Amar Bank percaya bahwa kredit digital bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor UMKM di Indonesia. Dengan sistem yang lebih mudah, cepat, dan transparan, bank digital seperti Amar Bank memberikan solusi keuangan yang lebih inklusif. Terutama bagi pelaku usaha kecil yang selama ini kesulitan mengakses perbankan konvensional.
Menurut Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian, kredit digital memiliki proses yang lebih ringkas dan responsif. Ini membuat UMKM bisa mendapatkan modal usaha tanpa harus pusing dengan birokrasi panjang. Dengan begitu, usaha kecil punya kesempatan tumbuh lebih cepat dan sehat secara finansial.
Potensi UMKM dan Peran Kredit Digital
Indonesia punya lebih dari 64 juta unit usaha mikro, kecil, dan menengah. Angka ini didukung data dari Kementerian Koperasi dan UKM di akhir 2025. UMKM juga menyumbang sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto nasional. Artinya, sektor ini bukan cuma penting, tapi sangat strategis bagi perekonomian nasional.
Sayangnya, akses permodalan masih jadi tantangan besar. Banyak pelaku UMKM masih bergantung pada pinjaman informal yang rentan bunga tinggi dan praktik rentenir. Nah, di sinilah bank digital bisa jadi alternatif yang lebih aman dan terjangkau.
1. Kebutuhan Modal UMKM yang Terus Naik
Permintaan modal usaha terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah UMKM. Namun, sistem perbankan konvensional belum sepenuhnya mampu menjangkau semua kalangan. Terutama di daerah terpencil atau pelosok.
2. Kredit Digital sebagai Solusi Aksesibilitas
Kredit digital menawarkan proses yang lebih cepat dan minim dokumen. Cukup lewat aplikasi, pengajuan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Ini sangat cocok untuk pelaku usaha yang sibuk mengurus dagangan.
3. Persyaratan yang Lebih Ringkas
Berbeda dengan bank konvensional yang punya banyak syarat administrasi, bank digital seperti Amar Bank menekan birokrasi. Calon peminjam tidak perlu datang ke cabang, cukup unggah dokumen penting via online.
Proyeksi Pertumbuhan Transaksi Digital
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, memperkirakan transaksi digital di Indonesia akan mencapai Rp 4.000 triliun pada 2026. Angka ini sejalan dengan semakin masifnya penggunaan internet dan perangkat mobile.
Tren ini membuka peluang besar bagi bank digital untuk terus berkembang. Terlebih, masyarakat kini lebih nyaman dengan transaksi online, termasuk saat mengajukan pinjaman.
1. Peningkatan Penggunaan Internet
Semakin banyak orang yang pakai internet, semakin besar pula potensi adopsi layanan keuangan digital. Ini termasuk generasi muda yang lebih familiar dengan teknologi.
2. Infrastruktur Digital yang Semakin Baik
Pemerintah terus mengembangkan infrastruktur digital di seluruh Indonesia. Ini mendukung aksesibilitas layanan keuangan digital, bahkan di daerah yang sebelumnya belum terjamah.
3. Kebijakan Regulasi yang Mendukung
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mulai membuka ruang bagi pengembangan fintech dan bank digital. Selama tetap mematuhi aturan, inovasi bisa terus berkembang.
Perbandingan Kredit Konvensional vs Kredit Digital
| Aspek | Kredit Konvensional | Kredit Digital |
|---|---|---|
| Proses Pengajuan | Butuh datang ke cabang | Bisa dilakukan online |
| Waktu Pencairan | Bisa butuh beberapa hari | Cepat, bahkan dalam hitungan jam |
| Syarat Administrasi | Banyak dan rumit | Lebih sederhana |
| Jangkauan | Terbatas di wilayah cabang | Bisa diakses di mana saja |
| Biaya Operasional | Tinggi | Relatif lebih rendah |
Tabel di atas menunjukkan betapa praktisnya kredit digital dibandingkan dengan sistem konvensional. Terutama bagi pelaku UMKM yang butuh dana cepat dan minim ribet.
Tantangan yang Masih Ada
Meski punya banyak kelebihan, kredit digital belum sepenuhnya bebas tantangan. Salah satunya adalah literasi keuangan yang masih rendah di kalangan masyarakat kecil.
Banyak pelaku UMKM belum paham betul cara kerja pinjaman digital. Ini bisa berujung pada kebingungan atau bahkan terjebak pada praktik pinjol ilegal yang menawarkan bunga tinggi.
1. Kurangnya Edukasi Keuangan
Banyak pelaku usaha kecil belum tahu cara membedakan pinjaman legal dan ilegal. Edukasi dari pemerintah dan lembaga keuangan sangat dibutuhkan.
2. Risiko Keamanan Data
Transaksi digital menimbulkan risiko kebocoran data pribadi. Bank digital harus punya sistem keamanan yang kuat agar nasabah merasa aman.
3. Keterbatasan Jaringan Internet
Di beberapa daerah, koneksi internet masih belum stabil. Ini bisa menghambat penggunaan layanan digital, termasuk pengajuan kredit.
Strategi Amar Bank untuk Dukung UMKM
Amar Bank punya beberapa strategi untuk terus mendukung pertumbuhan UMKM lewat kredit digital. Salah satunya adalah pengembangan platform yang ramah pengguna dan mudah diakses.
Bank ini juga terus berinovasi dalam hal skema pembiayaan. Misalnya, dengan sistem ability-based financing yang menilai kemampuan usaha, bukan hanya jaminan fisik.
1. Platform Digital yang Intuitif
Amar Bank mengembangkan aplikasi yang mudah digunakan, bahkan oleh pengguna awam. Ini penting agar UMKM bisa langsung mengajukan pinjaman tanpa bantuan pihak lain.
2. Skema Pembiayaan Berbasis Kemampuan
Alih-alih hanya melihat agunan, Amar Bank lebih fokus pada potensi usaha. Ini memberikan kesempatan lebih besar bagi pelaku usaha kecil yang belum punya aset besar.
3. Kolaborasi dengan Komunitas UMKM
Bank ini juga menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas UMKM untuk memberikan edukasi keuangan. Tujuannya, agar pelaku usaha lebih paham cara mengelola pinjaman dengan baik.
Proyeksi Ke Depan
Melihat tren saat ini, Amar Bank optimistis bahwa kredit digital akan terus tumbuh hingga beberapa tahun ke depan. Apalagi, semakin banyak masyarakat yang beralih ke transaksi digital.
Dengan dukungan teknologi dan regulasi yang tepat, kredit digital bisa jadi tulang punggung pembiayaan UMKM. Ini akan membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Namun, semua ini butuh sinergi antara pemerintah, bank, dan masyarakat. Karena tanpa literasi dan kesadaran, teknologi sehebat apa pun tidak akan maksimal manfaatnya.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga April 2026. Angka dan kondisi bisa berubah seiring perkembangan ekonomi dan regulasi.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.












