Di tengah ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga energi global, Indonesia mulai mempertimbangkan langkah strategis untuk mengamankan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. Salah satu solusi yang tengah dibahas adalah memanfaatkan produksi minyak mentah dari perusahaan migas nasional yang beroperasi di luar negeri. Langkah ini diharapkan bisa membantu menutup kebutuhan BBM domestik, khususnya dari kilang-kilang lokal yang menggunakan harga publish rate.
Pemerintah dan sejumlah pakar melihat bahwa membawa pulang minyak mentah hasil produksi di luar negeri merupakan langkah pragmatis. Terlebih saat ini, kebutuhan energi dalam negeri terus meningkat, sementara pasokan lokal terbatas dan harga minyak global terus berada di level tinggi. Dengan memanfaatkan produksi dari Blok Migas yang dikelola di luar negeri, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah.
Strategi Membawa Pulang Produksi Minyak Mentah
Langkah ini bukan hal baru. Pada akhir Januari 2026, Pertamina telah membawa pulang 1 juta barel minyak mentah dari Aljazair. Minyak tersebut bukan hasil impor, melainkan berasal dari Wilayah Kerja Blok 405 A yang dikelola Pertamina Internasional Eksplorasi & Produksi (PIEP). Langkah ini menjadi contoh bagaimana perusahaan bisa memanfaatkan asetnya di luar negeri untuk kepentingan domestik.
1. Identifikasi Blok Produksi di Luar Negeri
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi blok migas yang dikelola oleh perusahaan KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) Indonesia di luar negeri. Blok-blok ini tersebar di berbagai negara seperti Aljazair, Myanmar, dan beberapa negara Afrika lainnya. Setiap blok memiliki kapasitas produksi yang berbeda, sehingga perlu evaluasi prioritas berdasarkan volume dan biaya angkut.
2. Koordinasi dengan Subholding Hulu Pertamina
Perusahaan seperti Pertamina perlu mengoordinasikan pengalihan produksi minyak mentah dari blok luar negeri ke kilang dalam negeri melalui subholding hulu. Ini mencakup pengaturan logistik, pengiriman, serta penyesuaian harga sesuai dengan publish rate yang berlaku agar tidak memberatkan subsidi energi nasional.
3. Penyesuaian Harga dan Subsidi
Meski selisih harga bisa terjadi antara harga pasar global dan harga jual dalam negeri, pemerintah perlu menyiapkan skema subsidi atau penyesuaian harga agar tidak terlalu memberatkan APBN. Langkah ini penting agar pasokan BBM tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi makro.
Dukungan dari Asosiasi dan Ahli
Dukungan terhadap langkah ini datang dari berbagai pihak, termasuk asosiasi migas dan lembaga riset energi. Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, menyatakan bahwa upaya membawa pulang minyak mentah dari luar negeri adalah langkah positif. Menurutnya, saat ini prioritas utama adalah memastikan ketersediaan BBM dalam negeri terpenuhi.
Ketua Umum Aspermigas, Elan Biantoro, juga menyatakan hal senada. Menurut Elan, dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu, semua pihak harus bergerak cepat untuk mencari solusi agar pasokan energi dalam negeri tidak terganggu. Dia menilai bahwa membawa pulang minyak hasil produksi di luar negeri adalah salah satu cara yang efektif dan cepat.
Tantangan dan Pertimbangan
Meski terdengar logis, langkah ini juga menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah biaya logistik pengiriman minyak mentah dari luar negeri ke Indonesia. Selain itu, ada pertimbangan regulasi di negara asal produksi yang bisa memengaruhi kebijakan ekspor.
1. Biaya Pengiriman dan Logistik
Pengiriman minyak mentah dari luar negeri membutuhkan kapal tanker dan waktu tempuh yang cukup lama. Biaya transportasi bisa cukup besar, terutama jika harga sewa kapal sedang tinggi akibat permintaan global yang tinggi.
2. Regulasi dan Kebijakan di Negara Asal
Beberapa negara memiliki regulasi ketat terhadap ekspor minyak mentah. Perusahaan KKKS harus memastikan bahwa produksi mereka bisa dialihkan ke Indonesia tanpa melanggar aturan setempat.
3. Keseimbangan Harga dan Subsidi
Jika harga minyak mentah global terus tinggi, maka pemerintah harus menanggung subsidi yang besar untuk menjaga harga BBM tetap terjangkau. Ini bisa membebani APBN dalam jangka panjang jika tidak dikelola dengan baik.
Perbandingan Skema Pasokan BBM
Berikut adalah perbandingan antara skema pasokan BBM dari dalam negeri dan dari produksi luar negeri:
| Kriteria | Produksi Dalam Negeri | Produksi Luar Negeri |
|---|---|---|
| Biaya Pasokan | Relatif stabil | Bisa tinggi karena logistik |
| Ketersediaan | Terbatas | Tergantung produksi blok |
| Regulasi | Mudah diatur | Perlu penyesuaian bilateral |
| Waktu Pengiriman | Singkat | Lama (kapal tanker) |
| Subsidi Pemerintah | Tinggi | Bisa lebih tinggi |
Potensi Jangka Panjang
Jika langkah ini berhasil diimplementasikan secara konsisten, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah dari negara ketiga. Selain itu, pemanfaatan produksi dari blok migas yang dikelola di luar negeri bisa menjadi bagian dari strategi energi nasional jangka panjang.
Langkah ini juga bisa mendorong kolaborasi lebih erat antara BUMN migas dan swasta dalam menghadapi tantangan energi global. Dengan begitu, roda perekonomian bisa tetap berjalan meski dalam kondisi krisis energi.
Kesimpulan
Membawa pulang produksi minyak mentah dari luar negeri adalah langkah strategis yang bisa membantu Indonesia mengatasi ancaman krisis energi. Meski ada tantangan, terutama dari segi biaya dan regulasi, langkah ini layak dipertimbangkan sebagai bagian dari solusi jangka pendek dan menengah. Yang terpenting saat ini adalah memastikan pasokan BBM tetap mencukupi kebutuhan dalam negeri.
Disclaimer: Data dan kondisi terkait harga minyak mentah serta regulasi di negara asal produksi bisa berubah sewaktu-waktu. Informasi dalam artikel ini berlaku sesuai kondisi April 2026.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













