Ilustrasi. Foto: Dok MI
Reporter: Eko Nordiansyah
New York: Dolar AS mengalami sedikit tekanan pada awal pekan ini. Pelemahan ini terjadi seiring dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait penolakan Iran atas proposal gencatan senjata yang tengah digodok. Meski begitu, pasar tetap menanti respons dari pihak AS, termasuk ancaman keras yang dilontarkan oleh Presiden Donald Trump.
Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang ini terhadap enam pasangan mata uang utama, turun tipis ke level 99,98. Pergerakan ini terjadi di tengah libur pasar Eropa karena perayaan Senin Paskah. Sementara itu, euro cenderung stabil, dan yen Jepang tetap berada di kisaran 159,69 terhadap dolar.
Ketegangan Timur Tengah dan Dampaknya pada Dolar AS
Ketegangan antara AS dan Iran memuncak kembali setelah Iran menolak rencana gencatan senjata yang disusun dengan bantuan mediator regional, termasuk Pakistan. Proposal yang dirancang untuk mengakhiri permusuhan dalam dua tahap itu mendapat penolakan tegas dari Teheran. Media pemerintah Iran menyebut bahwa negara itu lebih mengutamakan pengakhiran permanen konflik, bukan sekadar gencatan senjata sementara.
1. Penolakan Iran dan Respons Trump
Iran mengirimkan tanggapan resmi yang terdiri dari sepuluh klausul. Salah satunya adalah permintaan pembukaan jalur aman di Selat Hormuz dan pencabutan sanksi ekonomi. Namun, Presiden Trump menyatakan bahwa proposal dari Iran belum memenuhi ekspektasi AS.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa pihaknya masih membuka ruang dialog. Namun, ia juga memperingatkan bahwa waktu bagi Iran untuk merespons tawaran AS sudah hampir habis.
2. Ancaman Terhadap Infrastruktur Iran
Trump kembali mengingatkan batas waktu yang ia tetapkan—Selasa pukul 20.00 Waktu Bagian Timur—bagi Iran untuk membuat kesepakatan. Jika tidak, ancaman serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk pembangkit listrik, akan diluncurkan. Ancaman ini menjadi salah satu faktor yang memicu ketidakpastian di pasar global.
3. Peran Mediator dan Potensi Gencatan Senjata
Meskipun Iran menolak proposal awal, sumber-sumber dari AS, Israel, dan negara-negara regional mengungkapkan bahwa rencana gencatan senjata selama 45 hari masih dibahas. Kesepakatan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengakhiran permanen konflik.
Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah kesepakatan tersebut akan benar-benar tercapai. Analis dari Vital Knowledge menyebut bahwa eskalasi besar yang melibatkan pasukan AS di lapangan masih bisa dicegah, meski situasi tetap rawan.
Dolar AS sebagai Safe Haven yang Terguncang
Selama konflik Timur Tengah berlangsung, dolar AS biasanya menjadi pilihan utama investor untuk berlindung. Namun, tekanan terhadap dolar mulai terlihat seiring dengan optimisme akan penyelesaian damai dan data ekonomi AS yang kuat.
4. Laporan Tenaga Kerja Maret yang Mengejutkan
Data penggajian non-pertanian AS untuk Maret menunjukkan penambahan 178.000 lapangan kerja, jauh melampaui ekspektasi sebesar 60.000. Peningkatan ini didorong oleh berakhirnya pemogokan di sektor kesehatan dan cuaca yang lebih hangat.
Namun, angka ini juga menunjukkan volatilitas pasar tenaga kerja AS sepanjang tahun ini. Revisi data sebelumnya menunjukkan penyesuaian yang cukup signifikan: peningkatan untuk Januari menjadi 160.000 dan penurunan untuk Februari menjadi 133.000.
5. Dampak pada Kebijakan Moneter
Data tenaga kerja yang kuat memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk fokus pada inflasi. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah menjadi perhatian utama. Angka pengangguran yang lebih rendah biasanya meningkatkan spekulasi penurunan suku bunga, yang berpotensi melemahkan dolar.
Viktor Shvets, kepala strategi global di Macquarie, menyebut bahwa pasar tenaga kerja AS kini berada dalam “keseimbangan aneh.” Ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah, AI yang berkembang pesat, dan ketimpangan ekonomi, menciptakan kombinasi risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Fokus Pasar ke Inflasi dan Data Mendatang
6. Laporan CPI Maret Menjadi Penentu Arah Dolar
Perhatian pasar kini beralih ke laporan indeks harga konsumen (CPI) untuk Maret yang akan dirilis akhir pekan ini. Data ini akan mencerminkan dampak langsung dari lonjakan harga minyak akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Investor akan mengamati apakah inflasi tetap berada dalam jalur yang terkendali atau justru melonjak tajam. Jika inflasi naik di luar ekspektasi, dolar bisa menguat kembali sebagai aset safe haven. Namun, jika tetap terkendali, peluang penurunan suku bunga bisa makin terbuka.
Tabel: Revisi Data Tenaga Kerja AS (Januari–Maret 2026)
| Bulan | Perkiraan Awal | Revisi Terbaru | Selisih |
|---|---|---|---|
| Januari | 120.000 | 160.000 | +40.000 |
| Februari | 85.000 | -133.000 | -218.000 |
| Maret | 60.000 | 178.000 | +118.000 |
Catatan: Data Februari menunjukkan penurunan karena revisi besar terhadap data sebelumnya.
Kesimpulan: Dolar di Persimpangan Jalan
Dolar AS saat ini berada di titik kritis. Di satu sisi, ketegangan di Timur Tengah bisa mendorong permintaan terhadap dolar sebagai safe haven. Di sisi lain, data ekonomi yang kuat dan ekspektasi penurunan suku bunga bisa menekan nilai tukarnya.
Investor global kini menunggu perkembangan lebih lanjut dari negosiasi antara AS dan Iran, serta rilis data inflasi yang akan datang. Semua faktor ini akan menentukan apakah dolar AS akan pulih atau terus melemah dalam pekan-pekan mendatang.
Disclaimer: Data dan perkembangan situasi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak menjadi rekomendasi investasi.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













