Nasional

Pekerja Ojek Online Sampai ART Wajib Dapat Jaminan Sosial Mulai 2026

Retno Ayuningrum
×

Pekerja Ojek Online Sampai ART Wajib Dapat Jaminan Sosial Mulai 2026

Sebarkan artikel ini
Pekerja Ojek Online Sampai ART Wajib Dapat Jaminan Sosial Mulai 2026

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa jaminan sosial harus menjangkau semua pekerja, termasuk mereka yang bekerja di sektor informal. Hal ini mencakup pekerja rumah tangga, driver ojek online, kurir, hingga pekerja di bidang perikanan dan perkebunan. Perlindungan sosial bukan lagi opsi, melainkan hak setiap individu yang bekerja.

Menurut Yassierli, tujuan utama kebijakan ketenagakerjaan adalah memastikan setiap warga negara memiliki akses terhadap pekerjaan dan penghidupan yang layak. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap masih sempitnya cakupan jaminan sosial di kalangan pekerja informal yang jumlahnya terus meningkat seiring pertumbuhan .

Perlindungan Sosial untuk Pekerja Informal

Perlindungan jaminan sosial memang selama ini lebih banyak dinikmati oleh pekerja formal. Padahal, pekerja informal justru menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Mereka bekerja keras, namun rentan terhadap ketenagakerjaan karena minimnya perlindungan.

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) tengah giat mendorong penguatan regulasi agar pekerja di sektor digital dan lainnya bisa mendapatkan hak yang sama. Termasuk di dalamnya adalah perlindungan dari BPJS Ketenagakerjaan.

1. Pekerja Rumah Tangga Wajib Masuk Sistem Jaminan Sosial

Salah satu fokus utama adalah pekerja rumah tangga. Meski sering diabaikan, mereka adalah bagian dari yang sah dan berhak mendapat perlindungan. Regulasi yang kuat akan memastikan mereka diakui secara hukum sebagai pekerja dan mendapat akses ke program jaminan sosial.

2. Driver Ojol dan Kurir Masuk Skema Perlindungan

Pengemudi ojek online dan kurir juga menjadi target utama dalam ekspansi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Banyak dari mereka yang belum terdaftar karena status kerja yang tidak jelas dan model kontrak kerja yang fleksibel.

3. Integrasi Data untuk Kebijakan yang Lebih Tepat Sasaran

Menaker Yassierli menyarankan perlunya integrasi data lintas instansi. Data yang terintegrasi membantu pemerintah merancang kebijakan yang lebih , serta mencegah risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Manfaat Jaminan Sosial bagi Pekerja Informal

Perlindungan jaminan sosial memberikan sejumlah manfaat penting bagi pekerja informal. Mulai dari jaminan kecelakaan kerja, pensiun, hingga tunjangan hari tua. Ini adalah bentuk investasi terhadap masa depan mereka dan keluarganya.

BPJS Ketenagakerjaan bukan hanya lembaga asuransi biasa. Lembaga ini memiliki misi besar untuk memperluas cakupan kepesertaan dan memberikan manfaat maksimal kepada para pekerja, terlepas dari sektor tempat mereka bekerja.

Tantangan dalam Ekspansi Jaminan Sosial

Meski niat baik sudah jelas, beberapa tantangan tetap menghalangi ekspansi jaminan sosial ke kalangan pekerja informal:

  • Status kerja yang tidak pasti
  • Kurangnya kesadaran akan pentingnya jaminan sosial
  • Ketidaktahuan cara mendaftar
  • Biaya iuran yang dirasa memberatkan

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, pekerja, dan platform digital.

Peran Platform Digital dalam Perlindungan Pekerja

Platform digital seperti Gojek dan Grab mulai mengambil peran dalam memberikan perlindungan kepada mitra kerjanya. Namun, upaya ini masih belum merata dan belum sepenuhnya mengacu pada standar nasional.

Platform Program Perlindungan Cakupan
Gojek Asuransi kecelakaan + BPJS Ketenagakerjaan Mitra aktif
Grab Asuransi kecelakaan + Santunan hari tua Mitra aktif
Shopee Santunan kecelakaan + Tunjangan hari tua Kurir aktif

Program-program tersebut merupakan langkah awal yang positif. Namun, idealnya semua platform memiliki kebijakan yang seragam dan transparan.

Langkah Strategis Menuju Perlindungan Universal

Agar semua pekerja mendapat jaminan sosial, beberapa langkah strategis perlu dilakukan secara bersamaan:

1. Sosialisasi yang Lebih Luas

Masyarakat perlu diberi pemahaman tentang pentingnya jaminan sosial sejak dini. Edukasi bisa dilakukan melalui media sosial, komunitas lokal, hingga pelatihan kerja.

2. Kemudahan Registrasi

Proses pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan harus disederhanakan. Misalnya dengan adanya fitur registrasi digital atau kerja sama dengan platform digital.

3. Subsidi Iuran untuk Kelompok Rentan

Kelompok pekerja dengan penghasilan rendah perlu mendapat subsidi iuran. Ini akan meringankan beban dan mendorong partisipasi aktif.

4. Pengawasan dan Evaluasi Berkala

Pemerintah harus melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas program jaminan sosial. Ini penting untuk menyesuaikan kebijakan dengan perkembangan .

Dukungan dari BPJS Ketenagakerjaan

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Syaiful Hidayat, menyampaikan bahwa semua pekerja, baik formal maupun informal, menjadi prioritas utama. Ia menekankan bahwa bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan investasi jangka panjang terhadap kesejahteraan nasional.

“Mari kita bangun bersama agar perlindungan pekerja tidak lagi dipandang sebagai kewajiban semata,” ujar Syaiful.

Kesimpulan

Ekspansi jaminan sosial ke pekerja informal bukan hanya soal keadilan, tapi juga investasi terhadap nasional. Semakin banyak pekerja yang terlindungi, maka semakin kuat pula fondasi kesejahteraan sosial di Indonesia.

Namun, pencapaian ini tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah. Dibutuhkan sinergi antara berbagai elemen, termasuk platform digital, asosiasi pekerja, dan masyarakat luas. Hanya dengan kolaborasi yang solid, visi perlindungan universal bisa menjadi kenyataan.

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan pemerintah dan lembaga terkait.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.