PT Jamkrida Kaltim tampaknya tidak tinggal diam menyambut tahun 2026. Meski menghadapi tantangan berupa penurunan pendapatan dari Imbal Jasa Penjaminan (IJP), perusahaan ini justru memilih fokus pada strategi jangka panjang. Langkah-langkah yang diambil tidak hanya soal pembenahan internal, tapi juga ekspansi ke berbagai segmen produk yang dinilai punya potensi besar.
Salah satu fokus utama adalah upaya percepatan pengurusan izin dan legalitas untuk menjamin Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ini bukan hal sepele, mengingat KUR menjadi salah satu program andalan pemerintah dalam mendorong ekonomi masyarakat. Dengan legalitas yang kuat, Jamkrida Kaltim bisa lebih leluasa bergerak di segmen ini.
Strategi lain yang diambil cukup realistis. Mengingat jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kalimantan Timur yang tidak sedikit, Jamkrida Kaltim berencana mengoptimalkan penjaminan kredit multiguna. Produk ini dinilai masih punya ruang besar karena permintaan pembiayaan dari kalangan ASN dan PPPK cenderung stabil.
Rencana Jitu Tingkatkan Pendapatan dan Efisiensi
Selain itu, perusahaan juga berupaya mengembangkan penjaminan suretyship dan kredit konstruksi. Ini menjadi penting karena aktivitas pembangunan infrastruktur di Kalimantan Timur masih sangat dibutuhkan. Namun, semua ini sangat bergantung pada kondisi APBD daerah. Sayangnya, APBD Kaltim 2026 mengalami pemangkasan cukup signifikan, dari Rp 21,74 triliun menjadi Rp 15,15 triliun.
1. Fokus pada Legalitas KUR
Langkah pertama yang diambil adalah mempercepat pengurusan izin untuk penjaminan KUR. Ini menjadi salah satu program prioritas karena potensi pasarnya sangat luas, terutama di kalangan pelaku usaha kecil dan menengah.
2. Optimalkan Kredit Multiguna untuk ASN dan PPPK
Dengan jumlah ASN dan PPPK yang cukup besar di Kalimantan Timur, kredit multiguna menjadi produk yang menjanjikan. Perusahaan berharap bisa meningkatkan volume penjaminan di segmen ini.
3. Tingkatkan Penjaminan Suretyship dan Proyek Konstruksi
Meski terkendala oleh belum mulainya proyek-proyek APBD, Jamkrida Kaltim tetap mempersiapkan diri untuk kembali aktif di sektor ini begitu momentum pembangunan kembali bergulir.
4. Diversifikasi Pendapatan melalui Jasa Referral Asuransi
Langkah unik lainnya adalah memanfaatkan lalu lintas batubara di Kalimantan Timur. Perusahaan berencana menjadi referral untuk asuransi marine cargo dan marine hull, yang berpotensi memberikan fee cukup menarik.
Tantangan yang Harus Dihadapi
Penurunan IJP bruto sebesar 24,87% secara year-on-year menjadi tantangan tersendiri bagi Jamkrida Kaltim. Penurunan ini terutama terjadi di sektor penjaminan konstruksi dan surety bond. Salah satu penyebabnya adalah belum dimulainya proyek-proyek APBD 2026 yang masih dalam tahap persiapan.
Tren penurunan ini juga mencerminkan kondisi industri secara umum. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, IJP bruto industri penjaminan konvensional turun 7,78% YoY menjadi Rp 1,54 triliun per Februari 2026. Artinya, bukan hanya Jamkrida Kaltim yang menghadapi tantangan ini.
Namun, bukan berarti tidak ada peluang. Dengan strategi yang tepat dan eksekusi yang konsisten, perusahaan masih punya ruang untuk bangkit dan bahkan tumbuh di tengah kondisi yang tidak menguntungkan.
Perbandingan Pendapatan IJP Jamkrida Kaltim dan Industri
| Parameter | Tahun 2025 | Tahun 2026 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| IJP Bruto Jamkrida Kaltim | – | Rp X* | -24,87% YoY |
| IJP Bruto Industri Nasional | Rp 1,67 triliun | Rp 1,54 triliun | -7,78% YoY |
*Catatan: Nilai pasti IJP Jamkrida Kaltim tidak disebutkan dalam rilis resmi.
Potensi dan Prospek ke Depan
Kalimantan Timur masih menyimpan banyak potensi, terutama dari sektor pertambangan dan perdagangan. Dengan lalu lintas batubara yang tinggi, peluang pengembangan bisnis referral asuransi sangat terbuka lebar. Ini bisa menjadi sumber pendapatan tambahan yang cukup menjanjikan.
Selain itu, jika APBD 2026 mulai terealisasi, terutama proyek infrastruktur, maka permintaan penjaminan suretyship dan kredit konstruksi akan kembali meningkat. Ini menjadi titik penting bagi Jamkrida Kaltim untuk mempercepat pertumbuhan pendapatannya.
Perusahaan juga berharap agar pemangkasan TKD tidak terlalu dalam, sehingga pembangunan daerah tetap bisa berjalan. Karena semakin banyak proyek yang digulirkan, semakin besar pula permintaan akan jasa penjaminan.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersumber dari rilis resmi PT Jamkrida Kaltim dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2026. Nilai pendapatan dan target ke depan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan pemerintah daerah dan kondisi makro ekonomi nasional.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













