Perbankan

Laba Bersih Bank Neo Commerce Capai Rp136,98 Miliar Sepanjang Kuartal I Tahun 2026 Ini

Rista Wulandari
×

Laba Bersih Bank Neo Commerce Capai Rp136,98 Miliar Sepanjang Kuartal I Tahun 2026 Ini

Sebarkan artikel ini
Laba Bersih Bank Neo Commerce Capai Rp136,98 Miliar Sepanjang Kuartal I Tahun 2026 Ini

PT Commerce Tbk (BBYB) kembali menunjukkan taringnya di industri perbankan digital Indonesia. Sepanjang kuartal I tahun 2026, bank yang dikenal dengan sebutan ini sukses mencatatkan laba bersih sebesar Rp136,98 miliar.

Pencapaian ini menjadi sinyal kuat bahwa tren kinerja positif yang dibangun sejak tahun lalu terus berlanjut. Keberhasilan ini sekaligus menegaskan posisi BNC dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang .

Analisis Kinerja Keuangan BNC Kuartal I 2026

Langkah strategis yang diambil manajemen BNC terlihat jelas pada komposisi Dana Pihak Ketiga (DPK). Meskipun secara total DPK tercatat Rp13,42 triliun atau mengalami sedikit kontraksi sebesar 1,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terdapat pergeseran dana yang cukup signifikan.

Peningkatan porsi tabungan menjadi bukti nyata keberhasilan strategi efisiensi biaya dana. Berikut adalah rincian perbandingan komposisi DPK BNC pada kuartal I 2026 dibandingkan tahun sebelumnya:

Komponen DPK Kuartal I 2025 (Triliun) Kuartal I 2026 (Triliun) Perubahan (%)
Tabungan Rp3,22 Rp3,50 +8,62%
Deposito Rp9,56 Rp9,35 -2,18%
Total DPK Rp13,69 Rp13,42 -1,97%

Data di atas menunjukkan adanya peningkatan pada instrumen tabungan sebesar 8,62 persen. Pergeseran ini selaras dengan fokus bank untuk memperkuat dana murah atau CASA rasio yang kini berada di level 30,34 persen.

Fokus Penyaluran Kredit dan Manajemen Risiko

Di sisi penyaluran kredit, BNC mengambil langkah yang lebih konservatif dan selektif. Per 31 2026, total kredit yang disalurkan tercatat sebesar Rp7,03 triliun, yang mencerminkan kontraksi 17,24 persen dari periode sebelumnya.

Keputusan untuk mengerem laju penyaluran kredit bukan tanpa alasan. Manajemen lebih memilih untuk menjaga kualitas aset di tengah kondisi geopolitik dunia yang sedang bergejolak.

Langkah Strategis Menjaga Kualitas Aset

  1. Pengetatan seleksi debitur untuk meminimalisir risiko di masa depan.
  2. Fokus pada segmen digital retail yang memiliki profil risiko lebih terukur.
  3. Penguatan ekosistem digital guna meningkatkan efisiensi operasional secara menyeluruh.
  4. Pemantauan ketat terhadap Non Performing Loan (NPL) agar tetap berada di level aman.

Hasil dari langkah selektif ini terlihat pada rasio NPL neto yang tetap terjaga dengan sangat baik di angka 0,43 persen. Stabilitas ini menjadi fondasi bagi BNC untuk tetap menjalankan bisnis dengan tata kelola yang sehat.

Rasio Keuangan dan Kekuatan Permodalan

Selain kualitas kredit, efisiensi operasional menjadi perhatian utama dalam laporan keuangan kuartal I 2026. BNC mencatatkan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) di angka 83,68 persen.

Sementara itu, dari sisi profitabilitas dan permodalan, terdapat peningkatan yang cukup mencolok dibandingkan tahun lalu. Berikut adalah tabel ringkasan rasio keuangan utama BNC:

Indikator Rasio Kuartal I 2025 (%) Kuartal I 2026 (%)
Cost to Income Ratio (CIR) Tidak disebutkan 32,93%
(NIM) Tidak disebutkan 13,50%
Capital Adequacy Ratio (CAR) 35,81% 50,60%

Peningkatan rasio kecukupan modal atau CAR ke level 50,60 persen menjadi indikator bahwa BNC memiliki bantalan permodalan yang sangat kuat. Lonjakan ini didorong oleh akumulasi laba bersih yang signifikan selama periode berjalan.

Proyeksi Masa Depan dan Ekspansi Bisnis

Direktur Utama , Eri Budiono, menegaskan bahwa optimisme tetap menjadi napas utama dalam menjalankan operasional sepanjang tahun 2026. Meskipun ketidakpastian ekonomi masih membayangi, fondasi permodalan yang kuat memberikan ruang gerak yang luas bagi perusahaan.

Strategi ke depan akan tetap berfokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan. Hal ini mencakup penguatan ekosistem digital serta peningkatan kapabilitas transaksi bagi nasabah.

Rencana Pengembangan Bisnis BNC

  1. Mendorong pertumbuhan kredit secara hati-hati pada segmen digital retail.
  2. Melanjutkan tren kinerja positif yang telah dicapai dalam dua tahun terakhir.
  3. Memperkuat manajemen risiko seiring dengan ekspansi bisnis yang dilakukan.
  4. Mengoptimalkan layanan digital untuk menarik lebih banyak nasabah baru.

Total aset perusahaan sendiri tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 0,94 persen menjadi Rp18,34 triliun per Maret 2026. Angka ini menunjukkan bahwa meski terdapat penyesuaian pada sisi kredit, aset perusahaan secara keseluruhan tetap dalam tren kenaikan.

Keberhasilan menjaga likuiditas yang memadai menjadi kunci utama bagi BNC untuk terus berekspansi. Dengan permodalan yang tebal dan manajemen risiko yang teruji, BNC berada di posisi yang cukup kompetitif untuk menghadapi tantangan perbankan digital di masa depan.

Optimisme manajemen didasarkan pada rekam jejak positif yang konsisten dalam beberapa periode terakhir. Selama tetap terjaga, peluang untuk mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi di kuartal-kuartal berikutnya tetap terbuka lebar.


Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data laporan keuangan PT Bank Neo Commerce Tbk pada kuartal I 2026. Informasi mengenai kinerja keuangan dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan rilis laporan resmi perusahaan di periode berikutnya. Data ini tidak dimaksudkan sebagai saran investasi atau rekomendasi keuangan.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.