Perbankan

Pertumbuhan Kredit Perbankan Masih Lambat, BI Berharap Capai Target Lebih Tinggi Pada 2026

Retno Ayuningrum
×

Pertumbuhan Kredit Perbankan Masih Lambat, BI Berharap Capai Target Lebih Tinggi Pada 2026

Sebarkan artikel ini
Pertumbuhan Kredit Perbankan Masih Lambat, BI Berharap Capai Target Lebih Tinggi Pada 2026

Pertumbuhan di 2025 memang masih terasa tersendat. Meski begitu, Bank Indonesia (BI) tetap optimistis dan menargetkan kredit perbankan bakal tumbuh lebih tinggi di tahun . Target ini muncul sebagai respons terhadap kondisi output gap dan credit gap yang masih berada di zona negatif. Artinya, perekonomian belum tumbuh maksimal sesuai potensinya.

Solikin M Juhro, Asisten Gubernur BI, menjelaskan bahwa ketidakpastian global masih menjadi besar. Dampak kebijakan perdagangan internasional dan gejolak di global terus memberi tekanan pada ekonomi domestik. Namun, Indonesia tetap bisa mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1 persen di tahun lalu. itu, pertumbuhan kredit berada di kisaran 8 hingga 11 persen, masih dalam target BI.


Target Kredit Lebih Tinggi di 2026

BI menargetkan pertumbuhan kredit di tahun ini antara 8 hingga 12 persen. Angka ini lebih tinggi dari realisasi sebelumnya, menunjukkan bahwa bank sentral ingin mendorong agar ekonomi bisa kembali ke jalur pertumbuhan yang lebih sehat. Langkah ini penting karena output gap dan credit gap masih negatif, yang berarti ekonomi belum berjalan maksimal.

1. Output Gap dan Credit Gap Masih Negatif

Output gap menggambarkan selisih antara pertumbuhan ekonomi aktual dan potensial. Jika nilainya negatif, artinya ekonomi belum tumbuh sesuai kemampuannya. Begitu juga dengan credit gap, yang menunjukkan apakah penyaluran kredit sudah optimal atau belum. Keduanya masih di bawah potensi, jadi BI ingin mendorong pembiayaan melalui sektor perbankan.

2. Kebijakan Makroprudensial Tetap Pro-Growth

Kebijakan makroprudensial yang diambil BI tidak hanya soal likuiditas, tapi juga bagaimana likuiditas itu bisa mendorong pertumbuhan. BI tetap menjaga stabilitas sistem keuangan, tapi juga memastikan bahwa bank bisa menyalurkan kredit lebih banyak ke sektor produktif.


Ruang Penyaluran Kredit Masih Terbuka

Dari sisi suplai, BI menilai kapasitas perbankan untuk menyalurkan kredit masih cukup besar. Indeks Lending Requirement (ILR) menunjukkan bahwa perbankan belum mencapai batas maksimal penyaluran. Ditambah lagi, suku bunga pendanaan dan kredit mulai turun, meski transmisi ke masyarakat masih perlu diperkuat.

3. Likuiditas Didorong, Stabilitas Tetap Dijaga

BI menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas dan stabilitas. Salah satunya adalah Makroprudensial (KLM). Berbeda dengan Giro Wajib Minimum (GWM) yang bersifat kewajiban, KLM memberikan insentif likuiditas berbasis kinerja.

4. Insentif KLM untuk Sektor Produktif

Insentif dari KLM hanya diberikan kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor produktif dan . Ini sejalan dengan program pemerintah yang ingin mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi. Jika realisasi kredit di bawah target, maka insentif bisa disesuaikan.


Tantangan di Sisi Permintaan Kredit

Meski sisi suplai sudah siap, tantangan utama datang dari sisi permintaan. Solikin mengakui bahwa permintaan kredit belum pulih sepenuhnya. Banyak perusahaan masih menggunakan dana internal, dan sikap menunggu masih tinggi di kalangan pelaku usaha.

5. Tingginya Undisbursed Loan Korporasi

Undisbursed loan atau yang sudah disetujui tapi belum dicairkan masih tinggi di kalangan korporasi. Ini menunjukkan bahwa meskipun bank siap menyalurkan kredit, pelaku usaha belum sepenuhnya memanfaatkannya.

6. Perlu Membangun Kepercayaan Pelaku Usaha

Untuk mengatasi ini, BI menggulirkan program PINISI (Percepatan Intermediasi Indonesia). Program ini akan diluncurkan dalam dekat dan bertujuan membangun kepercayaan serta menyelaraskan ekspektasi antara akademisi, pelaku bisnis, dan pemerintah.


Strategi BI untuk Mendorong Pembiayaan

BI tidak hanya mengandalkan kebijakan moneter, tapi juga berupaya membangun sinergi lintas sektor. Dengan Stability for Growth sebagai konsep utama, BI ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya stabil, tapi juga berkelanjutan.

7. Menjaga Transmisi Suku Bunga ke Sektor Riil

Penurunan suku bunga harus benar-benar dirasakan oleh pelaku usaha dan masyarakat. BI terus memperkuat jalur transmisi ini agar efek penurunan suku bunga bisa mendorong investasi dan konsumsi.

8. Sinergi Akademisi, Bisnis, dan Pemerintah

Program PINISI akan menjadi wadah untuk membangun dialog antar stakeholder. Dengan pendekatan ini, BI berharap bisa mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi.


Tabel Target Pertumbuhan Kredit BI (2023–2026)

Tahun Target Pertumbuhan Kredit
2023 8% – 11%
2024 8% – 11%
2025 8% – 11%
2026 8% – 12%

Catatan: Target ini bisa berubah tergantung kondisi ekonomi dan kebijakan yang diambil.


Kesimpulan

Bank Indonesia punya target ambisius untuk mendorong pertumbuhan kredit di tahun 2026. Dengan berbagai kebijakan makroprudensial dan program seperti PINISI, BI berusaha menutup celah output gap dan credit gap yang masih negatif. Tantangan utamanya adalah membangun kepercayaan dan mendorong permintaan kredit dari pelaku usaha. Jika berhasil, langkah ini bisa menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Disclaimer: Data dan target yang disebutkan dalam artikel ini bersifat prediktif dan dapat berubah tergantung pada perkembangan ekonomi makro dan kebijakan Bank Indonesia ke depan.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.