Tren harga emas di tahun 2026 terus jadi sorotan, terutama bagi pelaku industri pergadaian. Perkumpulan Perusahaan Gadai Indonesia (PPGI) mencatat bahwa fluktuasi harga emas berpotensi memengaruhi laba perusahaan-perusahaan yang mengandalkan emas sebagai komoditas utama dalam layanan gadai. Kenaikan harga emas yang tidak sebesar tahun lalu jadi tantangan tersendiri, terutama bagi bisnis yang belum memiliki strategi mitigasi risiko yang matang.
Holilur Rohman, Sekretaris PPGI, menyebut bahwa laba pergadaian yang hanya menerima emas sebagai jaminan bisa tergerus jika tren harga emas tidak stabil. Tapi bukan berarti tidak ada solusi. Menurutnya, literasi ke masyarakat dan efisiensi biaya operasional jadi langkah penting agar laba tetap bisa terjaga meski harga emas tidak melonjak tinggi.
Dampak Harga Emas Terhadap Laba Pergadaian
-
Fluktuasi harga emas sebagai risiko utama
Harga emas yang naik-turun bisa langsung memengaruhi nilai jaminan. Jika harga emas turun, maka nilai barang jaminan juga ikut turun. Ini berdampak pada pendapatan bunga dan potensi keuntungan pergadaian. Perusahaan yang tidak siap menghadapi volatilitas ini bisa mengalami tekanan pada margin laba.
-
Pendapatan bunga tergantung nilai jaminan
Semakin tinggi nilai emas yang digadaikan, semakin besar pula jumlah pinjaman yang bisa diberikan. Ini berarti bunga yang dihasilkan juga lebih besar. Namun, jika harga emas stagnan atau turun, maka pendapatan bunga pun terbatas. Ini jadi tantangan tersendiri di tengah prediksi kenaikan harga emas yang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Strategi Pergadaian Menghadapi Tren Harga Emas
-
Literasi ke masyarakat
Salah satu langkah yang disarankan PPGI adalah meningkatkan literasi ke masyarakat. Dengan masyarakat yang lebih paham soal layanan gadai, perusahaan bisa menjangkau lebih banyak nasabah. Literasi juga membantu masyarakat memahami manfaat dan risiko dari fluktuasi harga emas.
-
Efisiensi biaya operasional
Mengurangi pengeluaran yang tidak perlu bisa jadi cara efektif menjaga laba tetap sehat. Terutama di masa ketika pendapatan dari bunga mungkin tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Efisiensi ini bisa mencakup penggunaan teknologi, pengelolaan SDM, hingga penghematan energi.
-
Pemantauan harga emas secara berkala
Mengetahui pergerakan harga emas secara real time memungkinkan perusahaan mengambil keputusan yang lebih tepat. Misalnya, kapan waktu terbaik untuk mencairkan barang jaminan atau kapan sebaiknya menawarkan pinjaman dengan bunga kompetitif.
Diversifikasi Portofolio Jaminan
-
Memperluas jenis barang jaminan
Tidak hanya emas, perusahaan bisa mulai menerima barang lain seperti elektronik, kendaraan bermotor, atau perhiasan berlian. Dengan portofolio yang lebih beragam, risiko yang ditanggung tidak hanya bergantung pada satu komoditas saja.
-
Meningkatkan layanan digital
Layanan digital bisa mempercepat proses transaksi dan menjangkau lebih banyak nasabah. Ini juga bisa mengurangi biaya operasional, terutama untuk pergadaian yang memiliki banyak cabang.
-
Kolaborasi dengan pihak ketiga
Bekerja sama dengan lembaga keuangan atau marketplace bisa membuka peluang baru. Misalnya, menawarkan layanan gadai emas melalui aplikasi e-commerce atau fintech.
Performa PT Budi Gadai Indonesia di Tengah Tren Harga Emas
PT Budi Gadai Indonesia, salah satu perusahaan pergadaian dari Sumatra Utara, justru optimistis bisa terus tumbuh meski harga emas tidak melonjak tinggi. Budiarto Sembiring, Direktur perusahaan, menyebut bahwa laba mereka pada akhir 2025 naik hingga 34% secara Year on Year (YoY). Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya jumlah dan nilai jaminan emas yang digadaikan.
| Tahun | Pertumbuhan Laba YoY | Faktor Utama |
|---|---|---|
| 2024 | 21% | Stabilitas harga emas |
| 2025 | 34% | Lonjakan nilai jaminan emas |
| 2026 (prediksi) | ±25% | Diversifikasi portofolio & efisiensi operasional |
Budiarto menjelaskan bahwa kenaikan laba tidak hanya bergantung pada harga emas, tapi juga pada kualitas layanan dan strategi bisnis yang diterapkan. Perusahaan terus fokus memberikan pelayanan terbaik agar nasabah tetap loyal dan nilai jaminan terus meningkat.
Tantangan dan Peluang di 2026
-
Ketidakpastian harga global
Harga emas dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi global seperti inflasi, kebijakan moneter, dan ketegangan geopolitik. Perusahaan pergadaian harus siap menghadapi ketidakpastian ini dengan strategi yang fleksibel.
-
Potensi pertumbuhan pasar digital
Semakin banyak masyarakat yang menggunakan layanan digital, semakin besar peluang bagi pergadaian untuk menjangkau pasar baru. Ini termasuk generasi muda yang lebih nyaman dengan transaksi online.
-
Regulasi yang terus berkembang
Otoritas pengawas terus memperbarui aturan di sektor keuangan. Perusahaan pergadaian harus memastikan kepatuhan terhadap regulasi terbaru agar tidak terkena sanksi.
Kesimpulan
Tren harga emas di 2026 memang berpotensi memengaruhi laba pergadaian, terutama yang mengandalkan emas sebagai komoditas utama. Namun, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Dengan strategi yang tepat seperti diversifikasi jaminan, efisiensi biaya, dan pemanfaatan teknologi, industri pergadaian tetap bisa tumbuh dan menghasilkan laba yang positif. PT Budi Gadai Indonesia jadi contoh bagaimana perusahaan bisa tetap eksis dan berkembang meski menghadapi tantangan yang sama.
Disclaimer: Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar dan faktor eksternal lainnya.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













