Nasional

Lonjakan Harga Bahan Pangan Bikin Inflasi di Negara Berkembang Tembus 5,1% di Tahun 2026

Retno Ayuningrum
×

Lonjakan Harga Bahan Pangan Bikin Inflasi di Negara Berkembang Tembus 5,1% di Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
Lonjakan Harga Bahan Pangan Bikin Inflasi di Negara Berkembang Tembus 5,1% di Tahun 2026

harga komoditas akibat eskalasi konflik di Timur Tengah kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dunia. Dampak buruk ini diprediksi akan menekan laju pertumbuhan ekonomi global secara signifikan, terutama bagi negara-negara berkembang yang masih berupaya memulihkan kondisi fiskal.

Laporan terbaru dari Bank Dunia melalui Commodity Markets Outlook memberikan sinyal peringatan keras terkait proyeksi inflasi di masa mendatang. Angka inflasi di negara berkembang diperkirakan akan menyentuh rata-rata 5,1 persen pada 2026 berdasarkan skenario dasar yang telah ditetapkan.

Dampak Eskalasi Konflik terhadap Inflasi

Proyeksi inflasi tersebut mengalami kenaikan sebesar satu poin persentase dibandingkan ekspektasi awal sebelum konflik pecah. Angka ini juga menunjukkan tren peningkatan yang cukup tajam dari posisi 4,7 persen pada tahun sebelumnya.

Kondisi ekonomi yang tidak menentu ini dipicu oleh tergerusnya daya masyarakat akibat mahalnya . Selain itu, anjloknya volume ekspor akibat pembatasan akses di kawasan Timur Tengah turut memperburuk laju pertumbuhan ekonomi di berbagai negara berkembang.

Bank Dunia secara resmi memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang menjadi hanya 3,6 persen pada 2026. Angka tersebut merupakan revisi turun sebesar 0,4 poin persentase sejak pembaruan data yang dilakukan pada Januari lalu.

Berikut adalah rincian proyeksi ekonomi yang mencerminkan tekanan inflasi dan pertumbuhan di negara berkembang:

Indikator Ekonomi Proyeksi Awal Proyeksi Terbaru (2026)
Inflasi Negara Berkembang 4,1% 5,1%
Pertumbuhan Ekonomi 4,0% 3,6%
Harga Minyak (Skenario Dasar) Stabil Fluktuatif
Harga Minyak (Skenario Terburuk) USD 85/barel USD 115/barel

Tabel di atas menunjukkan perbandingan proyeksi sebelum dan sesudah adanya eskalasi konflik yang memengaruhi pasar komoditas global. angka ini menjadi indikator bahwa tantangan ekonomi ke depan akan semakin berat bagi banyak negara.

Kerentanan Masyarakat dan Beban Utang

Indermit Gill, selaku Kepala Ekonom sekaligus Wakil Senior Bidang Ekonomi Pembangunan Grup Bank Dunia, menegaskan bahwa peperangan saat ini memberikan efek kumulatif yang menghantam ekonomi global. Situasi ini menciptakan tekanan ganda bagi negara berkembang yang sudah memiliki beban utang cukup besar.

Masyarakat kelas bawah menjadi kelompok yang paling menderita dalam situasi inflasi tinggi ini. Porsi pendapatan mereka yang sangat besar terpaksa habis hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan yang harganya terus melambung.

Untuk memahami bagaimana eskalasi konflik ini memengaruhi stabilitas ekonomi secara bertahap, berikut adalah poin-poin utama yang menjadi perhatian para pengamat ekonomi:

1. Kenaikan Harga Pangan dan Energi

Ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah membuat harga bahan bakar minyak mentah sangat sensitif terhadap situasi geopolitik. Ketika harga minyak naik, biaya dan distribusi barang kebutuhan pokok otomatis ikut terdongkrak.

2. Penurunan Daya Beli Masyarakat

Inflasi yang tinggi secara langsung menggerus nilai riil pendapatan rumah tangga. Masyarakat terpaksa melakukan pengetatan anggaran secara karena harga barang di pasar tidak lagi terjangkau.

3. Perlambatan Sektor Ekspor

Gangguan pada jalur perdagangan internasional menyebabkan volume ekspor negara berkembang menurun drastis. Hal ini membatasi aliran devisa masuk yang sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas mata uang lokal.

4. Peningkatan Beban Utang Negara

Negara berkembang yang memiliki utang dalam mata uang asing akan semakin tertekan saat nilai tukar melemah akibat inflasi. Pembayaran bunga utang menjadi lebih mahal dan menyedot anggaran belanja negara yang seharusnya bisa digunakan untuk program kesejahteraan sosial.

5. Risiko Skenario Terburuk

Jika konflik terus memanas dan pemulihan volume ekspor minyak berjalan lambat, inflasi bisa mencapai level yang lebih mengkhawatirkan. Skenario terburuk memprediksi harga minyak Brent bisa menyentuh angka USD 115 per barel.

Jika skenario terburuk tersebut benar-benar terjadi, inflasi di negara berkembang dapat meroket hingga 5,8 persen pada tahun ini. Level tersebut merupakan rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir dan menyamai kondisi krisis pada 2022 lalu.

Kondisi ekonomi global saat ini memang sangat dipengaruhi oleh variabel geopolitik yang sulit diprediksi. Ketidakpastian pasokan energi menjadi faktor penentu utama apakah inflasi akan melandai atau justru semakin tidak terkendali di masa depan.

Setiap negara berkembang kini dituntut untuk lebih bijak dalam mengelola kebijakan fiskal dan moneter guna meredam dampak inflasi. Upaya diversifikasi sumber energi dan penguatan ketahanan pangan domestik menjadi langkah krusial untuk meminimalisir ketergantungan pada pasar global yang sedang terguncang.

Disclaimer: Data, proyeksi, dan angka yang tercantum dalam artikel ini didasarkan pada laporan Commodity Markets Outlook dari Grup Bank Dunia dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan situasi geopolitik serta kebijakan ekonomi global. Informasi ini bersifat informatif dan tidak dapat dijadikan sebagai acuan tunggal untuk pengambilan keputusan investasi atau kebijakan ekonomi.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.