Bank Rakyat Indonesia (BRI) kembali mencatatkan pencapaian gemilang di tahun 2025. Laba bersih BRI sepanjang tahun ini mencapai Rp57,13 triliun, meski sedikit di bawah angka tahun lalu yang mencatatkan laba sebesar Rp60,3 triliun. Meski demikian, kinerja keuangan bank pelat merah ini tetap menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan yang solid di tengah dinamika ekonomi nasional.
Pendapatan bunga menjadi kontributor utama laba BRI, yang naik menjadi Rp207,78 triliun atau meningkat 4,27% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, beban bunga juga naik tipis sebesar 1,20% menjadi Rp57,28 triliun. Dengan begitu, pendapatan bunga bersih (NII) mencatatkan pertumbuhan yang lebih sehat, yakni 5,52% dari Rp142,65 triliun menjadi Rp150,50 triliun.
Kinerja Pendapatan dan Beban Operasional
Pendapatan BRI tidak hanya datang dari bunga saja. Pendapatan jasa asuransi juga turut menyumbang, sehingga total pendapatan bersih mencapai Rp151,79 triliun. Angka ini naik 5,54% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Meski laba bersih sedikit turun, peningkatan pendapatan menunjukkan bahwa BRI tetap mampu memaksimalkan berbagai sumber pendapatan.
Namun, di sisi lain, beban kerugian penurunan nilai (impairment) juga mencatatkan lonjakan. Impairment naik 20,8% menjadi Rp46,09 triliun dari Rp38,14 triliun di tahun 2024. Lonjakan ini bisa menjadi indikator bahwa bank mulai lebih waspada dalam menghadapi potensi risiko kredit, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
- Pendapatan bunga naik 4,27% menjadi Rp207,78 triliun
- Beban bunga naik 1,20% menjadi Rp57,28 triliun
- Pendapatan bunga bersih (NII) naik 5,52% menjadi Rp150,50 triliun
- Total pendapatan bersih (termasuk asuransi) naik 5,54% menjadi Rp151,79 triliun
- Impairment naik 20,8% menjadi Rp46,09 triliun
Ekspansi Kredit dan Pembiayaan Syariah
Salah satu pilar penting dalam kinerja BRI adalah ekspansi kreditnya. Di tahun 2025, total kredit yang disalurkan dan pembiayaan syariah mencapai Rp1.517,07 triliun, naik 12,67% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp1.348,2 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa BRI tetap agresif dalam menyalurkan kredit, meski dalam kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.
Kredit yang disalurkan sendiri mencapai Rp1.460,72 triliun, naik 12,5% dari Rp1.298,31 triliun di tahun sebelumnya. Sementara itu, pembiayaan syariah juga tumbuh 12,9% menjadi Rp56,35 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa BRI tidak hanya fokus pada kredit konvensional, tetapi juga terus mengembangkan segmen syariah.
- Total kredit dan pembiayaan naik 12,67% menjadi Rp1.517,07 triliun
- Kredit konvensional naik 12,5% menjadi Rp1.460,72 triliun
- Pembiayaan syariah naik 12,9% menjadi Rp56,35 triliun
Penghimpunan Dana dan Likuiditas
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga terus menunjukkan pertumbuhan yang solid. Di akhir tahun 2025, DPK BRI mencapai Rp1.466,84 triliun, naik 7,42% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat Rp1.365,45 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat masih mempercayai BRI sebagai lembaga keuangan yang aman dan terpercaya.
Secara rinci, giro naik 19,66% menjadi Rp448,20 triliun, sedangkan tabungan naik 7,93% menjadi Rp587,58 triliun. Namun, deposito sedikit turun menjadi Rp431,05 triliun dari Rp446,46 triliun. Penurunan deposito bisa menjadi indikasi bahwa nasabah lebih memilih produk yang lebih likuid seperti tabungan atau giro.
- DPK naik 7,42% menjadi Rp1.466,84 triliun
- Giro naik 19,66% menjadi Rp448,20 triliun
- Tabungan naik 7,93% menjadi Rp587,58 triliun
- Deposito turun menjadi Rp431,05 triliun
Likuiditas dan Rasio Keuangan
Likuiditas BRI juga tetap dalam kondisi sehat. CASA (Current Account Saving Account) mencatatkan pertumbuhan 12,11% menjadi Rp1.035,78 triliun dari Rp918,98 triliun di tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa BRI berhasil meningkatkan proporsi dana murah yang menjadi tulang punggung likuiditas bank.
Total aset BRI juga naik 7,1% menjadi Rp2.135,37 triliun dari Rp1.992,18 triliun di akhir 2024. Pertumbuhan aset ini sejalan dengan ekspansi kredit dan peningkatan DPK yang terus berjalan.
Rasio Keuangan Utama BRI 2025
| Rasio | 2025 | 2024 | Keterangan |
|---|---|---|---|
| ROA | 2,64% | 2,99% | Menurun |
| ROE | 16,84% | 18,40% | Menurun |
| NIM | 6,54% | 6,75% | Sedikit turun |
| BOPO | 71,50% | 67,64% | Naik |
| CIR | 38,92% | 37,87% | Naik |
| NPL Gross | 3,29% | 2,94% | Naik |
| NPL Net | 0,96% | 0,75% | Naik |
| CKPN terhadap aset produktif | 4,08% | 4,48% | Turun |
| LDR | 91,96% | 89,39% | Naik |
| KPMM | 21,06% | 24,41% | Turun |
Penutup
Kinerja BRI di tahun 2025 menunjukkan bahwa bank ini tetap menjadi salah satu pilar kuat sistem perbankan nasional. Meski laba bersih sedikit turun, ekspansi kredit, penghimpunan dana, dan likuiditas tetap menunjukkan pertumbuhan yang solid. Dengan rasio keuangan yang masih berada di level sehat, BRI siap menghadapi tantangan di tahun-tahun mendatang.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat simulasi berdasarkan informasi yang tersedia dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi makro ekonomi dan kebijakan regulator.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













