Finansial

Amar Bank Yakin Kredit Digital Dapat Dorong Pertumbuhan UMKM di Tahun 2026

Fadhly Ramadan
×

Amar Bank Yakin Kredit Digital Dapat Dorong Pertumbuhan UMKM di Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
Amar Bank Yakin Kredit Digital Dapat Dorong Pertumbuhan UMKM di Tahun 2026

Amar Bank percaya bahwa kredit digital bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor UMKM di Indonesia. Dengan sistem yang lebih mudah, cepat, dan transparan, seperti Amar Bank memberikan solusi yang lebih inklusif. Terutama bagi pelaku usaha kecil yang selama ini kesulitan mengakses perbankan konvensional.

Menurut Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian, kredit digital memiliki proses yang lebih ringkas dan responsif. Ini membuat UMKM bisa mendapatkan modal usaha tanpa harus pusing dengan birokrasi panjang. Dengan begitu, usaha kecil punya kesempatan tumbuh lebih cepat dan sehat secara finansial.

Potensi UMKM dan Peran Kredit Digital

Indonesia punya lebih dari 64 juta unit usaha mikro, kecil, dan menengah. Angka ini didukung data dari Kementerian Koperasi dan UKM di akhir 2025. UMKM juga menyumbang sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto nasional. Artinya, sektor ini bukan cuma penting, tapi sangat strategis bagi perekonomian nasional.

Sayangnya, akses permodalan masih jadi tantangan besar. Banyak pelaku UMKM masih bergantung pada informal yang rentan bunga tinggi dan praktik rentenir. Nah, di sinilah bank digital bisa jadi alternatif yang lebih aman dan terjangkau.

1. Kebutuhan Modal UMKM yang Terus Naik

Permintaan modal usaha terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah UMKM. Namun, sistem perbankan konvensional belum sepenuhnya mampu menjangkau semua kalangan. Terutama di daerah terpencil atau pelosok.

2. Kredit Digital sebagai Solusi Aksesibilitas

Kredit digital menawarkan proses yang lebih cepat dan minim dokumen. Cukup lewat aplikasi, pengajuan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Ini sangat cocok untuk pelaku usaha yang sibuk mengurus dagangan.

3. Persyaratan yang Lebih Ringkas

Berbeda dengan bank konvensional yang punya banyak syarat administrasi, bank digital seperti Amar Bank menekan birokrasi. Calon peminjam tidak perlu datang ke cabang, cukup unggah dokumen penting via online.

Proyeksi Pertumbuhan Transaksi Digital

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, memperkirakan transaksi digital di Indonesia akan mencapai Rp 4.000 triliun pada 2026. Angka ini sejalan dengan semakin masifnya penggunaan internet dan .

Tren ini membuka peluang besar bagi bank digital untuk terus berkembang. Terlebih, masyarakat kini lebih nyaman dengan transaksi online, termasuk saat mengajukan pinjaman.

1. Peningkatan Penggunaan Internet

Semakin banyak orang yang pakai internet, semakin besar pula potensi adopsi keuangan digital. Ini termasuk generasi muda yang lebih familiar dengan teknologi.

2. Infrastruktur Digital yang Semakin Baik

Pemerintah terus mengembangkan infrastruktur digital di seluruh Indonesia. Ini mendukung aksesibilitas layanan keuangan digital, bahkan di daerah yang sebelumnya belum terjamah.

3. Kebijakan Regulasi yang Mendukung

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mulai membuka ruang bagi pengembangan fintech dan bank digital. Selama tetap mematuhi aturan, inovasi bisa terus berkembang.

Perbandingan Kredit Konvensional vs Kredit Digital

Aspek Kredit Konvensional Kredit Digital
Proses Pengajuan Butuh datang ke cabang Bisa dilakukan online
Waktu Pencairan Bisa butuh beberapa hari Cepat, bahkan dalam hitungan jam
Syarat Administrasi Banyak dan rumit Lebih sederhana
Jangkauan Terbatas di wilayah cabang Bisa diakses di mana saja
Biaya Operasional Tinggi Relatif lebih rendah

Tabel di atas menunjukkan betapa praktisnya kredit digital dibandingkan dengan sistem konvensional. Terutama bagi pelaku UMKM yang butuh cepat dan minim ribet.

Tantangan yang Masih Ada

Meski punya banyak kelebihan, kredit digital belum sepenuhnya bebas tantangan. Salah satunya adalah literasi keuangan yang masih rendah di kalangan masyarakat kecil.

Banyak pelaku UMKM belum paham betul cara kerja pinjaman digital. Ini bisa berujung pada kebingungan atau bahkan terjebak pada praktik yang menawarkan bunga tinggi.

1. Kurangnya Edukasi Keuangan

Banyak pelaku usaha kecil belum tahu cara membedakan pinjaman legal dan ilegal. dari pemerintah dan lembaga keuangan sangat dibutuhkan.

2. Risiko Keamanan Data

Transaksi digital menimbulkan risiko kebocoran data pribadi. Bank digital harus punya sistem keamanan yang kuat agar nasabah merasa aman.

3. Keterbatasan Jaringan Internet

Di beberapa daerah, koneksi internet masih belum stabil. Ini bisa menghambat penggunaan layanan digital, termasuk pengajuan kredit.

Strategi Amar Bank untuk Dukung UMKM

Amar Bank punya beberapa strategi untuk terus mendukung pertumbuhan UMKM lewat kredit digital. Salah satunya adalah pengembangan platform yang ramah dan mudah diakses.

Bank ini juga terus berinovasi dalam hal skema pembiayaan. Misalnya, dengan sistem ability-based financing yang menilai kemampuan usaha, bukan hanya jaminan fisik.

1. Platform Digital yang Intuitif

Amar Bank mengembangkan aplikasi yang mudah digunakan, bahkan oleh pengguna awam. Ini penting agar UMKM bisa langsung mengajukan pinjaman tanpa bantuan pihak lain.

2. Skema Pembiayaan Berbasis Kemampuan

Alih-alih hanya melihat agunan, Amar Bank lebih fokus pada potensi usaha. Ini memberikan kesempatan lebih besar bagi pelaku usaha kecil yang belum punya aset besar.

3. Kolaborasi dengan Komunitas UMKM

Bank ini juga menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas UMKM untuk memberikan edukasi keuangan. Tujuannya, agar pelaku usaha lebih paham cara mengelola pinjaman dengan baik.

Proyeksi Ke Depan

Melihat tren saat ini, Amar Bank optimistis bahwa kredit digital akan terus tumbuh hingga beberapa tahun ke depan. Apalagi, semakin banyak masyarakat yang beralih ke transaksi digital.

Dengan dukungan teknologi dan regulasi yang tepat, kredit digital bisa jadi tulang punggung pembiayaan UMKM. Ini akan membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Namun, semua ini butuh sinergi antara pemerintah, bank, dan masyarakat. Karena tanpa literasi dan kesadaran, teknologi sehebat apa pun tidak akan maksimal manfaatnya.


Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga April 2026. Angka dan kondisi bisa berubah seiring perkembangan ekonomi dan regulasi.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.