Nasional

Investasi Baterai Kendaraan Listrik Tembus Pasar Modal, Ini Dia Peluang Emasnya!

Fadhly Ramadan
×

Investasi Baterai Kendaraan Listrik Tembus Pasar Modal, Ini Dia Peluang Emasnya!

Sebarkan artikel ini
Investasi Baterai Kendaraan Listrik Tembus Pasar Modal, Ini Dia Peluang Emasnya!

Industri baterai kendaraan listrik kini mulai menarik perhatian bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari ranah modal. Di tengah laju transformasi energi global, Indonesia yang kaya akan sumber daya nikel mulai menjadi sorotan investor . Salah satu sinyal kuat datang dari PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE), emiten yang kini tengah menjalani pergantian pengendali menuju pemain global di sektor pertambangan dan baterai.

Perubahan BLUE terjadi melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) pada . Dalam kesepakatan tersebut, Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited berencana mengakuisisi 334,4 juta BLUE, atau sekitar 80% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Langkah ini menjadi kelanjutan dari proses akuisisi yang diumumkan sejak November 2025 lalu.

Pergeseran Penguasaan Saham BLUE

Dragonmine Mining merupakan perusahaan yang berbasis di Hong Kong dan diketahui sebagai anak dari Huayou Hongkong Limited. Perusahaan ini adalah bagian dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd, salah satu raksasa pertambangan dan material baterai asal Tiongkok. Huayou memiliki jejak investasi yang luas di sektor mineral, termasuk nikel, kobalt, dan lithium—komponen krusial dalam produksi baterai kendaraan listrik.

Huayou sendiri memiliki lima pilar bisnis yang mencakup seluruh rantai nilai baterai lithium-ion. Salah satu fokus investasinya di Indonesia adalah pengembangan kawasan industri nikel, seperti di Morowali dan Pomalaa. Melalui kolaborasi dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC), Huayou turut mengembangkan Proyek Titan yang menjadi bagian dari hilirisasi industri baterai nasional.

1. Transformasi Bisnis BLUE Menuju Sektor Baterai

BLUE yang semula bergerak di bidang produksi tinta dan alat tulis, kini tengah menghadapi potensi transformasi bisnis yang signifikan. Dengan rencana akuisisi mayoritas saham oleh Dragonmine Mining, BLUE berpotensi menjadi entitas publik yang berperan dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik. Perubahan ini mencerminkan langkah strategis dalam memanfaatkan posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia.

2. Reaksi Pasar terhadap Akuisisi BLUE

Pergerakan harga saham BLUE memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai ekspektasi pasar terhadap rencana akuisisi ini. Saham BLUE melonjak hingga 117% secara year to date dan mencatat kenaikan hampir 1.900% dalam satu tahun terakhir. Namun, pasca CSPA, saham BLUE sempat mengalami koreksi akibat volatilitas pasar yang tinggi.

3. Strategi Efisiensi Pasar Modal

Bagi perusahaan global seperti Huayou, mengakuisisi emiten lokal jauh lebih efisien dibandingkan menjalani proses IPO dari nol. Dengan menggunakan entitas yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Huayou dapat langsung mengakses dana dari investor domestik dan institusi melalui mekanisme rights issue. Langkah ini juga memungkinkan pendanaan proyek-proyek hilirisasi nikel yang membutuhkan modal besar.

4. Peningkatan Transparansi dan Profil ESG

Keberadaan perusahaan yang terdaftar di bursa juga membawa dampak positif dalam hal transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi pasar modal. Selain itu, kehadiran entitas publik membantu meningkatkan profil Environmental, Social, and Governance (), yang kini menjadi pertimbangan utama bagi investor global.

Fenomena Akuisisi di Pasar Modal Indonesia

BLUE bukan satu-satunya emiten yang mengalami perubahan kepemilikan besar-besaran. Fenomena serupa terjadi pada PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK), yang diakuisisi oleh PT Eco Energi Perkasa milik Deng Weiming, pendiri CNGR—produsen prekursor baterai global. Pasca akuisisi, PACK berganti nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk dan mengumumkan rencana rights issue untuk mendanai pengembangan aset tambang serta smelter nikel.

5. Regulasi Baru Picu Perubahan Strategi IPO

Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, menilai bahwa regulasi pasar modal terbaru yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan , telah menciptakan hambatan baru bagi perusahaan yang ingin melakukan IPO. Hal ini membuat banyak perusahaan memilih jalur akuisisi emiten kecil sebagai alternatif yang lebih cepat dan efisien.

6. Potensi Backdoor Listing di BEI

Ezar menambahkan bahwa BLUE memiliki potensi untuk menjadi contoh backdoor listing. Dengan pergantian pengendali dan rencana transformasi bisnis, BLUE bisa menjadi kendaraan investasi baru bagi Huayou untuk memasuki pasar modal Indonesia tanpa harus melalui proses IPO yang panjang dan rumit.

Perbandingan Saham BLUE Sebelum dan Sesudah Akuisisi

Parameter Sebelum Akuisisi Setelah Akuisisi
Harga Saham (YTD) Stabil Naik 117%
Harga Saham (1 Tahun) Fluktuatif Naik hampir 1.900%
Prospek Bisnis Terbatas Luas (Potensi Sektor Baterai)
Status Emiten Perusahaan Tinta & Alat Tulis Potensi Pemain Hilirisasi Nikel
Reaksi Investor Netral Optimis

7. Peran Huayou dalam Ekosistem Baterai Indonesia

Huayou bukan hanya datang sebagai investor, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pengembangan ekosistem baterai nasional. Kolaborasi dengan Antam dan IBC melalui Proyek Titan menunjukkan komitmen perusahaan ini dalam membangun rantai pasok baterai yang terintegrasi di Indonesia, dari penambangan hingga produksi baterai siap pakai.

8. Peluang dan Tantangan ke Depan

Ke depan, BLUE memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pilar dalam industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. Namun, tantangan seperti regulasi pasar modal yang ketat, volatilitas harga komoditas, dan tekanan ESG global tetap harus diwaspadai. Transformasi bisnis yang sukses akan sangat bergantung pada jangka panjang Huayou dalam mengelola aset dan membangun sinergi dengan entitas lokal.

Kesimpulan

Industri baterai kendaraan listrik di Indonesia kini mulai menemukan jalurnya di pasar modal. Akuisisi BLUE oleh Dragonmine Mining adalah cerminan dari bagaimana investor global melirik potensi Indonesia sebagai pusat produksi baterai masa depan. Dengan dukungan teknologi dan modal dari perusahaan besar seperti Huayou, BLUE berpotensi menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat hilirisasi mineral strategis dunia.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas hingga tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan pasar, regulasi, dan kebijakan perusahaan terkait.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.