Penurunan biaya dana menjadi salah satu fokus utama perbankan di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatat pencapaian menarik dengan berhasil menekan cost of fund (CoF) menjadi 2,87% di akhir 2025. Angka ini turun dari 3,07% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini menunjukkan efisiensi pendanaan yang semakin baik, seiring dengan pertumbuhan dana murah dan optimalisasi struktur likuiditas.
Strategi BRI dalam menekan biaya dana tidak hanya berjalan di balik angka-angka laporan keuangan. Ada pendekatan sistematis yang dijalankan, terutama dalam mengelola dana pihak ketiga (DPK) dan memperkuat komponen CASA (current account saving account). Dengan rasio CASA mencapai 70,6%, BRI menunjukkan bahwa pendanaan murah menjadi tulang punggung operasionalnya. Tren ini sejalan dengan transformasi digital dan penguatan ekosistem layanan transaksi yang dijalankan secara berkelanjutan.
Penguatan Dana Murah Jadi Fondasi Utama
Penurunan CoF BRI tidak terjadi begitu saja. Ada strategi jangka panjang yang dijalankan, terutama dalam memperbesar porsi dana murah. Dana murah, terutama dari segmen CASA, memiliki biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan dana berbasis bunga seperti deposito. Dengan struktur pendanaan yang lebih banyak berasal dari CASA, BRI bisa menjaga efisiensi biaya sekaligus meningkatkan spread bunga.
Pertumbuhan DPK BRI secara tahunan mencapai 7,4%, mencatatkan total nilai Rp1.466,8 triliun. Adapun CASA tumbuh lebih cepat, yakni 12,7% YoY. Giro naik 19,7% dan tabungan naik 7,9%. Angka ini menunjukkan bahwa nasabah semakin memilih menyimpan dana di rekening yang likuid dan minim biaya, seperti giro dan tabungan.
1. Optimalisasi Kanal Digital untuk Akuisisi Dana Murah
BRI memanfaatkan platform digital untuk menarik lebih banyak dana murah. Aplikasi BRImo menjadi salah satu alat utama dalam menjangkau nasabah ritel. Dengan fitur yang mudah digunakan dan layanan berbasis mobile, BRI berhasil meningkatkan jumlah pengguna rekening giro dan tabungan.
2. Pengembangan Ekosistem Pembayaran
Selain aplikasi, BRI juga mengembangkan ekosistem pembayaran digital melalui BRILink dan QRIS. Dengan memperluas jaringan merchant dan memudahkan transaksi non-tunai, BRI menciptakan insentif bagi nasabah untuk menggunakan rekening rutin. Semakin sering digunakan, semakin besar pula potensi dana mengendap di rekening tersebut.
Strategi Transaksi untuk Penguatan Pendanaan
Di sisi korporasi dan usaha kecil-menengah (SME), BRI mengandalkan platform QLola untuk memperkuat layanan cash management, trade finance, hingga foreign exchange. Platform ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan transaksi yang kompleks, sekaligus memberikan nilai tambah bagi nasabah dalam hal efisiensi dan keamanan.
3. Peningkatan Kapabilitas Transaction Banking
Melalui QLola, BRI tidak hanya menawarkan layanan transaksi, tapi juga solusi keuangan terintegrasi. Ini membantu nasabah korporasi dalam mengelola arus kas, sehingga dana bisa mengendap lebih lama di bank. Semakin banyak dana mengendap, semakin rendah pula biaya yang dikeluarkan bank untuk menarik dana baru.
4. Fokus pada Layanan Kas dan Perdagangan
Layanan cash management dan trade finance menjadi andalan BRI dalam menarik nasabah wholesale. Dengan memberikan solusi yang cepat, aman, dan efisien, BRI memposisikan diri sebagai bank transaksi utama bagi pelaku usaha.
Perbandingan Struktur Pendanaan BRI (2024 vs 2025)
| Komponen Pendanaan | 2024 | 2025 | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|---|
| Total DPK | Rp1.365 triliun | Rp1.466,8 triliun | 7,4% |
| Giro | – | Naik 19,7% YoY | – |
| Tabungan | – | Naik 7,9% YoY | – |
| CASA | 67,8% | 70,6% | +2,8 poin |
| Cost of Fund (CoF) | 3,07% | 2,87% | -0,20 poin |
Struktur pendanaan yang lebih sehat terlihat dari peningkatan rasio CASA dan penurunan CoF. Ini menunjukkan bahwa BRI semakin efisien dalam mengelola sumber dana, terutama dari segmen yang memiliki biaya lebih rendah.
Tantangan dan Respons terhadap Dinamika Suku Bunga
Penetapan suku bunga saat ini dilakukan secara hati-hati, mengingat ketidakpastian global dan tekanan terhadap likuiditas. BRI tidak serta merta menaikkan suku bunga untuk menarik dana, karena hal itu bisa meningkatkan biaya dana secara keseluruhan. Sebaliknya, bank ini lebih fokus pada penguatan struktur pendanaan yang berkelanjutan.
5. Penyesuaian Suku Bunga yang Pruden
BRI memastikan bahwa penetapan harga suku bunga tetap selaras dengan kebijakan moneter Bank Indonesia dan kondisi ekonomi domestik. Ini membantu menjaga keseimbangan antara daya tarik produk dan efisiensi biaya.
6. Stabilitas Likuiditas Jangka Panjang
Dengan pendanaan yang lebih banyak berasal dari dana murah, BRI bisa menjaga likuiditas dalam jangka panjang tanpa harus terlalu bergantung pada sumber dana mahal. Ini memberikan ruang gerak yang lebih besar dalam menghadapi fluktuasi pasar.
Transformasi Digital sebagai Pendorong Efisiensi
Program transformasi BRI, BRIvolution Reignite, menjadi pendorong utama dalam efisiensi operasional. Salah satu pilar utama dari program ini adalah penguatan funding franchise, yang mencakup optimalisasi pendanaan dan layanan transaksi.
7. Penguatan Digital Banking
BRImo dan platform digital lainnya terus dikembangkan untuk memberikan pengalaman terbaik bagi nasabah. Ini tidak hanya berdampak pada akuisisi nasabah baru, tapi juga pada retensi dan peningkatan frekuensi penggunaan rekening.
8. Peningkatan Pengalaman Nasabah
Dengan fokus pada user experience, BRI berhasil meningkatkan loyalitas nasabah. Semakin nyaman nasabah menggunakan layanan, semakin besar pula kemungkinan dana mereka mengendap di bank.
Proyeksi Ke Depan: Menjaga Momentum Efisiensi
BRI optimistis tren efisiensi biaya dana bisa terus dipertahankan. Dengan struktur pendanaan yang semakin sehat dan dukungan transformasi digital, bank ini siap menghadapi tantangan di tengah ketidakpastian global.
9. Fokus pada Pertumbuhan Berkelanjutan
BRI tidak hanya mengejar efisiensi jangka pendek, tapi juga membangun fondasi untuk pertumbuhan jangka panjang. Ini mencakup penguatan layanan transaksi, optimalisasi digital, dan pengembangan ekosistem keuangan.
10. Adaptasi terhadap Perubahan Regulasi
Dengan perubahan regulasi yang terus terjadi, BRI terus menyesuaikan strategi pendanaan dan operasionalnya. Ini memastikan bahwa bank tetap kompetitif dan sesuai dengan arah kebijakan makro.
Disclaimer
Data dan angka dalam artikel ini bersumber dari informasi resmi BRI per 2025. Angka-angka tersebut dapat berubah seiring waktu dan kondisi pasar yang dinamis. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi untuk informasi terkini.
Penurunan cost of fund menjadi 2,87% adalah hasil dari strategi terukur yang dijalankan BRI. Dengan fokus pada dana murah, optimalisasi digital, dan penguatan layanan transaksi, BRI berhasil menjaga efisiensi sekaligus memperkuat posisinya di industri perbankan nasional.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













