Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS sempat menjadi pilihan utama investor di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun, seiring berjalannya waktu dan situasi yang mulai stabil, minat terhadap aset berisiko seperti saham justru meningkat. Pergerakan ini mencerminkan perubahan sentimen pasar yang lebih optimis.
Pada Senin, 13 April 2026, indeks dolar AS mencatat penurunan 0,3 persen, turun ke level 98,37. Penurunan ini terjadi seiring dengan meredanya permintaan terhadap aset aman dan meningkatnya selera risiko di kalangan investor global.
Dinamika Geopolitik dan Dampaknya pada Pasar Keuangan
Perkembangan terkini di Timur Tengah turut memengaruhi arah pergerakan mata uang global. Presiden Donald Trump mengumumkan blokade angkatan laut AS terhadap Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen minyak dan gas dunia.
Langkah ini diambil setelah upaya perdamaian dengan Iran berakhir tanpa hasil. Blokade yang berlaku pukul 10:00 ET tersebut mencakup kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.
Trump menyatakan bahwa 34 kapal telah melintasi selat tersebut pada Minggu, angka tertinggi sejak pembatasan dimulai. Ia menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran memeras negara lain secara ekonomi.
Namun, pengumuman ini justru tidak memicu lonjakan permintaan terhadap dolar seperti biasanya. Justru sebaliknya, investor mulai kembali ke pasar saham yang dianggap lebih menguntungkan di tengah situasi yang mulai terkendali.
1. Penurunan Permintaan terhadap Dolar AS
Salah satu faktor utama melemahnya dolar adalah berkurangnya permintaan terhadap aset aman. Investor mulai merasa bahwa risiko geopolitik tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya.
2. Lonjakan Harga Minyak Awal yang Tak Berkelanjutan
Harga minyak sempat naik tajam setelah blokade diumumkan. Namun, ketika Trump menyatakan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz meningkat, harga kembali turun.
3. Peran AS sebagai Pengekspor Energi Bersih
AS kini menjadi pengekspor energi bersih, yang membuat mata uangnya kurang terpapar terhadap gangguan pasokan minyak global. Ini menjadi salah satu alasan mengapa dolar tidak lagi menjadi pilihan utama investor.
4. Respons Pasar terhadap Ketegangan Timur Tengah
Negara-negara Asia yang bergantung pada impor minyak melalui Selat Hormuz lebih rentan terhadap ketegangan di kawasan. Namun, pasar global tampaknya mulai mengantisipasi dampaknya dengan lebih baik.
Pergerakan Mata Uang Utama Lainnya
Selain dolar, mata uang lain juga menunjukkan pergerakan yang cukup signifikan. Euro dan poundsterling mencatat kenaikan tipis, sementara yen Jepang melemah.
Euro (EUR/USD) naik 0,3 persen ke level USD1,1759. Poundsterling (GBP/USD) juga menguat 0,3 persen, mencapai USD1,3505.
Di sisi lain, yen Jepang (USD/JPY) melemah 0,1 persen ke level 159,41. Gubernur Bank Sentral Jepang, Kazuo Ueda, menyatakan bahwa perkembangan ekonomi dan harga masih sesuai dengan proyeksi bank.
Perubahan Politik di Eropa Timur
Di Eropa Timur, situasi politik di Hongaria ikut memengaruhi pasar keuangan. Viktor Orban, yang memimpin negara itu selama 16 tahun, kalah dalam pemilihan umum nasional.
Penggantinya, Peter Magyar dari partai Tisza, membuka peluang baru bagi transisi kekuasaan yang lebih stabil. Investor pun bereaksi positif, terutama terkait kemungkinan percepatan akses dana Uni Eropa.
Setelah pemungutan suara, mata uang forint langsung menguat ke level tertingginya terhadap dolar sejak Februari 2022. Analis dari ING menyebut bahwa mayoritas konstitusional yang mendukung transisi ini memberikan keyakinan lebih besar pada pasar.
Tabel Pergerakan Mata Uang Utama (13 April 2026)
| Mata Uang | Pasangan | Perubahan (%) | Harga |
|---|---|---|---|
| Euro | EUR/USD | +0,3% | USD1,1759 |
| Poundsterling | GBP/USD | +0,3% | USD1,3505 |
| Yen Jepang | USD/JPY | -0,1% | 159,41 |
| Forint Hongaria | HUF/USD | +1,2% | Level tertinggi sejak Feb 2022 |
Faktor yang Mendukung Kenaikan Pasar Saham
Investor kini lebih tertarik pada instrumen berisiko seperti saham karena beberapa alasan. Pertama, ekspektasi bahwa ketegangan di Timur Tengah tidak akan berlangsung lama.
Kedua, data ekonomi global menunjukkan pemulihan yang lebih stabil dari sebelumnya. Ketiga, kebijakan moneter beberapa bank sentral memberikan ruang lebih besar untuk investasi berisiko.
1. Stabilitas Geopolitik yang Lebih Baik
Meskipun masih ada ketegangan, pasar mulai percaya bahwa konflik tidak akan berlangsung lama. Ini membuka peluang bagi investor untuk kembali ke pasar saham.
2. Kebijakan Moneter yang Mendukung
Bank sentral di beberapa negara besar memberikan sinyal bahwa suku bunga tidak akan naik terlalu cepat. Hal ini membuat pasar saham lebih menarik dibandingkan aset berbunga tetap.
3. Optimisme terhadap Pertumbuhan Global
Indikator ekonomi global menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Investor pun mulai memasukkan dana mereka ke pasar saham yang dianggap lebih menguntungkan dalam jangka panjang.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan kebijakan moneter global. Pergerakan pasar keuangan dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal yang tidak selalu dapat diprediksi secara akurat.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













