Stabilitas suku bunga acuan Bank Indonesia di level 4,75% sepanjang 2026 memberi tantangan tersendiri bagi sektor perbankan. Di tengah situasi ini, menjaga efisiensi biaya dana menjadi isu utama agar profitabilitas tetap terjaga. Peluang penurunan suku bunga yang sempit membuat bank harus lebih kreatif dalam mengelola pendanaan, bukan lagi sekadar mengandalkan penyesuaian suku bunga.
Tanpa adanya stimulus penurunan BI Rate yang signifikan, bank dituntut untuk fokus pada aspek struktural seperti pengelolaan dana murah dan efisiensi operasional. Ini adalah fase konsolidasi yang menuntut ketepatan strategi agar tetap kompetitif.
Mengapa Efisiensi Biaya Dana Jadi Prioritas Utama?
Saat suku bunga sudah berada di level stabil, bank tak punya banyak ruang untuk manuver. Mereka harus pandai mengatur komposisi dana, terutama dana murah seperti tabungan dan giro. Hal ini penting karena biaya dana yang tinggi akan langsung memengaruhi margin bunga bersih (NIM).
Margin bunga bersih adalah selisih antara pendapatan bunga bank dan beban bunga dibandingkan dengan total aset yang menghasilkan bunga. Semakin rendah biaya dana, semakin besar potensi NIM yang bisa dicatat.
1. Fokus pada Dana Murah (CASA)
Salah satu kunci utama menjaga efisiensi biaya dana adalah meningkatkan proporsi Current Account and Saving Account (CASA). Dana jenis ini umumnya memiliki biaya yang sangat rendah bahkan nol persen, sehingga sangat menguntungkan bank.
Bank-bank besar seperti BRI dan BTN telah menunjukkan komitmennya lewat berbagai program untuk menarik dana murah. Misalnya, BTN yang baru saja meluncurkan rebranding produk tabungan untuk menarik dana segar hingga Rp5 triliun.
2. Disiplin dalam Pengelolaan Risiko
Bank yang ingin tetap profitable di masa suku bunga stagnan wajib menjaga disiplin dalam pengelolaan risiko. Termasuk di dalamnya risiko likuiditas, kredit, dan operasional. Dengan begitu, tekanan terhadap biaya dana bisa diminimalkan.
Disiplin ini juga mencakup pengawasan terhadap alokasi dana. Bank tidak boleh terlalu agresif menyalurkan kredit jika tidak didukung oleh struktur pendanaan yang sehat.
Strategi Bank Menghadapi Tekanan Efisiensi
Menghadapi tantangan efisiensi biaya dana, beberapa bank mulai menggeser fokus dari persaingan suku bunga ke peningkatan layanan. Inovasi produk dan digitalisasi menjadi alat penting untuk menarik dan mempertahankan nasabah.
3. Peningkatan Layanan Digital
Layanan digital yang responsif dan mudah digunakan menjadi daya tarik tersendiri bagi nasabah. Bank yang mampu memberikan pengalaman transaksi yang cepat dan aman akan lebih mudah menarik dana murah.
Bank Woori Saudara misalnya, fokus pada optimalisasi layanan digital untuk menarik dana pihak ketiga. Strategi ini tidak hanya meningkatkan loyalitas nasabah, tapi juga membantu menjaga cost of fund tetap kompetitif.
4. Inovasi Produk Finansial
Produk-produk finansial yang menawarkan nilai tambah menjadi senjata ampuh menarik minat nasabah. Bukan hanya soal suku bunga, tapi juga kemudahan akses, fitur unggulan, dan manfaat tambahan lainnya.
Inovasi ini juga menciptakan ekosistem layanan yang lebih lengkap, sehingga nasabah cenderung lebih loyal dan tidak mudah berpindah ke bank lain hanya demi selisih bunga yang tipis.
Data Perbandingan Efisiensi Dana Beberapa Bank Besar
Berikut adalah data NIM dan proporsi CASA dari beberapa bank besar per September 2025:
| Bank | NIM (Q3 2025) | Proporsi CASA (%) |
|---|---|---|
| Bank Woori Saudara | 3,23% | 24,82% |
| BRI | 3,15% | 32,50% |
| BTN | 3,05% | 28,70% |
| Mandiri | 3,10% | 30,20% |
Data menunjukkan bahwa bank dengan proporsi CASA lebih tinggi cenderung memiliki NIM yang lebih stabil. Ini membuktikan bahwa dana murah memainkan peran penting dalam menjaga profitabilitas.
Tantangan Ke Depan
Meski beberapa bank sudah mulai menyesuaikan diri, tantangan ke depan tetap besar. Fluktuasi nilai tukar rupiah, tekanan likuiditas, dan persaingan antarbank masih menjadi variabel yang perlu diperhatikan.
Belum lagi, ekspektasi penurunan suku bunga di masa depan belum tentu terwujud. Bank harus siap dengan skenario stagnasi jangka panjang, termasuk dalam hal pengelolaan biaya operasional dan pendanaan.
5. Optimalisasi Biaya Operasional
Efisiensi tidak hanya terbatas pada biaya dana, tapi juga biaya operasional. Bank yang mampu menekan biaya administrasi, teknologi, dan SDM akan lebih tahan terhadap tekanan margin.
Digitalisasi dan otomatisasi proses kerja menjadi solusi jangka panjang. Selain efisien, langkah ini juga meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan pada tenaga manual.
6. Diversifikasi Pendapatan Non-Bunga
Untuk mengimbangi tekanan pada margin bunga, bank juga perlu meningkatkan kontribusi pendapatan non-bunga. Ini mencakup fee-based income dari layanan jasa keuangan, trading, hingga wealth management.
Bank-bank yang memiliki divisi usaha non-konvensional biasanya lebih tahan terhadap volatilitas suku bunga.
Kesimpulan
Stagnasi suku bunga di 2026 memaksa sektor perbankan untuk berbenah dari dalam. Fokus pada dana murah, peningkatan layanan digital, dan efisiensi operasional menjadi kunci utama menjaga profitabilitas. Bank yang mampu mengadaptasi strategi ini akan lebih siap menghadapi dinamika pasar ke depannya.
Disclaimer: Data dan kondisi makro ekonomi dapat berubah sewaktu-waktu. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak mengikat.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













