Perbankan

Total Pinjaman Masyarakat Melalui Layanan Paylater Tembus Rp27,1 Triliun pada Awal 2026

Fadhly Ramadan
×

Total Pinjaman Masyarakat Melalui Layanan Paylater Tembus Rp27,1 Triliun pada Awal 2026

Sebarkan artikel ini
Total Pinjaman Masyarakat Melalui Layanan Paylater Tembus Rp27,1 Triliun pada Awal 2026

pinjaman instan lewat layanan buy now pay later (BNPL) dari bank terus menunjukkan tren positif di awal tahun 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total baki debet BNPL per Januari 2026 mencapai Rp27,1 triliun. Angka ini naik 20,15% secara tahunan (year-on-year/YoY), mengungguli pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 19,32% YoY.

Jumlah rekening aktif BNPL juga terus bertambah. Per Januari 2026, tercatat ada 31,23 juta rekening, naik tipis dari 31,21 juta rekening di bulan sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa layanan pinjaman instan semakin menjadi pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Pertumbuhan Kredit Perbankan dan Komposisinya

Kredit perbankan secara keseluruhan juga mengalami peningkatan di awal tahun ini. Pada Januari 2026, total kredit tumbuh 9,96% YoY, naik dari 9,63% YoY pada Desember 2025. Angka ini menunjukkan bahwa sektor perbankan masih menunjukkan performa yang cukup meski menghadapi berbagai tantangan makroekonomi.

1. Jenis Kredit Berdasarkan Penggunaan

Dari sisi jenis penggunaan, kredit menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit. Kredit ini naik 22,38% YoY. Di bawahnya, kredit konsumsi tumbuh 6,58% YoY, sedangkan kredit modal tumbuh lebih rendah, yakni 4,13% YoY.

2. Kategori Debitur

Sementara itu, dari sisi debitur, kredit korporasi tumbuh cukup signifikan sebesar 16,07% YoY. Kredit yang disalurkan oleh juga mengalami peningkatan, yakni 13,43% YoY. Ini menunjukkan bahwa baik pelaku usaha besar maupun institusi negara mulai kembali aktif dalam mengakses fasilitas kredit.

Pendanaan dan Likuiditas Perbankan

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) terus menunjukkan pertumbuhan positif. Per Januari 2026, DPK mencapai Rp10.076 triliun, naik 13,48% YoY. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan giro sebesar 19,75%, deposito 12,61%, dan tabungan 8,27%.

Likuiditas perbankan secara keseluruhan masih dalam kondisi yang sehat. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) berada di level 121,23%, jauh di atas ambang batas 50%. Sementara itu, rasio AL terhadap DPK mencapai 27,54%, juga jauh melebihi batas minimum 10%. Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat pada level 197,92%, menunjukkan bahwa bank memiliki cadangan likuid yang memadai untuk menghadapi tekanan jangka pendek.

Risiko Kredit dan Kualitas Aset

Meski pertumbuhan kredit menunjukkan tren positif, risiko kredit juga mengalami peningkatan tipis. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross naik dari 2,05% pada Desember 2025 menjadi 2,14% per Januari 2026. NPL net berada di level 0,82%, sedangkan Loan at Risk (LaR) mencapai 9,01%.

Namun, peningkatan ini masih dalam batas wajar dan belum mengindikasikan krisis. Bank-bank terus memperketat pengawasan kredit dan memperbaiki sistem penilaian risiko agar tetap menjaga kualitas aset.

Profitabilitas dan Permodalan Bank

Profitabilitas sektor perbankan sedikit tertekan di awal tahun ini. Return on Assets (ROA) turun dari 2,53% menjadi 2,49%. Penurunan ini bisa jadi dampak dari peningkatan biaya operasional serta tekanan margin bunga yang masih terjadi.

Namun, permodalan bank tetap solid. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 25,87%, jauh di atas batas minimum 8% yang ditetapkan. Angka ini memberikan buffer yang cukup besar bagi bank untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Tabel Ringkasan Data Perbankan Januari 2026

Indikator Nilai Januari 2026 Pertumbuhan YoY
Baki Debet BNPL Rp27,1 triliun 20,15%
Jumlah Rekening BNPL 31,23 juta Naik tipis
Pertumbuhan Kredit Umum 9,96%
Kredit Investasi 22,38%
Kredit Konsumsi 6,58%
Kredit Modal Kerja 4,13%
DPK Rp10.076 triliun 13,48%
AL/NCD 121,23%
AL/DPK 27,54%
LCR 197,92%
NPL Gross 2,14% Naik dari 2,05%
ROA 2,49% Turun dari 2,53%
CAR 25,87%

Faktor Pendorong dan Tantangan di Balik Pertumbuhan BNPL

1. Adopsi Digital yang Semakin Luas

Peningkatan penggunaan BNPL tidak lepas dari percepatan adopsi layanan digital di kalangan masyarakat. Banyak bank kini menyediakan layanan pinjaman instan yang bisa diakses lewat aplikasi mobile, membuat proses pengajuan menjadi lebih mudah dan cepat.

2. Preferensi Konsumen yang Berubah

Generasi milenial dan Gen Z cenderung lebih nyaman dengan transaksi digital dan sistem cicilan instan. Hal ini membuat layanan BNPL menjadi pilihan utama saat berbelanja secara online.

3. Persaingan Ketat di Sektor Fintech dan Multifinance

Meski pertumbuhan BNPL perbankan positif, dengan layanan sejenis dari fintech dan perusahaan multifinance tetap menjadi tantangan. Banyak pelaku usaha menawarkan limit pinjaman lebih tinggi dan proses yang lebih cepat.

Tips Menggunakan Layanan BNPL dengan Bijak

1. Pahami Syarat dan Ketentuan

Sebelum menggunakan layanan BNPL, penting untuk membaca dan ketentuan dengan teliti. Termasuk bunga, denda keterlambatan, dan biaya tambahan lainnya.

2. Batasi Penggunaan

Gunakan BNPL hanya untuk kebutuhan yang benar-benar penting. Hindari penggunaan secara berlebihan yang bisa memicu penumpukan utang.

3. Bayar Tepat Waktu

Pastikan pembayaran cicilan dilakukan tepat waktu untuk menghindari denda dan dampak negatif pada riwayat kredit.

Disclaimer

yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Januari 2026. Angka-angka yang ditampilkan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kondisi makroekonomi dan regulator. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi untuk informasi terkini.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.