Pengembangan hunian vertikal berbasis Transit Oriented Development (TOD) kembali menjadi sorotan. Kali ini, PT Bank Tabungan Negara (BTN) dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) berkolaborasi untuk menggarap proyek besar yang mencakup pembangunan lima menara hunian di sekitar stasiun strategis di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa.
Rencana ini merupakan bagian dari upaya menjawab kebutuhan perumahan di kawasan perkotaan yang semakin padat. Dengan mengusung konsep TOD, proyek ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tapi juga mengintegrasikan akses mudah ke transportasi umum, terutama kereta api.
Kolaborasi BTN dan KAI untuk Pengembangan Hunian Berbasis TOD
BTN dalam proyek ini lebih berperan sebagai penyedia pembiayaan. Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menyampaikan bahwa pihaknya akan fokus memberikan dukungan kredit untuk pengembang maupun calon penghuni. Artinya, BTN tidak langsung terlibat dalam proses fisik pembangunan.
“Peran BTN lebih ke pembiayaan. Kita support kreditnya, baik untuk proyek maupun konsumennya,” ujar Nixon.
Kolaborasi ini menunjukkan komitmen kedua belah pihak dalam menghadirkan solusi perumahan yang ramah lingkungan dan efisien. Dengan memanfaatkan area di sekitar stasiun, proyek ini diharapkan bisa menjadi model pengembangan kota yang lebih berkelanjutan.
Lokasi Strategis yang Dipilih untuk Pengembangan
Beberapa lokasi sudah masuk dalam tahap pembahasan awal. Di antaranya adalah kawasan Senen, Manggarai, dan Tanah Abang di Jakarta. Selain itu, rencana juga mencakup kota-kota besar seperti Bandung, Semarang, dan Surabaya.
Pemilihan lokasi ini tidak sembarangan. Semua berada di sekitar simpul transportasi publik yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan. Dengan begitu, penghuni bisa menikmati akses mudah ke berbagai fasilitas kota tanpa harus repot dengan kemacetan.
1. Tahap Awal Pengembangan: Lima Menara Hunian
Pada tahap awal, proyek ini akan membangun minimal lima menara hunian. Lokasi pembangunan akan dipilih berdasarkan kesiapan infrastruktur dan potensi area sekitar stasiun.
Pembangunan tidak langsung dilakukan secara besar-besaran. BTN dan KAI akan mengevaluasi kesiapan desain dan perencanaan proyek secara menyeluruh sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
2. Pemanfaatan Lahan yang Lebih Efisien
Salah satu tujuan utama dari pengembangan hunian vertikal adalah mengurangi ketergantungan pada lahan tapak yang luas. Dengan membangun ke atas, lebih banyak ruang bisa disediakan tanpa mengorbankan lahan produktif atau area hijau.
Nixon menjelaskan bahwa jika terus membangun rumah tapak, lahan produktif seperti sawah bisa terancam. “Kalau kami terus memaksakan rumah tapak, lahan produktif dan sawah bisa habis,” ucapnya.
3. Dukungan Pembiayaan untuk Pengembang dan Konsumen
BTN akan memberikan dukungan kredit yang mencakup dua sisi: pengembang dan konsumen. Ini berarti pengembang bisa mendapat pendanaan untuk proses pembangunan, sementara calon penghuni bisa mengajukan KPR dengan kemudahan akses.
Dengan sistem ini, proyek bisa berjalan lebih cepat dan terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah.
Keuntungan Konsep TOD bagi Masyarakat
Konsep TOD menawarkan berbagai keuntungan, terutama bagi masyarakat urban yang menginginkan hunian praktis dan dekat dengan fasilitas umum. Beberapa manfaat utama antara lain:
- Akses mudah ke transportasi umum
- Waktu tempuh ke pusat kota lebih singkat
- Lingkungan yang terintegrasi dan ramah pengguna
- Penghematan biaya transportasi sehari-hari
Selain itu, konsep ini juga mendukung pengurangan emisi karbon karena mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Tantangan dalam Implementasi Proyek
Meski menjanjikan, proyek berbasis TOD juga menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah keterbatasan lahan di kawasan stasiun yang sudah padat, serta kompleksitas regulasi dan perizinan.
Selain itu, kesiapan infrastruktur pendukung seperti jalan dan utilitas juga perlu diperhatikan agar proyek bisa berjalan optimal.
Perbandingan Pengembangan Hunian Konvensional vs TOD
| Aspek | Hunian Konvensional | Hunian Berbasis TOD |
|---|---|---|
| Lokasi | Biasanya di pinggiran kota | Di sekitar stasiun/transportasi umum |
| Akses Transportasi | Terbatas, tergantung kendaraan pribadi | Mudah, terintegrasi dengan transportasi umum |
| Penggunaan Lahan | Luas, cenderung horizontal | Efisien, memanfaatkan ruang vertikal |
| Dampak Lingkungan | Bisa merusak lahan produktif | Lebih ramah lingkungan |
| Biaya Transportasi Harian | Tinggi | Rendah |
Prospek Masa Depan Pengembangan Hunian Vertikal
Proyek ini bisa menjadi langkah awal dari transformasi perumahan di kota-kota besar. Jika berhasil, model ini bisa direplikasi di daerah lain di Indonesia, terutama yang memiliki akses baik ke transportasi umum.
BTN dan KAI berharap kolaborasi ini bisa menjadi contoh pengembangan kota yang lebih berkelanjutan dan inklusif.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan pemerintah, kesiapan mitra, serta kondisi pasar properti secara keseluruhan. Data dan rencana yang disebutkan merupakan hasil dari tahap awal pembahasan dan belum bersifat final.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













