Finansial

AIA Jelaskan Alasan Perlu Adanya Perbaikan Aturan Unitlink Pada 2026 Ini Dia Penjelasannya

Fadhly Ramadan
×

AIA Jelaskan Alasan Perlu Adanya Perbaikan Aturan Unitlink Pada 2026 Ini Dia Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
AIA Jelaskan Alasan Perlu Adanya Perbaikan Aturan Unitlink Pada 2026 Ini Dia Penjelasannya

Produk asuransi unitlink tengah menjadi sorotan, terutama terkait aturan yang dinilai perlu disesuaikan agar lebih sesuai dengan kondisi di lapangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini tengah melakukan penyempurnaan ketentuan terkait Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI). Langkah ini dianggap penting oleh pelaku industri, termasuk PT AIA Financial Indonesia, sebagai upaya agar unitlink tetap relevan dan memberikan manfaat optimal bagi nasabah.

AIA Financial menyambut baik inisiatif OJK tersebut. Perusahaan melihat bahwa sejumlah ketentuan yang berlaku saat ini justru menciptakan tantangan operasional dan pengalaman nasabah yang kurang optimal. Terutama untuk produk unitlink lama yang sudah tidak menerima , namun masih aktif dalam portofolio perusahaan.

Tantangan Regulasi Unitlink yang Perlu Disesuaikan

Regulasi yang kaku terkadang justru menghambat pelayanan terbaik bagi nasabah. Dalam praktiknya, AIA melihat beberapa poin yang memerlukan penyesuaian agar lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan nasabah eksisting.

1. Keterbatasan Pengelolaan Produk Unitlink Lama

Produk unitlink yang sudah tidak menerima bisnis baru tetap memiliki kewajiban pengelolaan dari perusahaan. Namun, ketentuan saat ini membatasi fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian nonmaterial seperti biaya, struktur manfaat, atau program retensi.

Hal ini berpotensi menurunkan kepuasan nasabah dan meningkatkan risiko polis batal (surrender). Padahal, utama unitlink adalah memberikan proteksi jangka panjang sekaligus potensi investasi.

2. Kompleksitas Proses Pemasaran dan Administrasi

Kewajiban video atau voice recording dalam proses unitlink sering kali menjadi hambatan di lapangan. Terutama bagi tenaga pemasar di daerah dengan infrastruktur internet yang belum memadai, atau bagi agen senior yang kurang familiar dengan teknologi.

Akibatnya, unitlink terkesan rumit dan kurang inklusif. Padahal, produk ini memiliki potensi besar untuk menjadi solusi perlindungan dan investasi jangka panjang.

3. Dampak Minimum Sum Assured terhadap Keterjangkauan Premi

Aturan minimum uang pertanggungan (Sum Assured) sebesar 5 kali premi dasar, termasuk rider, berdampak pada lonjakan premi yang cukup signifikan. Terutama bagi nasabah lama atau mereka yang memiliki rider kesehatan tambahan.

Lonjakan ini memicu keluhan dan bahkan polis oleh nasabah. Padahal, unitlink seharusnya menjadi produk yang memberikan manfaat berkelanjutan, bukan malah membebani nasabah.

Rekomendasi AIA Terhadap Penyempurnaan Regulasi

Melihat tantangan-tantangan tersebut, AIA Financial menyarankan beberapa penyesuaian agar regulasi lebih seimbang antara dan fleksibilitas operasional.

1. Fleksibilitas Pengelolaan Produk Eksisting

Produk unitlink yang sudah tidak dibuka untuk bisnis baru sebaiknya diberi ruang untuk penyesuaian yang bertujuan meningkatkan kualitas manfaat bagi nasabah eksisting. Misalnya, melalui penyesuaian biaya atau penambahan fitur retensi.

2. Penyederhanaan Proses Pemasaran

Proses administrasi dan pemasaran unitlink perlu disederhanakan tanpa mengurangi transparansi informasi. Ini bisa dilakukan dengan memberikan alternatif metode perekaman atau penyesuaian kebijakan untuk daerah tertentu.

3. Peninjauan Ulang Minimum Sum Assured

Parameter minimum Sum Assured perlu ditinjau ulang agar tetap menjaga prinsip proteksi, namun lebih proporsional terhadap kemampuan dan kebutuhan nasabah. Ini penting untuk menjaga keberlanjutan polis dan kepuasan nasabah.

Potensi Unitlink ke Depan

Meski menghadapi tantangan regulasi, unitlink tetap menjadi produk yang diminati masyarakat. Kombinasi antara proteksi dan investasi menjadikannya solusi finansial jangka panjang yang menarik.

AIA Financial dalam merancang dan memasarkan unitlink selalu mengedepankan , transparansi, dan tata kelola yang baik. Langkah ini penting untuk membangun kepercayaan dan pemahaman nasabah terhadap produk.

Sebagai informasi tambahan, berdasarkan laporan keuangan AIA per Maret 2026, total mencapai Rp 2,36 triliun, dengan klaim yang sebesar Rp 677,71 miliar.

Perbandingan Kinerja Unitlink AIA (Maret 2026)

Parameter Jumlah
Premi Rp 2,36 triliun
Klaim Dibayarkan Rp 677,71 miliar

Disclaimer: Data bersifat sementara dan dapat berubah sesuai kondisi pasar dan regulasi yang berlaku.

Langkah penyempurnaan ketentuan unitlink oleh OJK diharapkan menjadi solusi jangka panjang yang mendukung keberlanjutan produk dan perlindungan terbaik bagi nasabah. Dengan regulasi yang lebih fleksibel dan berbasis prinsip, unitlink bisa kembali menjadi andalan masyarakat dalam perencanaan keuangan jangka panjang.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.