Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan tajam di tengah gejolak ekonomi global yang tidak menentu. Sepanjang awal tahun 2026 hingga Mei, mata uang kebanggaan Indonesia ini mengalami tekanan yang cukup signifikan dengan posisi dolar Amerika Serikat menembus angka Rp17.300.
Pelemahan sebesar 3,4 persen secara year to date ini menempatkan rupiah pada posisi yang cukup rentan jika dibandingkan dengan mata uang regional lainnya. Kondisi ini memicu memori kolektif publik kembali ke masa krisis moneter akhir tahun 90-an yang penuh tantangan.
Dinamika Rupiah di Tengah Geopolitik Global
Sentimen geopolitik menjadi faktor utama yang memicu pelemahan nilai tukar saat ini. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menyentuh kisaran US$100 per barel.
Kenaikan harga minyak mentah ini memberikan beban ganda bagi anggaran negara. Mengingat Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari, kebutuhan akan dolar untuk membiayai impor BBM dan LPG melonjak drastis hingga mencapai Rp500 triliun per tahun.
Berikut adalah perbandingan performa mata uang di kawasan ASEAN per Mei 2026:
| Mata Uang | Performa (YTD) | Status |
|---|---|---|
| Ringgit Malaysia | +2,36% | Menguat |
| Dolar Singapura | +1,03% | Menguat |
| Rupiah Indonesia | -3,40% | Melemah |
| Baht Thailand | -3,01% | Melemah |
Data di atas menunjukkan betapa fluktuatifnya pasar keuangan di Asia Tenggara saat ini. Ketergantungan pada impor energi menjadi salah satu variabel penentu mengapa rupiah belum mampu menunjukkan performa impresif seperti ringgit Malaysia.
Belajar dari Strategi Taktis Era Habibie
Melihat angka kurs yang menembus Rp17.300, posisi ini secara teknis telah melampaui titik terlemah pada era Presiden Baharudin Jusuf Habibie di tahun 1998. Kala itu, dolar sempat menyentuh level Rp16.800 di tengah badai krisis politik dan ekonomi yang hebat.
Namun, sejarah mencatat bagaimana sosok Habibie mampu melakukan manuver taktis untuk menjinakkan tekanan pasar. Tanpa dukungan intervensi Bank Indonesia yang saat itu belum memiliki kewenangan penuh, langkah-langkah strategis diambil untuk memulihkan kepercayaan investor global.
Strategi yang diterapkan pada masa tersebut terbukti efektif dalam menstabilkan ekonomi nasional secara bertahap. Berikut adalah langkah-langkah kunci yang dilakukan untuk memperkuat kembali nilai tukar rupiah:
-
Restrukturisasi Sektor Perbankan. Pemerintah melakukan perombakan besar-besaran dengan menggabungkan empat bank milik negara menjadi satu entitas kuat bernama Bank Mandiri. Langkah ini dibarengi dengan pemisahan Bank Indonesia dari pemerintah melalui UU Nomor 23 Tahun 1999 agar otoritas moneter menjadi independen dan bebas dari intervensi politik.
-
Implementasi Kebijakan Moneter Ketat. Otoritas menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia dengan suku bunga tinggi untuk menarik minat masyarakat kembali menabung. Kebijakan ini berhasil menyerap kelebihan likuiditas di pasar, sehingga suku bunga yang sempat mencapai 60 persen dapat ditekan turun hingga ke level belasan persen.
-
Pengendalian Harga Kebutuhan Pokok. Stabilitas harga listrik dan BBM subsidi dijaga ketat agar tidak memicu inflasi yang tidak terkendali. Langkah ini diambil untuk memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah badai krisis yang melanda sektor keuangan.
Keberhasilan langkah-langkah di atas memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya independensi lembaga moneter dan keberanian mengambil keputusan sulit. Restrukturisasi perbankan yang dilakukan saat itu menjadi fondasi bagi ketahanan sistem keuangan Indonesia di masa depan.
Kombinasi antara kebijakan moneter yang disiplin dan perlindungan terhadap sektor riil terbukti mampu meredam kepanikan pasar. Meskipun tantangan yang dihadapi saat ini berbeda secara konteks, prinsip dasar dalam menjaga kepercayaan pasar tetap relevan untuk diterapkan dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian.
Penting untuk dipahami bahwa data ekonomi, kurs mata uang, dan kebijakan pemerintah bersifat dinamis serta dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan situasi global maupun domestik. Informasi ini disajikan sebagai tinjauan historis dan analisis ekonomi untuk menambah wawasan mengenai pengelolaan nilai tukar.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













