Harga emas dunia sempat naik tinggi di tengah ketegangan geopolitik yang melanda Timur Tengah. Namun, tekanan dari dolar AS yang menguat membuat logam mulia ini terkoreksi cukup dalam dalam sehari. Meski begitu, permintaan emas sebagai aset safe-haven tetap tinggi di kalangan investor global.
Pergerakan harga emas pada Selasa, 3 Maret 2026, mencerminkan dinamika pasar yang sangat sensitif terhadap isu geopolitik dan kekuatan mata uang dominan dunia. Investor yang semula berlarian ke emas mulai mengambil keuntungan seiring penguatan dolar, yang membuat emas lebih mahal bagi pembeli dari negara lain.
Emas Terpuruk, tapi Tetap Diburu Investor
Harga emas spot sempat menyentuh level tertinggi USD5.380,08 per ons sebelum akhirnya terperosok 3,9 persen menjadi USD5.115,15 per ons. Kontrak berjangka emas juga turun 3,6 persen, mencatatkan penurunan terbesar dalam beberapa sesi terakhir. Meski demikian, minat terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai tidak surut.
Konflik bersenjata antara Iran, Israel, dan keterlibatan AS menciptakan ketidakpastian global. Serangan besar-besaran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei memicu reaksi keras dari Teheran dan meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut. Situasi ini memperkuat daya tarik emas sebagai aset aman.
Namun, penguatan dolar AS yang terjadi bersamaan justru menahan laju kenaikan emas. Dolar yang kuat membuat emas lebih mahal bagi investor non-AS, sehingga membatasi permintaan global. Meski demikian, permintaan lokal dan belanja investor institusional tetap tinggi.
1. Pemicu Utama Penurunan Harga Emas
- Penguatan Dolar AS: Dolar menguat tajam akibat optimisme terhadap ekonomi AS dan langkah-langkah kebijakan yang menarik investor asing.
- Ambil Untung Investor: Banyak investor yang menjual emas setelah kenaikan sebelumnya, memicu koreksi tajam dalam sehari.
- Kekhawatiran Pasokan Minyak: Ketegangan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi, tapi tidak cukup untuk menahan laju penurunan emas.
2. Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Pasar Emas
- Lonjakan Permintaan Awal: Investor langsung berbondong-bondong membeli emas sebagai lindung nilai saat konflik meletus.
- Koreksi Setelah Serangan Militer: Setelah operasi militer AS-Israel di Iran, investor mulai mengambil keuntungan, mendorong harga emas turun.
- Ketidakpastian Jangka Panjang: Meski harga turun sementara, ketegangan yang berkepanjangan bisa memicu kenaikan kembali di masa depan.
Logam Mulia Lainnya Ikut Terpuruk
Bukan hanya emas, logam mulia lain juga ikut terkena imbas penurunan sentimen pasar. Perak dan platinum mengalami koreksi yang lebih dalam dibandingkan emas. Perak, yang dikenal lebih volatil, turun 6,8 persen menjadi USD83,1940 per ons. Platinum juga anjlok 9,1 persen, mencatatkan penurunan terbesarnya dalam waktu lama.
Platinum yang biasanya digunakan dalam industri otomotif dan perhiasan, mengalami tekanan besar karena permintaan industri yang masih lesu. Sementara perak, meski volatil, tetap menjadi pilihan alternatif investor dalam jangka pendek.
3. Perbandingan Harga Logam Mulia (Per Ons)
| Logam | Harga Sebelumnya | Harga Sekarang | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Emas | USD5.380,08 | USD5.115,15 | -3,9% |
| Perak | USD89,23 | USD83,1940 | -6,8% |
| Platinum | USD2.314,50 | USD2.103,75 | -9,1% |
Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun semua logam mengalami penurunan, platinum adalah yang paling terpukul. Ini menunjukkan bahwa investor lebih memilih emas sebagai safe-haven utama dibandingkan logam lainnya.
Sentimen Jangka Panjang Tetap Positif
Meski mengalami koreksi jangka pendek, emas tetap berada dalam tren kenaikan jangka panjang. Faktor struktural seperti ekspansi utang global, pembelian masal oleh bank sentral, dan tren de-dolarisasi memberikan dukungan kuat bagi emas.
Max Baecker, Presiden American Hartford Gold, menyatakan bahwa jika ketegangan geopolitik berlarut, harga emas bisa mencapai USD5.450 dalam waktu singkat. Namun, jika situasi membaik, konsolidasi di kisaran USD5.250 hingga USD5.300 masih wajar.
4. Faktor Makro yang Mendukung Harga Emas
- Ekspansi Utang Global: Negara-negara besar terus mencetak utang, meningkatkan daya tarik emas sebagai alternatif.
- Pembelian Bank Sentral: Banyak bank sentral di negara berkembang terus menambah cadangan emas.
- De-dolarisasi Bertahap: Pergerakan beberapa negara untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS mendukung permintaan emas.
Tembaga Juga Tertekan
Selain logam mulia, tembaga juga ikut terpuruk. Kontrak berjangka tembaga di London Metal Exchange turun 1,8 persen menjadi USD13.108,00 per ton. Sementara kontrak tembaga AS anjlok 1,6 persen ke level USD5,8568 per pon.
Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan global akibat ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi. Investor cenderung menjauhkan diri dari aset yang sensitif terhadap siklus ekonomi seperti tembaga.
Kesimpulan
Harga emas dunia memang sempat terkoreksi tajam dalam sehari, terutama karena penguatan dolar dan aksi ambil untung investor. Namun, permintaan terhadap emas sebagai aset safe-haven tetap tinggi, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang belum usai.
Meskipun logam lain seperti perak dan platinum ikut terpuruk, emas tetap menjadi pilihan utama investor dalam menghadapi ketidakpastian. Dengan faktor makro yang mendukung, emas masih punya potensi untuk naik kembali dalam jangka menengah hingga panjang.
Disclaimer: Data harga dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan ekonomi global. Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan bukan sebagai saran investasi.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













