Kabar gembira datang buat para pengemudi ojek online menjelang Lebaran 2026. Pemerintah melalui Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengisyaratkan bahwa Bonus Hari Raya (BHR) tahun ini bakal lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Ini tentu jadi kabar menyenangkan, mengingat sebagian besar ojol mengandalkan pendapatan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat masa libur panjang Idul Fitri.
Meski belum ada angka pasti, Yassierli memastikan bahwa pemerintah tengah berdiskusi dengan berbagai pihak, terutama perusahaan aplikator seperti Gojek, Grab, dan Maxim. Dari hasil awal, beberapa perusahaan sudah menyatakan komitmen untuk memberikan bonus yang lebih besar. Namun, besaran dan mekanisme penyalurannya tetap menyesuaikan kebijakan internal masing-masing perusahaan.
Apa Kata Menaker Soal BHR Ojol 2026?
Penjelasan Yassierli memberi sinyal positif, meski belum ada keputusan final. Ia menyebut bahwa pemerintah ingin memastikan BHR tahun ini lebih baik dari tahun lalu, baik dari segi nilai maupun dampak sosialnya. Namun, pertimbangan finansial perusahaan juga tetap menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan.
“Lebih baik, dalam artian nilainya lebih dari sebelumnya. Akan tetapi, juga tetap harus mempertimbangkan keuangan perusahaan. Tunggu saja,” ujar Menaker.
Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin memaksa, tapi lebih kepada koordinasi dan ajakan kepada perusahaan agar memberikan apresiasi lebih kepada para driver.
1. Komunikasi dengan Aplikator Masih Berlangsung
Yassierli menjelaskan bahwa pemerintah terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak aplikator. Dalam pembicaraan ini, beberapa perusahaan besar sudah menyatakan komitmen untuk memberikan BHR yang lebih besar. Namun, mekanisme penyalurannya masih dalam tahap pembahasan.
2. Kriteria Penerima BHR Tetap Diperhitungkan
Tidak semua pengemudi ojol otomatis mendapat BHR. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kriteria penerima akan ditentukan berdasarkan tingkat keaktifan dan durasi kerja. Driver yang aktif baik penuh waktu maupun paruh waktu berpeluang menerima bonus, meski besaran bisa berbeda.
3. Jumlah Pengemudi Ojol Capai 1 Juta Lebih
Data sementara menunjukkan bahwa jumlah pengemudi ojek online aktif di Indonesia saat ini berkisar antara 1 hingga 1,5 juta orang. Mereka menjadi target utama penerima BHR, dengan kriteria yang tidak jauh berbeda dari tahun lalu.
4. Skema BHR Masih Dikaji
Sampai saat ini, belum ada kepastian apakah BHR akan bersifat wajib atau hanya sebagai imbauan. Yassierli mengatakan bahwa pihaknya masih akan berkonsultasi dengan Presiden Prabowo Subianto dalam waktu dekat untuk menentukan kebijakan final.
5. Pembahasan Final Dimulai Awal Maret 2026
Rencananya, pembahasan akhir mengenai BHR untuk pengemudi ojol akan dilakukan pada awal Maret 2026. Hasilnya akan menjadi dasar kebijakan nasional sebelum pelaksanaan Lebaran 2026.
Perbandingan BHR Ojol Tahun-Tahun Sebelumnya
Berikut perkiraan perbandingan BHR ojol dari tahun ke tahun berdasarkan data yang tersedia:
| Tahun | Besaran BHR (Estimasi) | Catatan |
|---|---|---|
| 2023 | Rp 300.000 – Rp 500.000 | Bervariasi per aplikator |
| 2024 | Rp 400.000 – Rp 600.000 | Kenaikan rata-rata 20% |
| 2025 | Rp 500.000 – Rp 700.000 | Disesuaikan kondisi ekonomi |
| 2026 | Diproyeksikan lebih tinggi | Belum ada angka pasti |
Disclaimer: Besaran BHR dapat berubah tergantung kebijakan perusahaan dan kondisi ekonomi menjelang Lebaran.
Apa yang Membedakan BHR Ojol dengan THR?
BHR atau Bonus Hari Raya untuk pengemudi ojol berbeda dengan THR yang diterima pegawai tetap. THR memiliki dasar hukum yang lebih kuat dan wajib diberikan tiap tahun menjelang Idul Fitri. Sementara BHR untuk ojol lebih bersifat insentif atau apresiasi dari perusahaan, dan tidak selalu wajib secara hukum.
Namun, dengan adanya arahan dari pemerintah, harapannya BHR tahun ini bisa menjadi lebih pasti dan menguntungkan para driver.
Harapan dan Tantangan di Balik Kenaikan BHR
Kenaikan BHR bukan sekadar angka. Ini adalah bentuk apresiasi terhadap kontribusi para pengemudi ojol yang bekerja keras setiap hari. Namun, tantangan tetap ada. Perusahaan tetap harus mempertimbangkan kesehatan finansial mereka, terutama di tengah persaingan yang ketat dan fluktuasi permintaan layanan.
Selain itu, pemerataan distribusi bonus juga jadi hal penting. Tidak semua driver memiliki jam kerja yang sama, sehingga perlu ada skema yang adil dan transparan.
Penyesuaian dengan Model Bisnis Ojol
Yassierli juga menekankan bahwa model bisnis ojol berbeda dengan pekerjaan konvensional. Driver bisa bekerja paruh waktu atau penuh waktu, dan ini memengaruhi besaran bonus yang diterima. Perusahaan pun harus pandai menyeimbangkan antara kinerja individu dan kapasitas finansial perusahaan.
Kesimpulan
Menjelang Lebaran 2026, harapan para pengemudi ojol untuk mendapat BHR yang lebih besar mulai terlihat. Dengan komitmen dari pemerintah dan beberapa perusahaan besar, potensi kenaikan bonus ini cukup realistis. Meski belum ada angka pasti, sinyal positif ini memberi semangat tersendiri bagi para driver yang terus berjuang di jalanan.
Yang pasti, semua pihak harus terus bekerja sama agar BHR tahun ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh para pekerja ojek online di seluruh Indonesia. Tunggu saja perkembangan lebih lanjut menjelang Maret 2026.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













