Finansial

ICT Institute Catat Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Berdampak pada Peningkatan Permintaan Layanan BNPL di Tahun 2026

Fadhly Ramadan
×

ICT Institute Catat Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Berdampak pada Peningkatan Permintaan Layanan BNPL di Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
ICT Institute Catat Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Berdampak pada Peningkatan Permintaan Layanan BNPL di Tahun 2026

Kenaikan harga BBM non subsidi yang terjadi akhir pekan lalu memicu gelombang dampak di berbagai sektor ekonomi. Salah satunya adalah permintaan terhadap layanan Buy Now Pay Later (BNPL). Meskipun terdengar positif bagi industri fintech, lonjakan permintaan ini bukanlah cerminan dari masyarakat yang meningkat, melainkan respon terhadap tekanan finansial yang muncul akibat lonjakan .

Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, menyatakan bahwa kenaikan harga BBM membuat masyarakat mencari cara untuk tetap bisa bertahan secara finansial. BNPL hadir sebagai solusi sementara, memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan arus kas, terutama untuk kebutuhan sehari-hari.

Permintaan BNPL Dipicu oleh Tekanan Biaya Hidup

menjadi kelompok yang paling aktif menggunakan layanan BNPL saat ini. Mereka memanfaatkannya sebagai alat bantu likuiditas jangka pendek. Namun, ini bukan pertanda ekonomi yang kuat. Justru sebaliknya, penggunaan BNPL yang meningkat bisa jadi indikator bahwa tekanan ekonomi sedang dirasakan oleh banyak orang.

Heru menekankan bahwa pertumbuhan pengguna layanan BNPL tidak serta merta menunjukkan peningkatan kesejahteraan. Malah, ini bisa menjadi tanda bahwa masyarakat sedang kesulitan menjaga keseimbangan keuangan di tengah lonjakan pengeluaran.

1. Kelas Menengah Jadi Pengguna Utama BNPL

Kelas menengah sering kali memiliki pola konsumsi yang cukup stabil namun sensitif terhadap fluktuasi harga. Saat harga BBM naik, mereka merasa terpaksa mencari untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan bulanan tanpa menguras tabungan.

2. BNPL sebagai Alat Manajemen Likuiditas

Layanan BNPL memungkinkan pengguna untuk membeli barang sekarang dan membayar nanti. Bagi kalangan menengah, ini sangat berguna untuk menjaga arus kas tetap lancar, terutama saat ada lonjakan pengeluaran mendadak.

3. Bukan Indikator Daya Beli, Melainkan Tanda Tekanan Finansial

Heru menilai bahwa meningkatnya penggunaan BNPL bukan berarti masyarakat lebih mampu. Justru, ini menunjukkan bahwa banyak orang sedang mencari celah untuk tetap bisa bertahan hidup tanpa harus mengorbankan gaya hidup mereka secara drastis.

Risiko Macet Pinjaman Naik Bersama Permintaan BNPL

Naiknya permintaan BNPL juga membawa risiko tersendiri. Salah satunya adalah meningkatnya potensi kredit macet. Saat biaya hidup naik, kemampuan masyarakat untuk membayar cicilan juga bisa terganggu. Ini menjadi tantangan besar bagi perusahaan BNPL.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Non Performing Financing (NPF) gross BNPL perusahaan pembiayaan mencapai 2,79% pada Februari 2026, naik tipis dari 2,77% di bulan sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa risiko gagal bayar mulai mengintai.

1. Peningkatan Biaya Hidup Ganggu Kemampuan Bayar

Kenaikan harga BBM berdampak langsung pada pengeluaran transportasi dan . Ini kemudian memicu kenaikan dan jasa secara umum. Saat pengeluaran meningkat, kemampuan masyarakat untuk membayar pinjaman bisa turun.

2. NPF BNPL Naik Tipis Tapi Perlu Diwaspadai

Walaupun kenaikannya belum signifikan, angka NPF yang terus naik menunjukkan bahwa perusahaan BNPL perlu waspada. Lonjakan permintaan bisa berbalik menjadi beban jika manajemen risiko tidak dilakukan dengan baik.

3. Edukasi Konsumen Jadi Kunci Mengurangi Risiko

Salah satu langkah penting yang bisa diambil adalah meningkatkan literasi keuangan. Konsumen yang paham risiko dan tanggung jawab saat menggunakan BNPL cenderung lebih disiplin dalam membayar cicilan.

Strategi Perusahaan BNPL Menghadapi Lonjakan Permintaan

Di tengah lonjakan permintaan, perusahaan BNPL dituntut untuk lebih selektif dan bijak dalam mengelola risiko. Pendekatan agresif bisa berujung pada peningkatan kredit macet. Oleh karena itu, strategi yang lebih konservatif justru menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.

1. Perketat Penilaian Kredit Berbasis Data Real-Time

Sistem penilaian kredit yang andal dan up-to-date bisa membantu perusahaan menilai risiko setiap calon pengguna. Dengan data real-time, keputusan pemberian pinjaman bisa lebih tepat sasaran.

2. Sesuaikan Limit Pinjaman Secara Dinamis

Limit pinjaman yang fleksibel sesuai dengan kemampuan pengguna bisa mengurangi risiko gagal bayar. Ini juga membantu menjaga kesehatan finansial pengguna agar tidak terjebak utang berlebih.

3. Tingkatkan Pemantauan Perilaku Pengguna

Melacak pola penggunaan BNPL bisa memberikan gambaran awal tentang potensi risiko. Misalnya, pengguna yang sering melewati batas waktu pembayaran bisa menjadi fokus utama untuk intervensi dini.

Data Pertumbuhan BNPL di Awal 2026

Pertumbuhan layanan BNPL di awal tahun 2026 tercatat cukup signifikan. OJK mencatat volume penyaluran BNPL perusahaan pembiayaan mencapai Rp12,59 triliun pada Februari 2026. Angka ini naik dari Rp12,18 triliun di bulan sebelumnya.

Bulan Volume Penyaluran BNPL NPF Gross
Januari 2026 Rp12,18 triliun 2,77%
Februari 2026 Rp12,59 triliun 2,79%

Angka ini menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan positif, risiko gagal bayar juga ikut meningkat. Perusahaan BNPL harus siap menghadapi tantangan ini dengan strategi yang matang.

Kesimpulan

Lonjakan permintaan BNPL pasca-kenaikan harga BBM non subsidi bukanlah fenomena yang bisa dianggap enteng. Ini adalah cerminan dari tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Perusahaan BNPL harus pandai membaca situasi dan mengambil langkah-langkah antisipatif agar tidak terjebak dalam risiko kredit macet yang semakin besar.

Disclaimer: Data dan informasi dalam ini bersumber dari laporan resmi OJK dan pernyataan ICT Institute per . Angka dan kondisi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan ekonomi makro nasional.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.