Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan kondisi APBN kuartal I-2026 yang menunjukkan defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Meski mengalami surplus belanja, kondisi ini masih berada dalam batas aman dan sejalan dengan target fiskal pemerintah.
Pendapatan negara hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun, naik 10,5 persen secara tahunan. Kenaikan ini didorong terutama oleh sektor perpajakan yang tumbuh signifikan sebesar 20,7 persen, menyumbang Rp394,8 triliun dari total pendapatan. Di sisi lain, pengeluaran negara juga meningkat tajam, mencatatkan realisasi belanja sebesar Rp815,0 triliun atau 21,2 persen dari target APBN tahun ini.
Kondisi APBN Kuartal I-2026
Defisit APBN sebesar Rp240,1 triliun hingga Maret 2026 mencerminkan dinamika antara pertumbuhan pendapatan dan lonjakan belanja negara. Meski defisit, rasio ini tetap berada dalam batas aman, yaitu 0,92 persen dari PDB. Angka tersebut sedikit di bawah batas maksimal defisit yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2026.
Defisit keseimbangan primer juga tercatat sebesar Rp95,8 triliun. Ini menunjukkan bahwa pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas makro.
1. Pendapatan Negara Capai Rp574,9 Triliun
Pendapatan negara tumbuh 10,5 persen secara tahunan. Kenaikan ini didominasi oleh sektor pajak yang melonjak 20,7 persen. Penerimaan perpajakan mencapai Rp394,8 triliun, menjadi tulang punggung pendapatan APBN.
2. Realisasi Belanja Negara Tembus Rp815 Triliun
Belanja negara tumbuh 31,4 persen secara tahunan. Realisasi belanja mencapai Rp815,0 triliun atau 21,2 persen dari total target APBN. Lonjakan ini sebagian besar digunakan untuk mendukung program prioritas pemerintah dan investasi infrastruktur.
3. Defisit APBN Masih Terjaga
Meski defisit, angka ini masih berada dalam batas aman. Rasio defisit terhadap PDB sebesar 0,92 persen menunjukkan bahwa kebijakan fiskal masih terkendali dan tidak membahayakan stabilitas ekonomi makro.
Realisasi PNBP Terkoreksi
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mengalami sedikit penurunan sebesar 3,0 persen secara tahunan menjadi Rp112,1 triliun. Penurunan ini dipicu oleh turunnya harga dan volume lifting migas serta belum adanya setoran dividen interim dari BUMN.
Namun, Purbaya menegaskan bahwa PNBP masih berada dalam jalur yang benar. Realisasi PNBP mencapai 24,4 persen dari target APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp459,2 triliun.
1. PNBP SDA Nonmigas Naik 7,1 Persen
Penerimaan dari sektor Sumber Daya Alam nonmigas tumbuh positif 7,1 persen. Kenaikan ini didorong oleh tren harga komoditas tambang global yang menguat di awal tahun.
2. PNBP Kementerian/Lembaga Naik 22 Persen
PNBP dari Kementerian dan Lembaga juga mengalami peningkatan sebesar 22 persen. Lonjakan ini disebabkan oleh peningkatan layanan publik dan penegakan hukum yang lebih efektif.
3. BLU Tumbuh 27,3 Persen
Badan Layanan Umum (BLU) mencatat pertumbuhan PNBP sebesar 27,3 persen. Kenaikan ini dipicu oleh penyesuaian tarif ekspor minyak sawit dan turunannya.
Stabilitas Ekonomi dan Kebijakan BBM
Meski berada di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan tanda-tanda stabilitas. Inflasi terkendali, sektor industri manufaktur terus tumbuh, dan aktivitas ekonomi riil tetap positif.
1. Inflasi Terjaga di Rentang Target
Inflasi Maret 2026 tetap berada dalam rentang target. Ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter dan fiskal berjalan sinergis dalam menjaga daya beli masyarakat.
2. Sektor Manufaktur Tumbuh Delapan Bulan Berturut-turut
Industri manufaktur mencatatkan pertumbuhan selama delapan bulan berturut-turut. Ini menjadi indikator kuat bahwa roda perekonomian dalam negeri masih berputar dengan baik.
3. Harga BBM Bersubsidi Tak Naik Sampai Akhir Tahun
Purbaya menjamin tidak akan ada kenaikan harga BBM bersubsidi hingga akhir 2026. Penjaminan ini didasarkan pada asumsi harga minyak rata-rata sepanjang tahun di angka USD100 per barel.
Tabel Realisasi Pendapatan dan Belanja Negara Q1 2026
| Komponen | Realisasi (Rp Triliun) | Pertumbuhan (yoy) | Persentase Target |
|---|---|---|---|
| Pendapatan Negara | 574,9 | 10,5% | – |
| Perpajakan | 394,8 | 20,7% | – |
| PNBP | 112,1 | -3,0% | 24,4% |
| Belanja Negara | 815,0 | 31,4% | 21,2% |
| Defisit APBN | 240,1 | – | 0,92% PDB |
Disclaimer
Data dalam artikel ini bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan perkembangan realisasi APBN sepanjang tahun 2026. Angka-angka yang disajikan merupakan hasil laporan resmi Menteri Keuangan dan dapat berbeda dengan data final yang akan dirilis di akhir tahun.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













