Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang awalnya hadir sebagai upaya kemanusiaan untuk menjamin asupan gizi anak-anak di sekolah, kini mulai menunjukkan dampak lebih luas. Tidak hanya soal kesehatan dan pendidikan, program ini ternyata mulai menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bahkan menyebut MBG sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru yang sedang mengubah dinamika bisnis lokal.
Mulya Amri, Executive Director Kadin Indonesia Institute, menjelaskan bahwa program ini telah memberikan efek langsung pada sektor riil, terutama di bidang pertanian dan peternakan. Dulu, surplus stok ayam dan telur justru menjadi masalah. Kini, permintaan meningkat tajam karena kebutuhan dapur MBG yang tersebar di berbagai wilayah. Ini membuka peluang besar bagi pelaku usaha lokal untuk tumbuh dan berkembang.
Dampak Ekonomi dari Program MBG
1. Mendorong Peningkatan Produksi Peternakan dan Pertanian
Salah satu dampak nyata dari program MBG adalah lonjakan permintaan bahan baku makanan. Telur, ayam, sayur, dan bahan pokok lainnya kini jadi komoditas yang sangat dibutuhkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Mulya Amri menyebut bahwa sebelum program ini, stok telur justru melimpah. Sekarang, kebutuhan bahkan melebihi pasokan.
Benedictus Dalupe, seorang peternak ayam petelur di Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, adalah salah satu contoh nyata. Ia kini menyuplai sekitar 3.000 butir telur per minggu ke satu unit SPPG. Sebelumnya, usahanya hanya berjalan biasa-biasa saja. Kini, ia harus meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan rutin dari dapur MBG.
2. Membuka Peluang Baru bagi Pengusaha Lokal
Program MBG tidak hanya menguntungkan peternak dan petani. Ini juga membuka celah besar bagi pengusaha lokal untuk ikut serta dalam rantai pasok dan pengelolaan program. Mulya Amri menekankan bahwa pemerintah tidak bisa sendirian menjalankan program sebesar ini. Diperlukan keterlibatan sektor swasta, terutama dalam hal infrastruktur dapur dan distribusi.
Dana APBN yang dialokasikan untuk MBG sebagian besar digunakan untuk operasional dan relawan, bukan untuk membangun dapur. Artinya, pengusaha bisa masuk di sini. Membangun dapur, merekrut tenaga kerja, dan mengelola jaringan pasokan makanan. Modal yang dibutuhkan untuk satu dapur berkisar antara Rp1,5 miliar hingga Rp3 miliar.
3. Meningkatkan Kualitas SDM Jangka Panjang
Selain dampak ekonomi langsung, MBG juga dianggap sebagai investasi jangka panjang. Mulya Amri menyebut bahwa manfaat dari program ini baru akan terlihat 5 hingga 15 tahun ke depan dalam bentuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Anak-anak yang mendapat asupan gizi yang baik akan memiliki konsentrasi belajar yang lebih baik, sehingga hasil pendidikan pun meningkat.
Persepsi Masyarakat terhadap MBG
Tidak semua pihak menyambut positif program ini. Ada kalangan menengah yang merasa bahwa pemerintah seharusnya tidak ikut campur urusan makanan anak-anak. Pandangan ini, menurut Mulya Amri, tidak mencerminkan realita di lapangan.
Banyak anak, kata dia, tidak mendapat makan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Data dari LabSosio-LPPSP FISIP UI menunjukkan bahwa hampir setengah murid (48,5%) jarang atau bahkan tidak pernah sarapan. Padahal, 85,8% dari mereka menghabiskan makanan MBG yang disediakan.
Dukungan dari Orang Tua dan Masyarakat
Hasil penelitian dari Research Institute Of Socio-Economic Development (RISED) juga menunjukkan bahwa 81% orang tua dari keluarga rentan mendukung keberlanjutan program MBG. Dukungan ini bukan hanya karena penghematan biaya, tapi juga karena adanya kepastian bahwa anak mereka mendapat makanan bergizi selama di sekolah.
Survei dari Indikator Politik juga mencatat bahwa 12,2% masyarakat sangat puas dengan program ini, dan 60,6% menyatakan cukup puas. Ini menunjukkan bahwa meski ada skeptisisme, mayoritas masyarakat melihat manfaat nyata dari MBG.
Tantangan dan Peluang ke Depan
1. Meningkatkan Keterlibatan Pengusaha Daerah
Dari target 30.000 dapur, baru sekitar 20.000 unit yang telah dibangun dan beroperasi. Artinya, masih ada sekitar sepertiga target yang belum tercapai. Kadin mendorong pengusaha lokal, terutama di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), untuk segera bergabung. Ini adalah peluang emas untuk membangun bisnis yang berdampak langsung pada masyarakat.
2. Memperkuat Rantai Pasok Lokal
Salah satu tantangan besar adalah memastikan pasokan bahan baku tetap stabil. Banyak daerah masih bergantung pada pasokan dari luar, seperti Jawa. Padahal, ini bisa menjadi peluang bagi petani dan peternak lokal untuk berkembang. Dengan adanya permintaan yang konsisten dari SPPG, mereka bisa meningkatkan produksi secara berkelanjutan.
3. Meningkatkan Kualitas dan Keberlanjutan Program
Program MBG bukan hanya soal memberi makan gratis. Ini juga soal membangun sistem distribusi, memastikan kualitas makanan, dan menjaga keberlanjutan program. Kolaborasi antara pemerintah dan swasta sangat penting agar program ini bisa terus berjalan dan memberi manfaat maksimal.
Data Dukung: Penilaian Masyarakat terhadap MBG
| Institusi | Persentase Dukungan | Keterangan |
|---|---|---|
| LabSosio-LPPSP FISIP UI | 85,8% siswa menghabiskan makanan MBG | Mayoritas anak tidak pernah sarapan |
| RISED | 81% orang tua mendukung keberlanjutan MBG | Bukan hanya soal ekonomi, tapi juga kepastian gizi |
| Indikator Politik | 72,8% masyarakat puas (sangat puas + cukup puas) | Mayoritas melihat manfaat langsung |
Kesimpulan
Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya soal kesejahteraan sosial. Ini adalah program yang membawa dampak ekonomi nyata, terutama di daerah. Dari peternak kecil hingga pengusaha besar, semua bisa ikut berkontribusi dan merasakan manfaatnya. Kadin melihat ini sebagai peluang besar untuk membangun ekosistem ekonomi baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Namun, seperti semua program besar, MBG juga menghadapi tantangan. Dari keterbatasan infrastruktur hingga ketergantungan pada pasokan luar. Tapi dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah dan swasta, serta dukungan masyarakat, program ini bisa terus berkembang dan memberi manfaat lebih luas.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan program dan kebijakan pemerintah.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.












