Angka TWP90 fintech lending yang mencapai 4,38% pada Januari 2026 memunculkan perhatian serius dari pelaku industri. Meski masih berada di bawah ambang batas maksimal 5% yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), lonjakan dari posisi sebelumnya yang hanya 2,52% pada Januari 2025 menunjukkan adanya tekanan pada sistem pinjaman daring. Kenaikan ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kasus fraud yang menimpa salah satu platform besar seperti PT Dana Syariah Indonesia (DSI).
Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mencatat bahwa kenaikan TWP90 ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan kredit macet yang bersifat tidak wajar. Ketua Umum AFPI, Entjik Djafar, menyebut bahwa fraud menjadi penyebab utama lonjakan tersebut. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu platform, tetapi juga memengaruhi performa industri secara keseluruhan.
Penyebab Kenaikan TWP90 Fintech Lending
-
Fraud di Platform Penyelenggara
Kasus di PT Dana Syariah Indonesia menjadi salah satu faktor utama. Penyalahgunaan sistem dan manipulasi data oleh pihak tidak bertanggung jawab menyebabkan sejumlah pinjaman bermasalah yang sulit ditagih. -
Kurangnya Pengawasan Internal
Beberapa platform belum menerapkan kontrol kredit yang cukup ketat, terutama dalam proses verifikasi calon peminjam. Ini membuka celah bagi oknum untuk memanipulasi data dan mengajukan pinjaman secara tidak benar. -
Peningkatan Volume Pembiayaan
Industri fintech lending terus tumbuh pesat. Pada Januari 2026, outstanding pembiayaan mencapai Rp 98,54 triliun, naik 25,52% secara tahunan. Semakin banyak transaksi, semakin besar potensi risiko yang muncul, terutama jika sistem manajemen risiko tidak seimbang dengan pertumbuhan tersebut.
Dampak Kenaikan TWP90 terhadap Industri
Lonjakan TWP90 bukan hanya soal angka. Ini juga menjadi cerminan tantangan yang dihadapi industri fintech lending dalam menjaga kesehatan sistem keuangan. Jika dibiarkan terus meningkat, ada risiko regulasi yang semakin ketat dari OJK, yang bisa membatasi ruang gerak operasional platform.
Namun, AFPI menegaskan bahwa upaya untuk menekan TWP90 terus digenjot. Salah satunya melalui penguatan kontrol kredit dan pendekatan yang lebih prudent dalam menyalurkan pendanaan. Platform juga didorong untuk meningkatkan sistem anti-fraud dan kolaborasi dengan lembaga penegak hukum.
Langkah Strategis Menekan TWP90
-
Peningkatan Sistem Verifikasi dan Validasi Data
Platform perlu menggunakan teknologi canggih seperti AI dan big data untuk memverifikasi identitas peminjam secara lebih akurat. Ini membantu mencegah manipulasi data sejak tahap awal. -
Kolaborasi dengan Otoritas dan Lembaga Hukum
Kasus fraud tidak bisa ditangani sendiri oleh platform. Kolaborasi dengan Bareskrim dan OJK menjadi kunci untuk menindak tindakan pidana di dunia digital. -
Evaluasi dan Audit Internal Berkala
Setiap platform wajib melakukan audit internal secara rutin untuk memastikan sistem dan prosedur yang diterapkan sudah sesuai dengan standar industri dan regulasi yang berlaku. -
Edukasi dan Literasi Keuangan bagi Pengguna
Banyak peminjam yang tidak memahami konsekuensi dari pinjaman daring. Edukasi keuangan bisa membantu mencegah over-indebtedness dan meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab pinjaman.
Perbandingan TWP90 Fintech Lending dalam Tiga Tahun Terakhir
| Tahun | TWP90 (%) | Keterangan |
|---|---|---|
| Januari 2024 | 2,10% | Stabil dan masih rendah |
| Januari 2025 | 2,52% | Mulai naik perlahan |
| Januari 2026 | 4,38% | Lonjakan signifikan, mendekati 5% |
Catatan: Data bersifat agregat dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan laporan resmi OJK.
Tantangan Ke Depan
Meski industri fintech lending terus berkembang, tantangan terkait manajemen risiko tetap menjadi sorotan utama. Lonjakan TWP90 menjadi pengingat bahwa pertumbuhan harus diimbangi dengan tata kelola yang sehat. OJK pun terus mendorong agar penyelenggara tidak hanya fokus pada pertumbuhan transaksi, tetapi juga pada kualitas portofolio pinjaman.
Selain itu, semakin ketatnya pengawasan global terhadap fintech juga membuat industri di Tanah Air harus siap dengan standar internasional. Ini termasuk dalam hal transparansi data, perlindungan konsumen, dan mitigasi risiko keamanan siber.
Kesimpulan
Lonjakan TWP90 fintech lending menjadi sinyal penting bagi seluruh stakeholder. Ini bukan berarti industri sedang mengalami krisis, tetapi lebih pada perlunya evaluasi dan penyesuaian sistem agar tetap berjalan berkelanjutan. AFPI dan para pelaku industri terus berupaya menjaga stabilitas, sambil tetap memungkinkan akses keuangan yang inklusif bagi masyarakat.
Disclaimer: Data dan angka yang disajikan bersifat informasional dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan laporan resmi dari OJK dan AFPI.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













