dirilis ke PC.
1. Ghost of Yotei sebagai Titik Balik
Ghost of Yotei menjadi salah satu game yang menandai perubahan strategi Sony. Judul ini tidak akan dirilis ke PC, setidaknya dalam waktu dekat. Ini menjadi langkah pertama dalam kebijakan baru Sony untuk menjaga eksklusivitas game single-player mereka di konsol PlayStation.
Game ini akan menjadi kelanjutan dari kisah Jin Sakai dalam Ghost of Tsushima. Dengan latar tempat yang baru, yakni Hokkaido, Yotei menjanjikan pengalaman eksplorasi dan narasi yang lebih dalam.
2. Saros Juga Tak Akan Hadir di PC
Selain Ghost of Yotei, game terbaru dari Housemarque, Saros, juga tidak akan dirilis ke PC. Studio yang dikenal dengan Returnal ini tengah mengembangkan game baru yang konon mengusung genre action-adventure dengan elemen live service.
Sony memilih untuk tidak membawa Saros ke PC sebagai bagian dari strategi eksklusivitas. Meski begitu, game ini tetap akan menjadi bagian dari ekosistem PlayStation dan bisa dinikmati di konsol.
Alasan di Balik Kebijakan Baru Sony
Ada beberapa faktor yang mendorong Sony untuk menghentikan rilis eksklusif single-player ke PC. Salah satunya adalah performa penjualan yang kurang memuaskan dari beberapa judul sebelumnya. Meskipun belum ada data resmi, banyak pihak berspekulasi bahwa angka penjualan di PC tidak sebanding dengan upaya porting dan lisensi yang dikeluarkan.
Selain itu, Sony juga ingin memperkuat nilai jual konsol PlayStation. Dengan menjaga beberapa game tetap eksklusif, mereka berharap lebih banyak pengguna akan membeli konsol untuk menikmati pengalaman penuh dari game-game tersebut.
Game yang Tetap Dirilis ke PC
Meski ada perubahan strategi, bukan berarti semua game PlayStation akan eksklusif permanen. Beberapa judul besar tetap akan dirilis ke PC, terutama yang memiliki model live service atau multiplayer.
Berikut adalah daftar game yang masih akan dirilis ke PC:
| Judul Game | Status PC | Keterangan |
|---|---|---|
| Marvel Rivals | Dirilis | Game multiplayer dengan elemen live service |
| Death Stranding 2 | Dirilis | Game dari Kojima Productions |
| Kena: Scars of Kosmora | Dirilis | Game dari Ember Lab |
| Marathon | Dirilis | Game dari Bungie, eksklusif awal, lalu PC |
3. Fokus pada Game Live Service dan Multiplayer
Sony sepertinya mulai menggeser fokus mereka ke game yang bisa terus menghasilkan pendapatan, seperti model live service. Game seperti Marvel Rivals dan Saros menunjukkan bahwa Sony ingin mengembangkan ekosistem yang lebih luas, bukan hanya menjual game sekali beli.
Model ini memungkinkan pendapatan berkelanjutan melalui konten tambahan, skin, dan fitur lainnya. Hal ini juga lebih cocok untuk platform PC yang memiliki basis pengguna aktif dalam jangka panjang.
4. Strategi Jangka Panjang untuk Konsol
Dengan menjaga eksklusivitas game single-player, Sony berharap bisa mempertahankan daya tarik konsol PlayStation. Ini terutama penting mengingat persaingan ketat dengan Xbox, yang sudah lebih dulu mengadopsi strategi hybrid antara konsol dan PC.
Sony juga ingin membangun loyalitas yang lebih kuat di kalangan pemain konsol. Dengan memberikan pengalaman eksklusif, mereka berharap pengguna akan lebih enggan untuk beralih ke platform lain.
Apa Kata Fans?
Reaksi dari komunitas gamer pun beragam. Ada yang mendukung langkah Sony karena ingin menjaga nilai eksklusivitas, tapi ada juga yang merasa kecewa karena tidak bisa menikmati game-game tersebut di PC.
Beberapa fans berpendapat bahwa ini adalah langkah mundur, terutama bagi mereka yang tidak memiliki konsol namun ingin menikmati game eksklusif PlayStation. Namun, ada juga yang memahami bahwa ini adalah bagian dari strategi bisnis yang wajar.
5. Tidak Semua Game Akan Eksklusif Selamanya
Meski saat ini beberapa game tidak akan dirilis ke PC, bukan berarti status eksklusif mereka akan permanen. Dalam beberapa tahun ke depan, Sony bisa saja mengubah kebijakan dan membawa game-game tersebut ke PC.
Banyak game yang dulunya eksklusif konsol akhirnya dirilis ke PC setelah beberapa tahun. Contoh nyata adalah seri Uncharted dan The Last of Us yang akhirnya hadir di PC meski sempat eksklusif PlayStation.
Penutup
Perubahan strategi Sony dalam merilis game eksklusif ke PC memang menimbulkan banyak pertanyaan. Tapi, langkah ini tampaknya merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ekosistem PlayStation dan menjaga daya tarik konsol mereka.
Bagi penggemar game eksklusif, mungkin ini saat yang tepat untuk mempertimbangkan memiliki konsol PlayStation. Tapi bagi pengguna PC, masih banyak judul lain yang akan tetap bisa dinikmati di platform tersebut.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersumber dari laporan jurnalis dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh Sony. Kebijakan bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan strategi perusahaan.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













