Nasional

Harga Minyak Global Naik Tajam Hingga 7% di Tahun 2026

Danang Ismail
×

Harga Minyak Global Naik Tajam Hingga 7% di Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Global Naik Tajam Hingga 7% di Tahun 2026

dunia kembali mengalami lonjakan tajam, naik lebih dari 5 persen dalam sehari. Lonjakan ini terjadi menyusul eskalasi ketegangan di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia. Aksi AS yang menyita kargo Iran serta penutupan jalur laut oleh Teheran memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Kenaikan harga minyak Brent berjangka mencapai 5,7 persen, menyentuh level USD95,49 per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI berjangka naik 5,8 persen, mencatatkan harga USD87,38 per barel. Keduanya merupakan level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Lonjakan ini mencerminkan sentimen investor yang mulai was-was terhadap risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas

Perselisihan antara Serikat dan Iran kembali memanas dalam beberapa hari terakhir. Puncaknya terjadi ketika militer AS menyita kapal kargo berbendera Iran, M/V Touska, setelah kapal tersebut tidak merespons peringatan berulang selama enam jam. Aksi ini diikuti dengan penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran, yang sebelumnya sempat dibuka sebagai tanda kemajuan dalam gencatan senjata.

1. Penyitaan Kapal Iran oleh Militer AS

Militer AS melalui Komando Pusat (CENTCOM) mengumumkan telah menembak dan menaiki kapal kargo Iran. Kapal tersebut diklaim tidak kooperatif dan gagal mematuhi perintah untuk berhenti. Tembakan yang dilancarkan militer AS melumpuhkan ruang mesin kapal, memaksa awak kapal untuk menyerah.

Langkah ini langsung menuai kecaman dari pemerintah Iran. Media pemerintah Iran menyebut penyitaan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan mengancam akan membalas dengan tindakan tegas.

2. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran

Setelah sebelumnya sempat membuka akses jalur laut strategis tersebut, Iran kembali menutup Selat Hormuz. Penutupan ini dilakukan sebagai respons terhadap aksi AS. Iran juga dilaporkan menembaki beberapa kapal yang mencoba melintas, memperburuk situasi.

Sebagai jalur yang mengalirkan sekitar 21 juta barel minyak per hari, atau sekitar 21 persen dari pasokan minyak global, penutupan ini langsung memicu gejolak di pasar energi dunia.

3. Dampak pada Pasar Minyak Global

Lonjakan harga minyak tidak hanya dipicu oleh ketegangan langsung, tetapi juga oleh ekspektasi bahwa gangguan pasokan akan berlangsung lama. Investor khawatir bahwa konflik ini bisa berlarut-larut, terutama dengan belum pastinya jadwal antara AS dan Iran.

Sejumlah analis memperkirakan bahwa blokade yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan Iran telah merugikan negara itu hingga USD500 juta per hari. Angka ini menunjukkan betapa besar tekanan yang dirasakan Teheran akibat kebijakan sanksi dan pembatasan maritim.

Dinamika Diplomasi di Balik Konflik

Meski situasi terlihat memanas, sejumlah pihak masih berupaya menjaga jalur diplomasi tetap terbuka. Namun, informasi yang beredar terkait rencana pembicaraan damai masih kontradiktif. Ada laporan yang menyebutkan bahwa delegasi AS akan segera berangkat ke Pakistan, sementara yang lain menyebut penundaan.

1. Ketidakpastian Jadwal Perundingan

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata yang berlaku hingga Rabu malam akan sangat sulit diperpanjang jika tidak ada kemajuan dalam pembicaraan. Ia juga menyebut bahwa Wakil Presiden JD Vance akan memimpin delegasi ke Pakistan untuk membuka dialog dengan pihak Iran.

Namun, media seperti CNN dan New York Post memberikan informasi yang berbeda terkait waktu keberangkatan delegasi AS. CNN menyebut bahwa belum menentukan waktu pasti, sementara New York Post menyebut bahwa keberangkatan akan dilakukan pada Selasa.

2. Respons Iran yang Ambivalen

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menolak ajakan perdamaian dari AS. Namun, laporan dari New York Times menyebutkan bahwa sejumlah pejabat senior Iran sedang mempertimbangkan kemungkinan mengirimkan delegasi ke Pakistan untuk membuka dialog.

Ambiguitas ini menciptakan ketidakpastian di pasar. Investor cenderung menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum membuat keputusan investasi yang signifikan.

3. Pengaruh Blokade terhadap Ekonomi Iran

Blokade yang diberlakukan AS terhadap kapal-kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran telah memakan korban ekonomi yang besar. Sejak blokade dimulai seminggu lalu, sebanyak 27 kapal telah diperintahkan untuk kembali ke pelabuhan.

Trump menyebut blokade ini sebagai "hancurnya ekonomi Iran", dan menyatakan bahwa negara itu kehilangan ratusan juta dolar setiap hari. Angka ini memperkuat tekanan terhadap Teheran untuk kembali ke meja perundingan, meski dengan risiko eskalasi yang semakin tinggi.

Perbandingan Harga Minyak Dunia Sebelum dan Sesudah Eskalasi

Berikut adalah perbandingan harga minyak dunia sebelum dan sesudah terjadinya eskalasi ketegangan di Selat Hormuz:

Jenis Minyak Harga Sebelum Eskalasi (USD/barel) Harga Setelah Eskalasi (USD/barel) Kenaikan (%)
Minyak Brent 90,20 95,49 5,7
Minyak WTI 82,50 87,38 5,8

Catatan: bersifat estimasi berdasarkan laporan media dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Dampak Jangka Pendek dan Tantangan ke Depan

Lonjakan harga minyak berdampak langsung pada sektor transportasi, industri, dan energi. Negara-negara pengimpor minyak besar seperti Tiongkok, , dan Jepang mungkin akan merasakan tekanan pada anggaran energi mereka. Sementara itu, negara pengekspor minyak seperti Arab Saudi dan Rusia bisa mendapat keuntungan sementara dari kenaikan harga.

Namun, dalam jangka pendek, ketidakpastian ini juga memicu volatilitas di pasar saham global. Investor cenderung mencari aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah, yang bisa memperlemah pasar saham.

1. Risiko Eskalasi Lebih Lanjut

Jika situasi di Selat Hormuz tidak segera reda, ada risiko bahwa konflik bisa meluas ke negara-negara tetangga. Hal ini akan semakin memperburuk pasokan energi global dan memicu lonjakan harga yang lebih besar.

2. Potensi Gangguan Pasokan Jangka Panjang

Jika penutupan jalur laut berlangsung lama, cadangan minyak global bisa terancam. Banyak negara bergantung pada jalur ini untuk distribusi energi. Gangguan dalam waktu lama bisa memicu krisis energi regional.

3. Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Global

Kenaikan harga minyak yang signifikan bisa memicu inflasi di berbagai negara. Ini akan memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga, yang pada gilirannya bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Kesimpulan

Lonjakan harga minyak lebih dari 5 persen dalam sehari menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas pasar energi global. Ketegangan di Selat Hormuz bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga soal ancaman terhadap pasokan energi dunia. Dengan belum pastinya jadwal pembicaraan damai, situasi ini bisa berlarut-larut dan semakin memperburuk ekspektasi pasar.

Investor dan pengambil kebijakan di seluruh dunia kini mengamati dengan cermat setiap perkembangan di kawasan. Apakah ketegangan ini akan mereda atau malah memuncak dalam beberapa hari ke depan, akan sangat menentukan arah pasar energi global ke depannya.

Disclaimer: Data harga minyak dan informasi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Artikel ini dibuat berdasarkan informasi terkini hingga 21 April .

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.