Penyaluran pembiayaan kendaraan listrik di sektor multifinance mencatatkan pertumbuhan yang cukup signifikan pada awal tahun 2026. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa total nilai pembiayaan kendaraan listrik mencapai Rp 21,94 triliun per Februari 2026. Angka ini naik hampir 40% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap kendaraan listrik terus meningkat. Apalagi, dinamika global seperti ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada fluktuasi harga BBM memberi tekanan baru pada pilihan moda transportasi. Multifinance pun mulai melihat peluang ini sebagai momentum untuk mempercepat portofolio pembiayaan hijau mereka.
Peningkatan Dominasi Roda Empat Listrik
Salah satu faktor utama di balik pertumbuhan pembiayaan ini adalah dominasi kendaraan roda empat listrik atau hybrid. Jenis kendaraan ini menyumbang 83,52% dari total pembiayaan kendaraan listrik, setara dengan Rp 18,32 triliun. Artinya, permintaan terhadap mobil listrik semakin tinggi, baik dari kalangan individu maupun korporasi.
Tren ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang mendorong transisi energi menuju yang lebih ramah lingkungan. Ditambah lagi, insentif pajak serta subsidi yang ditawarkan oleh beberapa produsen membuat harga mobil listrik terasa lebih terjangkau.
1. Penyaluran Pembiayaan Kendaraan Listrik Capai Rp 21,94 Triliun
Data OJK menyebutkan bahwa total penyaluran pembiayaan kendaraan listrik di industri multifinance per Februari 2026 mencapai Rp 21,94 triliun. Angka ini merupakan lonjakan 39,35% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
2. Dominasi Kendaraan Roda Empat Listrik/Hybrid
Sebanyak 83,52% dari total pembiayaan diserap oleh kendaraan roda empat listrik atau hybrid. Nilainya mencapai Rp 18,32 triliun, menunjukkan bahwa segmen ini masih menjadi primadona di pasar pembiayaan hijau.
3. Pertumbuhan Portofolio Pembiayaan Hijau
Melihat tren ini, multifinance mulai memperluas portofolio pembiayaan hijau. Ini bukan hanya respons terhadap kebijakan pemerintah, tapi juga adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen yang lebih sadar lingkungan.
Dampak Geopolitik Timur Tengah
Ketegangan di Timur Tengah yang berujung pada potensi gangguan pasokan BBM memberi efek domino terhadap pasar kendaraan alternatif. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, menyebut bahwa situasi ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang percepatan adopsi kendaraan listrik.
Pasokan BBM yang tidak stabil membuat masyarakat lebih waspada terhadap ketergantungan pada bahan bakar fosil. Hal ini mendorong mereka untuk beralih ke alternatif yang lebih andal dan berkelanjutan, salah satunya adalah kendaraan listrik.
1. Potensi Gangguan Pasokan BBM Global
Geopolitik Timur Tengah yang tak kunjung stabil berpotensi mengganggu rantai pasok BBM dunia. Ini berdampak langsung pada harga eceran bahan bakar di Indonesia.
2. Dorongan pada Alternatif Transportasi Ramah Lingkungan
Kondisi tersebut memberi ruang bagi multifinance untuk menawarkan skema pembiayaan kendaraan listrik yang lebih menarik. Baik dari segi suku bunga maupun proses aplikasi yang lebih cepat.
3. Adaptasi Cepat oleh Sektor Keuangan
Industri multifinance mulai menyesuaikan diri dengan perubahan eksternal. Salah satunya dengan mempercepat pengembangan produk pembiayaan hijau yang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini.
Performa Umum Industri Multifinance
Di tengah pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik, kondisi umum industri multifinance juga patut diperhatikan. Secara keseluruhan, piutang pembiayaan mencapai Rp 512,14 triliun per Februari 2026. Meski begitu, pertumbuhan tahunannya hanya sebesar 1,01%.
Angka ini terbilang moderat, terutama jika dibandingkan dengan pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik yang hampir dua digit. Artinya, segmen kendaraan listrik menjadi salah satu area yang menyelamatkan performa keuangan multifinance di tengah tantangan makro ekonomi.
1. Piutang Pembiayaan Capai Rp 512,14 Triliun
Total piutang pembiayaan multifinance per Februari 2026 mencapai Rp 512,14 triliun. Angka ini naik tipis 1,01% secara tahunan.
2. NPF Gross Naik Jadi 2,78%
Tingkat Non Performing Financing (NPF) gross mencatatkan kenaikan dari 2,72% menjadi 2,78%. Meski masih dalam batas wajar, angka ini menunjukkan perlunya kewaspadaan dari pihak multifinance.
3. Perlunya Evaluasi Risiko Pembiayaan
Naiknya NPF menjadi pengingat bahwa meskipun pembiayaan kendaraan listrik sedang naik daun, manajemen risiko tetap harus diperhatikan agar tidak membengkak di masa depan.
Tabel Perbandingan Pembiayaan Kendaraan Listrik
| Jenis Kendaraan | Persentase Kontribusi | Nilai (Rp) |
|---|---|---|
| Roda Empat Listrik/Hybrid | 83,52% | 18,32 triliun |
| Roda Dua Listrik | 16,48% | 3,62 triliun |
| Total | 100% | 21,94 triliun |
Tabel di atas menunjukkan bahwa kendaraan roda empat listrik atau hybrid masih mendominasi penyaluran pembiayaan kendaraan listrik di sektor multifinance. Namun, kontribusi roda dua juga mulai terlihat, terutama dari kalangan masyarakat perkotaan yang mencari solusi transportasi harian yang lebih efisien.
Kesimpulan
Pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik di sektor multifinance mencerminkan pergeseran paradigma konsumen yang semakin peduli terhadap isu lingkungan. Ditambah dengan tekanan eksternal seperti ketegangan geopolitik yang mengancam stabilitas harga BBM, menjadikan kendaraan listrik sebagai pilihan yang semakin realistis.
Meski begitu, tantangan seperti kenaikan NPF menunjukkan bahwa pengembangan produk pembiayaan hijau harus tetap diimbangi dengan pengelolaan risiko yang matang. Dengan strategi yang tepat, multifinance bisa menjadi garda depan dalam percepatan transisi energi nasional.
Disclaimer: Data di atas bersumber dari OJK per Februari 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi makro ekonomi serta kebijakan pemerintah.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













