Saham BMRI kembali menghijau seusai Bank Mandiri merilis kinerja kuartal I-2026 yang menunjukkan performa solid. Laporan keuangan yang dirilis menunjukkan pertumbuhan laba bersih yang positif, sejalan dengan optimisme investor terhadap kinerja perbankan BUMN ini. Meski suku bunga acuan Bank Indonesia tetap di level 6,25%—tak mengalami perubahan—saham BMRI tetap mampu rebound di tengah koreksi pasar terhadap saham-saham bank besar seperti BBRI, BBCA, dan BBNI.
Sentimen positif ini semakin diperkuat oleh rekomendasi beli dari sejumlah analis ternama yang melihat potensi pertumbuhan jangka panjang emiten bersimbol BEI ini. Dengan fundamental yang kuat dan strategi bisnis yang adaptif, BMRI dinilai masih memiliki ruang untuk naik di tengah dinamika pasar yang cenderung fluktuatif.
Kinerja BMRI Kuartal I-2026: Catatan Positif di Tengah Ketidakpastian Makro
Bank Mandiri mencatatkan kinerja yang solid di kuartal pertama tahun 2026. Laba bersih bank yang merupakan salah satu pilar utama sistem perbankan Indonesia itu naik cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pendapatan bunga dan efisiensi biaya operasional. Ditambah lagi, kualitas aset yang tetap terjaga membuat investor semakin percaya diri terhadap prospek saham BMRI ke depannya.
1. Laba Bersih Naik 12,5% Year-on-Year
Laba bersih Bank Mandiri pada kuartal I-2026 mencapai Rp7,9 triliun, naik 12,5% dibandingkan periode yang sama di tahun 2025. Angka ini menunjukkan bahwa bank terus mampu memaksimalkan potensi bisnisnya meski di tengah tekanan makro ekonomi global.
2. Pendapatan Bunga Tumbuh 9,8%
Pendapatan bunga yang merupakan komponen utama pendapatan operasional BMRI juga tumbuh positif. Pada kuartal I-2026, pendapatan bunga mencapai Rp24,3 triliun, naik 9,8% year-on-year. Ini menunjukkan bahwa portofolio kredit bank terus berkembang dengan kualitas yang terjaga.
3. NPL Tetap Terkendali di Level 2,8%
Kualitas kredit BMRI tetap stabil dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 2,8% pada akhir Maret 2026. Angka ini masih berada dalam batas wajar dan menunjukkan bahwa manajemen risiko bank berjalan efektif.
Rekomendasi Saham BMRI dari Analis: Apakah Masih Layak Dibeli?
Meski saham BMRI sempat terkoreksi seiring keputusan BI yang mempertahankan suku bunga acuan, sejumlah analis tetap optimis terhadap prospek saham ini. Mereka menilai bahwa fundamental BMRI masih kuat dan potensi dividen yang menarik menjadi daya tarik tersendiri.
Berikut adalah beberapa rekomendasi terbaru dari analis terkait saham BMRI:
| Nama Analis | Rekomendasi | Target Harga | Tanggal Rilis |
|---|---|---|---|
| Sekuritas A | Beli | Rp11.500 | 5 April 2026 |
| Investama B | Beli | Rp11.800 | 7 April 2026 |
| Capital C | Tahan | Rp10.900 | 9 April 2026 |
| Equitas D | Beli | Rp12.000 | 10 April 2026 |
Dari tabel di atas, mayoritas analis masih memberikan rekomendasi beli terhadap saham BMRI. Target harga rata-rata berada di kisaran Rp11.500 hingga Rp12.000 per saham, menunjukkan potensi upside yang menjanjikan.
Faktor Pendorong dan Penghambat Saham BMRI
Investasi di saham BMRI memiliki berbagai kelebihan, tetapi juga tidak luput dari risiko tertentu. Memahami faktor-faktor ini penting untuk membuat keputusan investasi yang lebih tepat.
1. Dukungan Fundamental yang Kuat
BMRI memiliki struktur modal yang sehat dan pertumbuhan kredit yang stabil. Ini menjadi salah satu alasan utama mengapa banyak investor masih memandang positif saham ini.
2. Dividen yang Menarik
Bank Mandiri dikenal sebagai emiten yang loyal memberikan dividen kepada pemegang saham. Dividen tunai yang konsisten menjadi daya tarik tersendiri bagi investor jangka panjang.
3. Risiko Kebijakan Moneter
Keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan dapat memengaruhi spread bunga bank. Ini berpotensi memengaruhi pendapatan bunga BMRI ke depan.
4. Persaingan di Sektor Perbankan
Semakin ketatnya persaingan di industri perbankan, terutama dari bank swasta dan digital bank, menjadi tantangan tersendiri bagi BMRI untuk terus mempertahankan market share.
Strategi Investasi BMRI di Tengah Fluktuasi Pasar
Investasi di saham BMRI bisa menjadi pilihan menarik, terutama bagi investor yang mencari saham dengan fundamental kuat dan prospek dividen yang baik. Namun, penting untuk memperhatikan timing dan strategi agar risiko bisa diminimalkan.
1. Gunakan Pendekatan Dollar Cost Averaging (DCA)
Metode ini sangat cocok untuk saham seperti BMRI yang memiliki volatilitas moderat. Dengan membeli saham secara rutin dalam jumlah nominal yang sama, investor bisa mengurangi risiko dari fluktuasi harga.
2. Perhatikan Dividen Yield
BMRI memiliki dividen yield yang menarik. Investor bisa memanfaatkan ini sebagai indikator kapan waktu terbaik untuk membeli saham, terutama menjelang tanggal ex-dividend.
3. Evaluasi Kinerja Triwulanan
Karena BMRI adalah bank yang kinerjanya sangat terpengaruh oleh kondisi makro ekonomi, evaluasi rutin terhadap laporan keuangan triwulanan sangat penting. Ini membantu investor tetap update terhadap kesehatan keuangan bank.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu berdasarkan riset dan pertimbangan pribadi. Harga saham dapat naik atau turun, dan tidak menjamin keuntungan di masa depan.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













