Perbankan Indonesia kembali menunjukkan performa solid di akhir tahun 2025. Total aset perbankan nasional mencatatkan pertumbuhan yang cukup signifikan, mencerminkan optimisme sektor keuangan meski di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Dari data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset perbankan pada kuartal IV/2025 mencapai Rp13.646,41 triliun, naik 9,51% secara tahunan dibanding periode yang sama di 2024.
Peningkatan ini sebagian besar didorong oleh pertumbuhan aset pada bank-bank besar, terutama yang masuk dalam Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3 dan KBMI 4. Sementara itu, KBMI 1 dan KBMI 2 justru mencatatkan kontraksi. Dalam sistem pengelompokan OJK, KBMI 3 mencakup bank dengan modal inti antara Rp14 triliun hingga Rp70 triliun, dan KBMI 4 untuk yang lebih dari Rp70 triliun. Keduanya menjadi lokomotif pertumbuhan aset perbankan nasional.
10 Bank dengan Aset Terbesar di Indonesia 2025
Bank-bank besar terus memperkuat posisinya dalam peta perbankan nasional. Dari sisi total aset, Bank Mandiri kembali memimpin, diikuti oleh BRI, BCA, dan BNI yang mencatatkan pertumbuhan aset paling tinggi. Berikut daftar lengkap 10 bank terbesar berdasarkan aset hingga akhir 2025.
1. Bank Mandiri (BMRI)
Bank Mandiri tetap kokoh di posisi teratas dengan total aset mencapai Rp2.829,94 triliun. Pertumbuhan aset bank pelat merah ini mencatatkan kenaikan 16,59% YoY dari posisi Rp2.427,22 triliun di 2024. Peningkatan ini didukung oleh kredit yang tumbuh 13,97% menjadi Rp1.849,96 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang melonjak 23,95% menjadi Rp2.105,76 triliun.
2. BRI (BBRI)
Bank Rakyat Indonesia (BRI) menempati posisi kedua dengan total aset Rp2.135,37 triliun. Meski pertumbuhan asetnya sebesar 7,19% YoY tergolong moderat, BRI tetap menunjukkan konsistensi dalam penyaluran kredit yang naik 12,51% menjadi Rp1.460,72 triliun. DPK BRI juga tumbuh 7,43% menjadi Rp1.466,84 triliun.
3. BCA (BBCA)
Bank Central Asia (BCA) berada di posisi ketiga dengan aset Rp1.586,82 triliun. Bank swasta terbesar ini mencatatkan pertumbuhan aset 9,49% YoY. Laba bersihnya juga naik 4,94% menjadi Rp57,56 triliun. DPK BCA tumbuh 10,18% menjadi Rp1.249,04 triliun, menunjukkan daya tarik yang kuat di kalangan nasabah ritel dan korporasi.
4. BNI (BBNI)
Bank Negara Indonesia (BNI) melonjak ke posisi keempat dengan total aset Rp1.362,05 triliun. Pertumbuhan aset BNI mencapai 20,52% YoY, menjadi yang tertinggi di antara 10 besar. Kredit yang disalurkan naik 15,94% menjadi Rp899,53 triliun, sementara DPK melonjak 29,21% menjadi Rp1.040,83 triliun. Meski laba bersihnya turun 7,19%, ekspansi BNI terbukti agresif dan strategis.
5. BTN (BBTN)
Bank Tabungan Negara (BTN) menempati posisi kelima dengan aset Rp527,79 triliun. Aset BTN tumbuh 12,39% YoY, didukung oleh kredit yang naik 10,07% menjadi Rp345,70 triliun. DPK bank yang fokus pada pembiayaan perumahan ini juga tumbuh 12,77% menjadi Rp430,39 triliun. Laba bersih BTN naik 16,42% menjadi Rp3,50 triliun.
6. BSI (BRIS)
Bank Syariah Indonesia (BSI) berada di urutan keenam dengan aset Rp456,19 triliun. Bank syariah terbesar ini mencatatkan pertumbuhan aset 11,64% YoY. Pembiayaan yang disalurkan naik 26,16% menjadi Rp147,76 triliun. DPK BSI juga tumbuh 14,37% menjadi Rp289,38 triliun. Laba bersihnya naik 8,02% menjadi Rp7,56 triliun.
7. CIMB Niaga (BNGA)
Bank CIMB Niaga menempati posisi ketujuh dengan aset Rp372,69 triliun. Pertumbuhan aset bank ini sebesar 3,46% YoY. Meski pertumbuhannya tidak terlalu tinggi, CIMB Niaga tetap stabil dengan laba bersih naik tipis 0,53% menjadi Rp6,93 triliun. Kredit tumbuh 8,87% menjadi Rp182,58 triliun dan DPK naik 3,79% menjadi Rp270,52 triliun.
8. OCBC NISP (NISP)
OCBC NISP berada di posisi kedelapan dengan total aset Rp308,14 triliun. Bank ini mencatatkan pertumbuhan aset 9,66% YoY. Laba bersihnya naik 3,92% menjadi Rp5,05 triliun. DPK OCBC NISP melonjak 18,25% menjadi Rp243,51 triliun, menunjukkan daya tarik yang kuat di segmen ritel.
9. Bank Danamon (BDMN)
Bank Danamon menempati posisi kesembilan dengan aset Rp275,71 triliun. Pertumbuhan asetnya mencapai 11,19% YoY. Kredit yang disalurkan naik 10,21% menjadi Rp159,28 triliun. DPK bank ini juga tumbuh 15,76% menjadi Rp174,17 triliun. Laba bersihnya naik 13,51% menjadi Rp4,19 triliun.
10. Permata Bank (BNLI)
Permata Bank menutup daftar 10 besar dengan total aset Rp268,34 triliun. Pertumbuhan aset bank ini sebesar 3,58% YoY. Kredit tumbuh 8,37% menjadi Rp139,48 triliun dan DPK naik 3,93% menjadi Rp192,81 triliun. Laba bersihnya naik tipis 0,59% menjadi Rp3,58 triliun.
Perbandingan Aset Bank Terbesar di Indonesia 2024–2025
| Bank | Aset 2024 (Triliun) | Aset 2025 (Triliun) | % (YoY) |
|---|---|---|---|
| Bank Mandiri | Rp2.427,22 | Rp2.829,94 | 16,59% |
| BRI | Rp1.992,18 | Rp2.135,37 | 7,19% |
| BCA | Rp1.449,30 | Rp1.586,82 | 9,49% |
| BNI | Rp1.130,12 | Rp1.362,05 | 20,52% |
| BTN | Rp469,61 | Rp527,79 | 12,39% |
| BSI | Rp408,61 | Rp456,19 | 11,64% |
| CIMB Niaga | Rp360,22 | Rp372,69 | 3,46% |
| OCBC NISP | Rp281,00 | Rp308,14 | 9,66% |
| Bank Danamon | Rp247,96 | Rp275,71 | 11,19% |
| Permata Bank | Rp259,06 | Rp268,34 | 3,58% |
Faktor Pendorong Pertumbuhan Aset
Pertumbuhan aset bank-bank besar ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor utama yang mendorong kenaikan tersebut, terutama dari sisi kredit produktif dan penghimpunan dana. BNI, misalnya, mencatatkan pertumbuhan tertinggi karena ekspansi kredit yang agresif di sektor produktif dan peningkatan DPK yang signifikan.
Menurut Trioksa Siahaan, Senior Vice President LPPI, pertumbuhan aset bank umum masih akan berlanjut di tahun-tahun mendatang. Meski tantangan global seperti volatilitas harga minyak dan potensi inflasi masih menjadi sorotan, sektor pangan dan infrastruktur masih menjadi pendorong utama.
Disclaimer
Data dalam artikel ini bersumber dari Statistik Perbankan Indonesia OJK hingga kuartal IV/2025. Angka dan persentase dapat berubah seiring waktu dan kebijakan yang dikeluarkan oleh regulator terkait. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi untuk informasi terbaru.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













