Nasional

Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Brent Capai USD101 per Barel di 2026

Herdi Alif Al Hikam
×

Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Brent Capai USD101 per Barel di 2026

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Brent Capai USD101 per Barel di 2026

Harga kembali naik tajam, dengan Brent mencatat level tertingginya dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia.

Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh insiden yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Serangan terhadap kapal-kapal komersial serta blokade maritim oleh terhadap pelabuhan Iran memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan global. Brent yang sebelumnya berada di kisaran USD70 per barel kini melonjak hingga USD101,82 per barel.

Ketegangan Geopolitik Picu Lonjakan Harga Minyak

Ketegangan antara AS dan Iran bukan hal baru, tetapi situasi kini semakin memanas. Serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan penyitaan kapal komersial oleh Garda Revolusi Iran menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak.

1. Serangan Terhadap Kapal di Selat Hormuz

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyerang sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz. Serangan ini dianggap sebagai respons terhadap blokade maritim yang dilakukan AS terhadap pelabuhan Iran.

Selain itu, dua kapal komersial, yaitu MSC Francesca dan Epaminondas, disita dengan melanggar aturan pelayaran. Penyitaan ini semakin memperburuk situasi yang sudah tegang.

2. Blokade Maritim oleh AS

Blokade yang dilakukan oleh angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran dianggap sebagai tindakan perang oleh pemerintah Iran. Presiden Trump memperpanjang blokade tanpa batas waktu, sementara Iran menyatakan bahwa langkah ini adalah penghalang utama dalam proses negosiasi damai.

Sejauh ini, lebih dari 28 kapal telah dialihkan atau dipaksa kembali ke pelabuhan asalnya akibat blokade ini.

3. Dampak pada Jalur Pengiriman Strategis

Selat Hormuz merupakan jalur kritis yang mengangkut sekitar 20 persen minyak dunia. Ketika akses ke jalur ini terganggu, pasar minyak global langsung merespons dengan lonjakan harga. Iran secara efektif memblokir sebagian besar lalu lintas di selat tersebut, memperparah ketidakpastian.

Respons Pasar dan Sentimen Investor

Lonjakan harga minyak tidak serta merta membuat investor panik. Meskipun volatilitas tinggi, banyak analis percaya bahwa pasar masih menunggu penyelesaian damai yang relatif cepat.

Russ Mould dari AJ Bell menyatakan bahwa meskipun ketegangan berlanjut, harga minyak saat ini masih jauh di bawah level tertinggi historis yang tercatat pada 2008 lalu. Dalam nilai riil, harga minyak saat ini masih lebih rendah dibandingkan puncak dua dekade lalu.

Dinamika Persediaan Minyak AS

Sementara itu, di sisi pasokan, persediaan minyak AS memberikan gambaran yang beragam. Data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan persediaan sebesar 4,4 juta barel, jauh di bawah ekspektasi.

Namun, data dari Badan Informasi Energi AS (EIA) justru mencatat kenaikan sebesar 1,9 juta barel. Meskipun demikian, total permintaan minyak AS tetap tinggi, mencapai rata-rata 20,5 juta barel per hari.

Perbandingan Data Persediaan Minyak AS

Sumber Data Perubahan Persediaan Perkiraan Sebelumnya
API -4,4 juta barel -1 juta barel
EIA +1,9 juta barel -1,9 juta barel

Langkah Pemerintah AS untuk Stabilisasi Pasar

Menghadapi lonjakan harga, pemerintah AS mulai mempertimbangkan langkah-langkah darurat. Salah satunya adalah pengecualian sementara yang memungkinkan kapal asing mengangkut minyak antar pelabuhan domestik.

Langkah ini diambil untuk meningkatkan distribusi minyak dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor. Namun, dampaknya baru akan terlihat dalam beberapa minggu ke depan.

1. Pengecualian Distribusi Minyak Domestik

Presiden Trump mengumumkan pengecualian 60 hari yang memungkinkan kapal kargo berbendera asing mengangkut minyak antar pelabuhan AS. Tujuannya adalah untuk mempercepat distribusi dan menekan harga bensin yang telah naik hingga 40 persen sejak konflik dimulai.

2. Pemanfaatan Cadangan Minyak Strategis

Meskipun belum diumumkan secara , ada spekulasi bahwa AS mungkin akan menggunakan Cadangan Minyak Strategis jika situasi semakin memburuk. Langkah ini biasanya diambil dalam kondisi darurat untuk menjaga stabilitas pasokan.

Perbandingan Harga Minyak Global

Komoditas Harga Sebelum Konflik Harga Saat Ini Kenaikan (%)
Brent USD70/barel USD101,82/barel 45%
WTI USD65/barel USD93,01/barel 43%

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Ketegangan di Selat Hormuz belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pernyataan keras dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari penyelesaian.

Pembukaan kembali Selat Hormuz tampaknya tidak akan terjadi dalam waktu dekat, selama blokade dan penyanderaan kapal masih berlangsung. Ini berarti tekanan pada harga minyak akan terus berlangsung.

1. Pengaruh pada Harga Bahan Bakar

Harga bensin di AS telah naik sekitar 40 persen sejak konflik dimulai. Lonjakan ini dirasakan langsung oleh konsumen, terutama di negara-negara yang bergantung pada impor minyak mentah.

2. Dampak pada Ekonomi Global

Lonjakan harga minyak berdampak pada berbagai sektor, termasuk transportasi, manufaktur, dan pertanian. Negara-negara pengimpor minyak besar seperti India, Jepang, dan Tiongkok akan merasakan dampaknya dalam bentuk kenaikan biaya dan inflasi.

Kesimpulan

Lonjakan harga minyak Brent hingga USD101 per barel adalah cerminan dari ketegangan geopolitik yang terus meningkat di Selat Hormuz. Blokade maritim oleh AS dan penyanderaan kapal oleh Iran menciptakan ketidakpastian yang signifikan di global.

Langkah-langkah mitigasi dari AS, seperti pengecualian distribusi minyak dan potensi penggunaan cadangan strategis, memberikan sedikit harapan akan stabilisasi harga. Namun, selama konflik belum usai, tekanan pada harga minyak akan terus berlangsung.

Disclaimer: Data dan situasi geopolitik dapat berubah sewaktu-waktu. Harga minyak sangat rentan terhadap perkembangan konflik dan kebijakan pemerintah. Informasi dalam ini bersifat terkini hingga April .

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.