Finansial

Langkah BNI Perkuat Modal Inti Melalui Penerbitan Obligasi AT-1 Senilai US$ 700 Juta 2026

Herdi Alif Al Hikam
×

Langkah BNI Perkuat Modal Inti Melalui Penerbitan Obligasi AT-1 Senilai US$ 700 Juta 2026

Sebarkan artikel ini
Langkah BNI Perkuat Modal Inti Melalui Penerbitan Obligasi AT-1 Senilai US$ 700 Juta 2026

Langkah strategis diambil PT Bank Negara Indonesia (BNI) untuk memperkokoh struktur permodalan di tengah dinamika ekonomi global. Pada , bank pelat merah ini resmi menerbitkan instrumen Additional Tier-1 (AT1) dengan nilai mencapai US$ 700 juta atau setara dengan Rp 11,9 triliun.

Langkah ini bukan sekadar upaya menambah modal, melainkan strategi proaktif untuk memperkuat fondasi keuangan perusahaan. Dengan permodalan yang lebih tebal, BNI memiliki kapasitas lebih besar dalam memitigasi risiko sekaligus membuka keran ekspansi bisnis yang lebih luas dan berkelanjutan.

Memperkuat Fondasi Melalui Instrumen AT1

instrumen AT1 ini menempatkan BNI sebagai pionir di industri perbankan Indonesia dalam pemanfaatan instrumen permodalan tersebut. Langkah ini merupakan kelanjutan dari aksi serupa yang pernah dilakukan pada 2021 dengan nilai US$ 600 juta atau sekitar Rp 8,6 triliun.

Surat berharga ini dilepas ke pasar dengan tingkat suku bunga 4,3% per tahun. Seluruh proses penerbitan mengacu pada ketentuan Regulation S berdasarkan US Securities Act dan telah secara resmi di Singapore Stock Exchange.

Berikut adalah rincian teknis terkait penerbitan instrumen modal tersebut:

  1. Nilai emisi mencapai US$ 700 juta atau sekitar Rp 11,9 triliun.
  2. Tingkat suku bunga ditetapkan sebesar 4,3% per tahun.
  3. Mengikuti standar Regulation S sesuai US Securities Act.
  4. Pencatatan dilakukan di Singapore Stock Exchange untuk menjangkau global.

Penguatan modal ini menjadi amunisi penting bagi BNI untuk menjalankan berbagai rencana strategis jangka panjang. Terutama di tengah iklim perbankan yang menuntut efisiensi tinggi dan ketahanan terhadap guncangan pasar.

Transformasi BRAVE Sebagai Penggerak Utama

Seiring dengan penguatan modal, BNI juga tengah tancap gas menjalankan transformasi bisnis berskala besar. Inisiatif ini dikenal dengan nama BRAVE, yang merupakan singkatan dari Branch, Region, Area, Value, Empowerment.

Fokus utama dari transformasi ini adalah memberdayakan unit operasional terkecil, yakni kantor cabang dan kantor cabang pembantu. Melalui pendekatan ini, unit-unit tersebut diposisikan sebagai ujung tombak utama dalam menawarkan serta layanan perbankan kepada nasabah.

Tahapan implementasi transformasi BRAVE dapat dilihat pada daftar berikut:

  1. Memulai fase awal transformasi pada kuartal IV- dengan model kapabilitas bertahap.
  2. Mengoptimalkan peran lebih dari 1.700 kantor cabang di seluruh Indonesia sebagai pusat layanan.
  3. Meningkatkan kualitas pertumbuhan melalui pendekatan kewilayahan yang lebih presisi.
  4. Mendorong pertumbuhan atau CASA secara berkelanjutan.

Transformasi ini dirancang untuk memastikan setiap kantor cabang memiliki produktivitas yang lebih tinggi. Dengan memberdayakan jaringan yang luas, BNI menargetkan peningkatan pangsa pasar yang lebih signifikan di industri perbankan nasional.

Kinerja Keuangan yang Solid di Awal 2026

Hasil dari inisiatif BRAVE mulai terlihat nyata hanya dalam waktu enam bulan setelah peluncuran. BNI berhasil mencatatkan pertumbuhan bisnis yang melampaui rata-rata industri, baik dari sektor penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga.

Data kinerja keuangan BNI hingga menunjukkan tren yang sangat positif. Pertumbuhan kredit tercatat mencapai 20,1% secara year on year, yang didukung oleh struktur pendanaan CASA yang semakin solid dengan kenaikan 26,6% secara year on year.

Berikut adalah tabel perbandingan kinerja keuangan BNI pada kuartal I-2026:

Indikator Keuangan Pertumbuhan (yoy) Keterangan
Penyaluran Kredit 20,1% Didorong ekspansi bisnis
Dana Pihak Ketiga (DPK) 34,3% Mencapai Rp 1.100 triliun
Pertumbuhan CASA 26,6% Mendukung efisiensi biaya dana

Pencapaian DPK sebesar Rp 1.100 triliun pada kuartal I-2026 menjadi bukti kepercayaan nasabah yang terus meningkat. Struktur pendanaan yang kuat ini memberikan ruang bagi bank untuk menjaga efisiensi biaya dana di tengah dinamika pasar yang penuh tantangan.

Keberhasilan ini menjadi sinyal positif bagi para pemangku kepentingan bahwa strategi yang diterapkan berada di jalur yang tepat. Dengan modal yang kuat dan operasional yang efisien, BNI tampak siap menghadapi tantangan ekonomi di sisa tahun 2026.

Disclaimer: Data dan informasi yang disajikan dalam artikel ini didasarkan pada laporan terkini per April 2026. Kondisi pasar, nilai tukar, dan kebijakan perbankan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika ekonomi global dan regulasi yang berlaku.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.