Nasional

Strategi Prabowo Jadikan ASEAN Pusat Utama Akselerasi Transisi Energi Hijau di 2026

Herdi Alif Al Hikam
×

Strategi Prabowo Jadikan ASEAN Pusat Utama Akselerasi Transisi Energi Hijau di 2026

Sebarkan artikel ini
Strategi Prabowo Jadikan ASEAN Pusat Utama Akselerasi Transisi Energi Hijau di 2026

Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi strategis kawasan Asia Tenggara dalam peta jalan transisi energi global. Melalui forum KTT BIMP-EAGA di Cebu, , Indonesia mendorong kolaborasi konkret antarnegara untuk memaksimalkan potensi daya alam yang melimpah demi ketahanan energi masa depan.

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa ketergantungan pada energi fosil harus segera dikurangi melalui pemanfaatan tenaga surya, air, hingga angin. Fokus utama terletak pada bagaimana setiap negara mampu mengonversi potensi geografis menjadi infrastruktur energi yang berkelanjutan dan kompetitif.

Potensi Besar Energi Terbarukan di Kawasan BIMP-EAGA

Kawasan Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Filipina atau BIMP-EAGA menyimpan cadangan energi terbarukan yang belum tergarap secara maksimal. Wilayah ini memiliki keunggulan komparatif berupa lahan luas, intensitas sinar matahari yang stabil, serta potensi tenaga air yang besar di wilayah Kalimantan dan sekitarnya.

Transisi menuju energi bersih bukan sekadar wacana lingkungan, melainkan kebutuhan ekonomi untuk menciptakan kemandirian energi. Berikut adalah rincian sektor energi yang menjadi fokus utama dalam pengembangan kawasan:

1. Pengembangan Tenaga Air

Pemanfaatan arus sungai di wilayah Borneo menjadi prioritas untuk mendukung kebutuhan listrik skala besar. Infrastruktur ini diproyeksikan mampu menjadi tulang punggung pasokan listrik yang stabil bagi industri di subkawasan.

2. Ekspansi Energi Surya

pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala masif sedang digenjot, termasuk target ambisius Indonesia untuk mencapai kapasitas 100 GW. Proyek ini diharapkan mampu menekan biaya produksi energi sekaligus mengurangi emisi karbon secara signifikan.

3. Pemanfaatan Energi Angin

Wilayah pesisir di Filipina dan Indonesia memiliki potensi angin yang sangat potensial untuk dikonversi menjadi energi listrik. Pemanfaatan teknologi turbin angin modern menjadi dalam diversifikasi bauran energi.

Transisi energi ini memerlukan dukungan infrastruktur yang saling terhubung antarnegara. Untuk memahami bagaimana visi tersebut diimplementasikan, terdapat beberapa poin krusial dalam kerangka kerja BIMP-EAGA Vision 2035 yang telah disepakati.

Kerangka Strategis BIMP-EAGA Vision 2035

Dokumen BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035 menjadi pedoman utama dalam mengarahkan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Fokus utamanya adalah menciptakan konektivitas yang lebih baik melalui klaster-klaster pembangunan, terutama pada sektor infrastruktur energi.

Tabel di bawah ini merinci pembagian peran dan fokus utama dalam klaster infrastruktur energi untuk memastikan keberlanjutan program:

Aspek Fokus Deskripsi Program Target Utama
Interkoneksi Listrik Jaringan transmisi lintas batas Stabilitas pasokan regional
Elektrifikasi Pedesaan Akses energi di daerah terpencil masyarakat
Efisiensi Energi Konservasi penggunaan daya Pengurangan beban fosil
Inovasi Teknologi Pengembangan hidrogen dan nuklir Diversifikasi sumber energi

Data di atas menunjukkan bahwa kolaborasi subregional bukan hanya soal berbagi sumber daya, tetapi juga berbagi teknologi. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen setiap negara anggota dalam menjalankan kebijakan transisi energi secara konsisten.

Langkah Konkret Indonesia dalam Transisi Energi

Pemerintah Indonesia di bawah arahan Presiden Prabowo telah menetapkan serangkaian kebijakan strategis untuk mempercepat bauran energi baru terbarukan. Langkah-langkah ini dirancang untuk menyelaraskan target nasional dengan standar keberlanjutan global.

kebijakan ini melibatkan berbagai sektor, mulai dari regulasi hingga inovasi teknologi. Berikut adalah tahapan strategis yang sedang dijalankan oleh Kementerian ESDM:

  1. Bauran Energi Terbarukan: Mempercepat porsi penggunaan sumber energi ramah lingkungan dalam sistem kelistrikan nasional.
  2. Pemanfaatan Energi Baru: Eksplorasi potensi hidrogen, nuklir, dan ammonia sebagai alternatif energi masa depan.
  3. Akselerasi Kendaraan Listrik: Mendorong ekosistem kendaraan listrik (EV) untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak di sektor transportasi.
  4. Efisiensi dan Konservasi: Menerapkan standar efisiensi energi yang ketat pada industri dan bangunan komersial.
  5. Moratorium PLTU Baru: Menghentikan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara untuk menekan emisi karbon.
  6. Implementasi CCS/CCUS: Menggunakan teknologi penangkapan dan karbon untuk memitigasi dampak emisi dari fasilitas energi yang masih beroperasi.

Upaya yang dilakukan Indonesia ini menjadi contoh bagi negara lain di kawasan ASEAN dalam menyeimbangkan antara kebutuhan pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan. Sinergi antarnegara diharapkan dapat menciptakan pasar energi yang lebih efisien dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pengembangan infrastruktur energi yang masif tentu memerlukan investasi besar dan kolaborasi lintas sektor yang intensif. Tanpa adanya keterlibatan pihak swasta dan dukungan teknologi internasional, target transisi energi yang ambisius akan sulit tercapai dalam waktu singkat.

Keselarasan visi antara negara-negara BIMP-EAGA menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan energi global. Dengan memanfaatkan keunggulan geografis dan komitmen politik yang kuat, kawasan ini berpotensi menjadi motor penggerak transisi energi bersih di tingkat dunia.


Disclaimer: Data, target, dan kebijakan yang tercantum dalam artikel ini merujuk pada informasi terkini saat berita diturunkan. , target bauran energi, dan proyek infrastruktur dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika ekonomi, politik, dan perkembangan teknologi di masa depan.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.