Ilustrasi ketegangan geopolitik kembali mengguncang pasar keuangan global. Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah langsung berdampak pada nilai tukar rupiah. Pada penutupan perdagangan Senin sore, rupiah melemah 81 poin menjadi Rp16.868 per USD. Penurunan ini setara dengan 0,48 persen dari posisi sebelumnya di Rp16.787 per USD.
Tak hanya itu, kurs JISDOR yang dikeluarkan Bank Indonesia juga ikut tergerus, naik ke level Rp16.848 per USD dari sebelumnya Rp16.779 per USD. Pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif investor akibat ketidakpastian global yang dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan yang kaya akan sumber daya energi.
Dampak Geopolitik terhadap Stabilitas Rupiah
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak datang begitu saja. Ada faktor eksternal besar yang memicu gejolak pasar, yaitu ketegangan di Selat Hormuz. Titik ini menjadi jalur krusial bagi distribusi minyak dan gas global. Ketika situasi memanas, aktivitas pelayaran dan logistik terganggu, dan biaya angkut serta asuransi ikut naik.
-
Gangguan Jalur Pengiriman Energi
- Selat Hormuz adalah jalur sempit yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak global.
- Ketika konflik meningkat, perusahaan pelayaran besar cenderung menghindari kawasan ini.
- Pengapalan minyak dan gas alam cair pun terhambat, bahkan sempat ditangguhkan di pelabuhan utama.
-
Lonjakan Harga Minyak Mentah
- Kenaikan biaya logistik dan pengalihan rute pengiriman langsung berdampak pada harga energi global.
- Acuan minyak mentah sempat naik hingga 13 persen atau sekitar USD82 per barel.
- Saat ini harga berada di kisaran USD76,4 per barel, tetapi potensi lonjakan ke atas USD100 tetap mengintai.
| Komponen | Sebelum Eskalasi | Setelah Eskalasi |
|---|---|---|
| Harga Minyak Mentah Brent | USD70 per barel | USD76,4 – USD82 per barel |
| Biaya Sewa Tanker | USD100 ribu/hari | Mendekati USD300 ribu/hari |
| Rupiah terhadap USD | Rp16.787 | Rp16.868 |
| JISDOR | Rp16.779 | Rp16.848 |
Dampak pada Pasar Keuangan dan Sentimen Investor
Perang bukan hanya soal pertempuran fisik. Di balik layar, ada perang pasar yang memengaruhi arus dana global. Investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen aman seperti obligasi pemerintah AS. Akibatnya, dolar AS menguat dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin besar.
- Dolar AS menguat karena permintaan investor meningkat.
- Imbal hasil obligasi negara berkembang naik karena risiko yang lebih tinggi.
- Arus modal asing menjadi lebih selektif, memperlebar premi risiko.
Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia
Sebagai negara pengimpor bersih minyak, Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Lonjakan harga minyak mentah langsung berdampak pada biaya impor energi, yang pada gilirannya memperburuk neraca perdagangan migas. Rupiah pun tertekan, dan tekanan inflasi semakin terasa.
-
Inflasi dan Daya Beli Masyarakat
- Harga bahan bakar naik, berimbas pada biaya transportasi dan barang-barang lainnya.
- Inflasi terdorong naik, dan daya beli masyarakat berpotensi melemah.
-
Tekanan pada APBN
- Setiap kenaikan USD1 pada harga minyak mentah dapat menambah belanja subsidi energi sekitar Rp10 triliun.
- Penerimaan negara hanya naik sekitar Rp3 triliun, sehingga defisit anggaran berpotensi melebar.
-
Kebijakan Fiskal dan Moneter
- Pemerintah dihadapkan pada dilema: menahan harga BBM atau menyesuaikannya.
- Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas nilai tukar dan pasokan valas.
- Kebijakan moneter dan fiskal harus seimbang untuk mengurangi dampak negatif.
Strategi Mitigasi yang Perlu Diperhatikan
Menghadapi situasi ini, mitigasi menjadi kunci agar guncangan eksternal tidak berubah menjadi perlambatan ekonomi yang lebih dalam. Ruang fiskal yang tersisa dan jaring pengaman sosial harus dimanfaatkan secara strategis.
-
Penguatan Pasokan Devisa
- Mendorong ekspor untuk menambah pasokan valas.
- Menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar jika diperlukan.
-
Bantuan Terarah
- Memberikan bantuan langsung kepada kelompok rentan agar daya beli tidak tergerus.
- Menjaga stabilitas konsumsi domestik agar tidak terjadi perlambatan ekonomi.
-
Kesiapan Anggaran
- Menyiapkan cadangan anggaran untuk menghadapi lonjakan subsidi energi.
- Menghindari defisit yang terlalu besar yang bisa memicu ketidakstabilan makro.
Kesimpulan
Perang AS-Iran bukan sekadar kisah politik internasional. Dampaknya menyebar ke berbagai sektor, termasuk nilai tukar rupiah dan harga energi global. Indonesia sebagai negara pengimpor energi harus waspada dan siap menghadapi berbagai risiko yang muncul. Kebijakan yang tepat, baik di sisi fiskal maupun moneter, menjadi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam kondisi yang penuh ketidakpastian ini.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan kondisi hingga Maret 2026. Perubahan situasi geopolitik, harga komoditas, dan kebijakan moneter dapat memengaruhi angka aktual di masa depan.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













