Mulai 1 Maret 2026, Bursa Kripto PT Central Finansial X (CFX) akan menerapkan penurunan biaya transaksi sebesar 50 persen. Tarif yang sebelumnya berada di angka 0,04 persen akan turun menjadi 0,02 persen. Langkah ini merupakan bagian dari strategi CFX untuk meningkatkan daya saing ekosistem aset kripto dalam negeri. Penurunan tahap kedua akan kembali terjadi pada 1 Oktober 2026, yakni menjadi 0,01 persen.
Langkah strategis ini mendapat apresiasi dari pelaku industri. William Sutanto, CEO Indodax, menyatakan bahwa struktur biaya yang lebih efisien bisa menjadi solusi jangka panjang bagi industri aset kripto. Menurutnya, biaya transaksi yang tinggi justru mendorong pengguna untuk berpindah ke platform luar negeri yang tidak berizin. Padahal, platform lokal punya potensi besar jika dikelola dengan baik dan biayanya kompetitif.
Respons Industri terhadap Penurunan Biaya Transaksi
Dengan biaya transaksi yang lebih rendah, CFX berharap bisa menarik lebih banyak pengguna untuk kembali bertransaksi di bursa lokal. Tidak hanya itu, penurunan biaya juga diharapkan bisa meningkatkan frekuensi transaksi dan memperdalam likuiditas pasar domestik. Hal ini penting agar ekosistem aset kripto di Tanah Air tidak hanya bertahan, tapi juga bisa bersaing di level global.
Adrian Sudirgo, Direktur Utama PT Kagum Teknologi Indonesia (Ajaib), menyambut baik langkah CFX. Ia menyebut bahwa dalam ekosistem yang terus berkembang, penyesuaian biaya adalah hal yang wajar. Tujuannya agar konsumen tetap mendapat nilai tambah dan industri bisa tumbuh secara sehat.
1. Penyebab Ketimpangan Biaya Transaksi
Salah satu alasan utama CFX menurunkan biaya adalah adanya ketimpangan antara platform lokal dan luar negeri. Banyak konsumen Indonesia yang lebih memilih bertransaksi di bursa luar karena biayanya lebih murah, meski tidak berizin resmi. Hal ini menyebabkan capital outflow yang cukup signifikan dari ekosistem aset kripto dalam negeri.
2. Dampak Biaya Tinggi terhadap Pengguna
Biaya transaksi yang tinggi sering kali menjadi penghalang bagi pengguna baru. Banyak dari mereka akhirnya memilih platform ilegal karena lebih murah. Padahal, platform lokal punya keunggulan dari sisi regulasi dan keamanan. Dengan menurunkan biaya, CFX berharap bisa menutup celah ini dan menarik lebih banyak pengguna kembali ke ekosistem yang legal dan terpercaya.
3. Strategi Jangka Panjang CFX
Penurunan biaya bukan sekadar upaya jangka pendek. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang CFX untuk membangun pangsa pasar yang lebih besar. Subani, Direktur Utama CFX, menyampaikan bahwa langkah ini diambil setelah mendengar langsung masukan dari pengguna dan anggota bursa. Tujuannya agar ekosistem aset kripto dalam negeri bisa tumbuh dan memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional.
Perbandingan Volume Transaksi Platform Lokal vs Luar Negeri
Berdasarkan data dari LPEM FEB UI, volume transaksi pengguna Indonesia di platform luar negeri mencapai 2,6 kali lipat lebih besar dibandingkan platform lokal yang berizin. Tabel berikut menunjukkan perbandingan volume transaksi:
| Jenis Platform | Volume Transaksi (2025) |
|---|---|
| Platform Luar Negeri | 2,6x lebih besar |
| Platform Lokal (Berizin) | 1x |
4. Target Peningkatan Volume Transaksi Domestik
Dengan penurunan biaya, CFX menargetkan peningkatan volume transaksi di dalam negeri. Ini penting untuk memperkuat ekosistem lokal dan mengurangi ketergantungan pada platform ilegal. Selain itu, peningkatan volume juga berpotensi meningkatkan pendapatan negara melalui pajak dan kontribusi lainnya.
5. Dukungan terhadap Regulasi OJK
Langkah CFX ini juga sejalan dengan regulasi yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan biaya yang lebih kompetitif, bursa lokal bisa menjadi pilihan utama masyarakat. Ini juga membantu OJK dalam mengawasi ekosistem aset kripto dan melindungi konsumen dari risiko platform ilegal.
Data Transaksi Aset Kripto di Indonesia
Menurut data OJK, nilai transaksi aset kripto di Indonesia pada tahun 2025 mencapai Rp482,23 triliun. Sementara itu, jumlah konsumen aktif mencapai 12,92 juta orang per Desember 2025. Angka ini menunjukkan bahwa adopsi aset kripto di Tanah Air terus meningkat, meski masih banyak tantangan yang perlu dihadapi.
6. Peningkatan Adopsi Aset Kripto Nasional
Indonesia masuk dalam daftar tujuh besar negara dengan adopsi aset kripto tertinggi di dunia menurut Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sangat antusias terhadap aset kripto. Namun, potensi ini baru akan bisa dimaksimalkan jika ekosistem lokal terus diperkuat, termasuk melalui penurunan biaya transaksi.
7. Potensi Peningkatan Pendapatan Negara
Dengan meningkatnya volume transaksi di bursa lokal, negara juga bisa mendapatkan manfaat berupa peningkatan pendapatan dari pajak. Ini adalah dampak langsung dari pengalihan aktivitas transaksi dari platform ilegal ke platform yang berizin dan diawasi.
8. Peran Bursa dalam Membangun Ekosistem Kripto
Sebagai pionir bursa aset kripto berizin di Indonesia, CFX memiliki tanggung jawab besar dalam membangun ekosistem yang sehat dan kompetitif. Penurunan biaya adalah salah satu cara nyata untuk menunjukkan bahwa bursa lokal bisa memberikan nilai lebih bagi pengguna.
9. Tantangan ke Depan
Meski langkah penurunan biaya adalah langkah positif, tantangan ke depan tetap ada. Salah satunya adalah bagaimana menjaga kualitas layanan tetap tinggi meski biaya ditekan. Selain itu, edukasi pengguna juga perlu terus ditingkatkan agar mereka lebih sadar akan pentingnya menggunakan platform yang berizin.
10. Kesadaran Pengguna terhadap Platform Legal
Banyak pengguna masih belum memahami risiko bertransaksi di platform ilegal. Oleh karena itu, penting untuk terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menggunakan bursa yang berizin. Ini akan membantu memperkuat ekosistem lokal dan melindungi konsumen dari potensi kerugian.
Langkah CFX menurunkan biaya transaksi adalah sinyal kuat bahwa bursa lokal siap bersaing di pasar global. Dengan biaya yang lebih kompetitif dan regulasi yang ketat, pengguna bisa mendapatkan pengalaman transaksi yang lebih aman dan nyaman. Semoga langkah ini bisa menjadi awal dari transformasi besar dalam ekosistem aset kripto Indonesia.
Disclaimer: Data dan angka yang disebutkan dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga Februari 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan regulasi dan kondisi pasar.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













