Nasional

Harga Minyak Dunia Naik Tajam Menembus Level 100 Dolar AS per Barel di Tahun 2026

Danang Ismail
×

Harga Minyak Dunia Naik Tajam Menembus Level 100 Dolar AS per Barel di Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Dunia Naik Tajam Menembus Level 100 Dolar AS per Barel di Tahun 2026

Harga kembali melonjak melewati ambang USD100 per barel pada perdagangan awal Asia, Senin 13 April 2026. Lonjakan ini terjadi menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan rencana blokade oleh angkatan laut Amerika. Langkah tersebut diambil setelah pembicaraan gencatan senjata antara AS dan Iran di Pakistan berakhir tanpa hasil.

Lonjakan harga tercatat cukup signifikan dalam hitungan jam. Kontrak Brent naik 8 persen, mencapai USD102,93 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak 8,26 persen, berada di level USD104,54 per barel. Kenaikan ini mencerminkan ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.

Blokade Selat Hormuz Resmi Diumumkan

Langkah keras dari pemerintah AS ini tidak main-main. Blokade terhadap lalu lintas maritim di sekitar Selat Hormuz mulai diberlakukan pada pukul 10:00 ET (14:00 GMT) hari yang sama. Pengumuman ini datang langsung dari Komando militer AS, menunjukkan bahwa Washington tidak segan mengambil tindakan nyata untuk menekan Iran.

Keputusan ini merupakan respons langsung atas gagalnya pembicaraan damai antara delegasi AS dan Iran. Pembicaraan yang berlangsung selama 21 jam di Pakistan tidak membuahkan kesepahaman. Wakil Presiden JD Vance yang memimpin delegasi AS akhirnya meninggalkan Islamabad pada Minggu pagi tanpa hasil.

Latar Belakang Ketegangan AS-Iran

  1. Gagalnya Negosiasi Gencatan Senjata
    Pembicaraan antara AS dan Iran berfokus pada beberapa poin utama. Termasuk aktivitas nuklir Iran, pembukaan kembali akses ke Selat Hormuz, serta penghentian dukungan Teheran terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah Lebanon. Namun, ketiga poin ini menjadi batu ganjalan yang sulit ditekuk oleh kedua belah pihak.

  2. Iran Menutup Akses Selat Hormuz
    Sejak awal konflik pada akhir Februari 2026, Iran telah secara efektif memblokir jalur maritim strategis ini. Penutupan ini memengaruhi sekitar 20 persen pasokan minyak global yang melewati selat sempit tersebut. Langkah ini dianggap sebagai bentuk tekanan balasan terhadap sanksi dan ancaman dari Barat.

  3. Posisi Iran Soal Negosiasi Masa Depan
    Pihak Iran menyatakan tidak ada niat untuk kembali ke meja diplomasi dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat. Namun, beberapa laporan menyebut bahwa negara-negara di Timur Tengah tengah berupaya memfasilitasi pembicaraan damai baru dalam beberapa hari mendatang.

Dampak Blokade terhadap Pasar Minyak Global

  1. Gangguan Pasokan Jangka Panjang
    Blokade total terhadap Selat Hormuz berpotensi mengganggu aliran minyak dari kawasan Teluk Persia. Negara-negara eksportir besar seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Irak sangat bergantung pada jalur ini untuk mengirim minyak ke pasar global.

  2. Kenaikan Harga Minyak di Bursa Internasional
    Lonjakan harga minyak Brent dan WTI menunjukkan bahwa investor bereaksi terhadap risiko geopolitik. Pasar minyak sangat sensitif terhadap gangguan pasokan, apalagi dari wilayah yang menyumbang sebagian besar produksi global.

  3. Dampak pada Negara Minyak
    Negara-negara yang bergantung pada impor minyak mentah akan merasakan tekanan langsung dari lonjakan harga ini. Biaya energi, , dan produksi berpotensi meningkat, yang pada akhirnya bisa memicu inflasi.

Perbandingan Harga Minyak Sebelum dan Sesudah Blokade

Jenis Minyak Harga Sebelum Blokade Harga Setelah Blokade Kenaikan (%)
Brent USD95,20 USD102,93 8,00%
WTI USD96,55 USD104,54 8,26%

Catatan: Data harga bersifat estimasi berdasarkan laporan pasar awal April 2026.

Respons Pasar dan Spekulasi Investor

Lonjakan harga minyak kali ini tidak hanya dipicu oleh faktor geopolitik, tetapi juga oleh spekulasi pasar. Investor cenderung membeli komoditas energi sebagai safe haven ketika ketidakpastian global meningkat. Apalagi, dengan blokade yang memengaruhi jalur strategis, risiko pasokan jadi semakin nyata.

Beberapa analis memperkirakan bahwa tekanan terhadap harga minyak akan terus berlangsung selama ketegangan antara AS dan Iran belum reda. Apalagi, jika blokade diperpanjang atau diperluas ke wilayah lain di Teluk Persia.

Apa Kata Pengamat?

Beberapa pengamat pasar menyebut bahwa lonjakan harga kali ini lebih dari sekadar reaksi pasar. Ini adalah cerminan dari ketidakstabilan struktural di kawasan Timur Tengah yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Blokade Selat Hormuz bukan hal baru, tetapi kali ini dilakukan secara resmi dan dengan ancaman militer yang lebih nyata.

Banyak yang membandingkan situasi ini dengan krisis minyak tahun 1970-an, ketika negara-negara Arab menggunakan minyak sebagai senjata politik. Kali ini, Iran dan AS sedang bermain api dengan pasokan energi global.

Potensi Skenario ke Depan

  1. Peningkatan Ketegangan Militer
    Jika blokade tidak direspons dengan diplomasi, kemungkinan eskalasi militer akan semakin besar. Iran bisa memperluas operasi blokade ke wilayah lain atau menyerang kapal dagang yang melewati jalur tersebut.

  2. Intervensi Negara Lain
    Negara-negara seperti China, , atau Uni Eropa mungkin akan mencoba memediasi agar menghindari krisis energi global. Namun, efektivitas mediasi tergantung pada niat dan pengaruh mereka terhadap kedua belah pihak.

  3. Dampak Jangka Panjang terhadap Energi Alternatif
    Lonjakan harga minyak bisa mempercepat global. Negara-negara mungkin akan mempercepat investasi di energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak mentah.

Disclaimer

Harga minyak sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan geopolitik, kondisi ekonomi global, dan spekulasi pasar. Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.