Finansial

PSAK 117 Mulai Berlaku 2026, Industri Asuransi Siap Hadapi Dampaknya

Fadhly Ramadan
×

PSAK 117 Mulai Berlaku 2026, Industri Asuransi Siap Hadapi Dampaknya

Sebarkan artikel ini
PSAK 117 Mulai Berlaku 2026, Industri Asuransi Siap Hadapi Dampaknya

Industri asuransi umum di Tanah Air tengah menghadapi tantangan . Salah satunya datang dari penerapan PSAK 117, standar akuntansi yang mulai mengubah cara perusahaan asuransi melihat laporan keuangan dan profitabilitas usaha. PT Asuransi Asei Indonesia mencatat, dampak dari aturan ini tidak hanya terasa di sisi pelaporan, tapi juga pada yang harus disesuaikan agar tetap kompetitif.

Dody Dalimunthe, Direktur Utama Asei, menyebut bahwa PSAK 117 membawa perubahan signifikan dalam pendekatan bisnis. Perusahaan tidak lagi fokus pada pencapaian premi kotor (gross premium), melainkan langsung menilai profitabilitas dari masing-masing lini bisnis. Ini artinya, kualitas produk dan underwriting menjadi lebih penting daripada volume transaksi.

Dampak PSAK 117 pada Bisnis Asuransi

PSAK 117 mengharuskan perusahaan asuransi merekam pendapatan berdasarkan hasil underwriting, bukan lagi berdasarkan total premi yang dikumpulkan. Perubahan ini memaksa industri untuk lebih selektif dalam memilih produk yang dijual. Tidak semua lini bisnis bisa memberikan kontribusi positif, terutama jika risikonya tinggi tapi margin keuntungan tipis.

Akibatnya, banyak perusahaan mulai mengevaluasi produk mereka. Lini bisnis yang tidak menguntungkan secara underwriting mungkin akan dikurangi atau bahkan dihentikan. Ini adalah langkah strategis agar laporan keuangan lebih mencerminkan kinerja sebenarnya.

1. Perubahan Struktur Laporan Keuangan

PSAK 117 mengubah cara laporan keuangan disusun. Pendapatan tidak lagi ditampilkan sebagai total premi yang diterima, melainkan sebagai hasil underwriting bersih. Artinya, klaim, komisi, dan biaya terkait langsung dikurangi dari premi bruto.

2. Fokus pada Profitabilitas, Bukan Volume

Sebelum PSAK 117, banyak perusahaan berlomba menaikkan premi bruto sebagai indikator pertumbuhan. Sekarang, fokus bergeser ke profitabilitas. Perusahaan lebih memilih menjual produk dengan margin lebih tinggi, meski volumenya lebih kecil.

3. Evaluasi Portofolio Produk

Dengan pendekatan baru ini, setiap produk harus dinilai secara individual. Apakah produk tersebut menghasilkan laba atau justru merugikan? Evaluasi ini dilakukan secara berkala untuk memastikan portofolio tetap sehat dan sesuai dengan target profitabilitas.

Tantangan Tambahan: Permodalan Minimum 2026

Selain PSAK 117, industri juga harus bersiap menghadapi aturan baru soal permodalan minimum yang akan berlaku akhir tahun 2026. Aturan ini dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai bagian dari upaya meningkatkan stabilitas sektor asuransi.

Perusahaan yang tidak memenuhi ketentuan modal minimum berpotensi harus melakukan peningkatan modal atau mengambil langkah strategis lainnya. Dalam beberapa kasus, ini bisa berujung pada merger atau akuisisi.

1. Evaluasi Kekuatan Modal

Setelah menerapkan PSAK 117, perusahaan bisa melihat apakah struktur modalnya masih memadai. Jika tidak, langkah-langkah seperti penerbitan saham baru atau mencari investor baru harus dipertimbangkan.

2. Rencana Kontinjensi

Perusahaan yang tidak bisa memenuhi ketentuan permodalan minimum harus punya rencana alternatif. Bisa berupa peningkatan modal, restrukturisasi utang, atau kolaborasi dengan pemain lain melalui merger.

3. Konsultasi dengan Regulator

Langkah proaktif lainnya adalah membuka dengan OJK. Dengan begitu, perusahaan bisa memahami arah kebijakan dan menyesuaikan strategi sebelum batas waktu berlalu.

Proyeksi Pertumbuhan Premi Asuransi 2026

OJK memperkirakan komersial pada 2026 akan berada di kisaran 3%-% secara tahunan. Proyeksi ini lebih moderat dibanding tahun-tahun sebelumnya, terutama karena tekanan dari regulasi baru dan kondisi makro ekonomi.

Namun, Dody menilai masih ada peluang pertumbuhan. Lini asuransi properti, kendaraan, dan masih menunjukkan performa positif. Ini bisa menjadi pendorong kenaikan premi, asal perusahaan bisa mempertahankan kualitas produk dan layanan.

Tabel: Data Premi dan Klaim Asuransi Komersial Februari 2026

Kategori Nilai (Rp) Pertumbuhan YoY
Premi Asuransi Komersial 62,37 triliun 3,5%
Klaim Asuransi Komersial 38,63 triliun 8,26%

Data di atas menunjukkan bahwa klaim tumbuh lebih cepat daripada premi. Ini bisa menjadi sinyal bahwa risiko klaim semakin tinggi, sehingga penting bagi perusahaan untuk memperkuat proses underwriting dan risiko.

Strategi Menghadapi Tantangan Regulasi

Menghadapi perubahan besar seperti PSAK 117 dan permodalan minimum, perusahaan asuransi perlu menyiapkan strategi jangka pendek dan panjang. Fokusnya bukan hanya pada kepatuhan, tapi juga pada penguatan bisnis secara keseluruhan.

1. Digitalisasi Proses Underwriting

Teknologi bisa membantu perusahaan mengevaluasi risiko secara lebih cepat dan . Dengan sistem digital, proses seleksi calon nasabah bisa lebih efisien dan minim kesalahan.

2. Diversifikasi Portofolio Produk

Tidak semua produk harus menguntungkan, tapi harus ada keseimbangan. Perusahaan bisa menggabungkan produk berisiko rendah dengan margin stabil dan produk berisiko tinggi dengan potensi return tinggi.

3. Penguatan Manajemen Risiko

Dengan klaim yang terus naik, manajemen risiko harus menjadi fokus utama. Ini mencakup pengawasan klaim, audit berkala, dan pelatihan tim untuk mengenali pola risiko yang tidak biasa.

Potensi Merger dan Konsolidasi Industri

Dengan tekanan dari regulasi dan kebutuhan peningkatan modal, beberapa perusahaan mungkin akan mempertimbangkan merger. Ini adalah langkah strategis untuk menggabungkan sumber daya, memperluas jangkauan pasar, dan memenuhi kewajiban modal.

Konsolidasi industri bisa menjadi tren di tahun-tahun mendatang. Perusahaan-perusahaan kecil yang tidak mampu beradaptasi mungkin akan bergabung dengan pemain besar untuk tetap bertahan.

Kesimpulan

Penerapan PSAK 117 dan regulasi permodalan minimum membawa dampak signifikan bagi industri asuransi umum. Perusahaan harus lebih selektif dalam memilih produk, fokus pada profitabilitas, dan memperkuat struktur modal. Tantangan ini sekaligus membuka peluang untuk memperbaiki kualitas bisnis dan meningkatkan di pasar yang semakin ketat.

Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga April 2026. Aturan dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.