Nasional

Harga Minyak Dunia 2026 Masih Terpapar Risiko Ketegangan Geopolitik Global

Fadhly Ramadan
×

Harga Minyak Dunia 2026 Masih Terpapar Risiko Ketegangan Geopolitik Global

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Dunia 2026 Masih Terpapar Risiko Ketegangan Geopolitik Global

Ilustrasi kenaikan minyak mentah global kerap kali menjadi cerminan dari situasi geopolitik yang sedang berkembang di berbagai belahan dunia. Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara Iran, Israel, dan keterlibatan tidak langsung Amerika Serikat, telah memicu volatilitas harga energi. Lonjakan harga minyak hingga mencapai USD90–100 per barel jauh melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang hanya memperhitungkan harga USD70 per barel.

Pemerintah Indonesia pun terpaksa menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Meski isu penyesuaian harga sempat santer beredar, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian secara tegas membantah adanya rencana penyesuaian harga BBM. Namun, di balik keputusan itu, terdapat tekanan besar dari lonjakan biaya energi global yang berimbas pada beban subsidi negara.

Faktor Utama yang Mendorong Fluktuasi Harga Minyak Dunia

Harga minyak global tidak bergerak begitu saja. Ada banyak variabel yang saling terhubung, dan salah satunya adalah eskalasi geopolitik. Ketika ketegangan meningkat, pasar energi langsung merespons dengan cepat. Investor dan produsen khawatir akan pasokan, sehingga harga langsung naik.

1. Ketegangan Timur Tengah

Timur Tengah tetap menjadi salah satu wilayah paling strategis dalam rantai pasok energi global. Setiap konflik atau ancaman di kawasan ini langsung berdampak pada jalur pasok minyak mentah ke seluruh dunia. Misalnya, ketika Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak terpadat di dunia, harga langsung melonjak.

2. Kebijakan Produksi OPEC+

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk , memiliki peran besar dalam menentukan pasokan global. Ketika mereka memilih memangkas produksi, harga otomatis naik. Sebaliknya, peningkatan produksi bisa menurunkan harga. Sayangnya, politik internal sering kali membuat keputusan mereka tidak stabil.

3. Permintaan Global yang Fluktuatif

Permintaan minyak juga tidak selalu stabil. Di masa pasca-pandemi, permintaan energi meningkat tajam. Namun, jika ada perlambatan ekonomi global, permintaan bisa turun drastis. Ini menciptakan ketidakseimbangan yang berujung pada fluktuasi harga.

Dampak pada Kebijakan Energi Domestik

Indonesia sebagai negara importir minyak mentah merasakan dampaknya secara langsung. Harga BBM dalam negeri sebagian besar ditentukan oleh harga pasar internasional. Meskipun sebagian besar produksi minyak nasional dikontrol oleh Pertamina dan mitra kontraktor, harga tetap mengacu pada benchmark global.

1. Tekanan pada APBN

Dengan harga minyak global yang jauh melampaui asumsi APBN, menjadi semakin memberatkan. Arcandra Tahar, pakar energi nasional, menyebut bahwa jika harga BBM tidak disesuaikan, maka beban subsidi bisa membengkak hingga puluhan triliun rupiah. Hal ini tentu akan mengganggu kesehatan fiskal negara.

2. Risiko Inflasi dan Daya Beli Masyarakat

Namun, jika pemerintah memilih menaikkan harga BBM untuk mengurangi subsidi, dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Inflasi bisa naik, dan daya beli masyarakat menurun. Ini adalah dilema klasik yang sulit diselesaikan tanpa mengorbankan salah satu pihak.

3. Penambahan Subsidi Energi

Menkeu Yudhi Sadewa mengumumkan penambahan anggaran subsidi energi sebesar Rp90 triliun hingga Rp100 triliun. Dana ini dialokasikan untuk menjaga harga komoditas seperti LPG 3 kg dan solar tetap terjangkau bagi masyarakat. Penambahan ini merupakan langkah antisipatif mengingat potensi energi global yang masih tinggi.

Strategi Jangka Panjang untuk Menghadapi Volatilitas Harga Minyak

Mengandalkan subsidi jangka pendek memang mudah, tapi tidak berkelanjutan. Pemerintah harus mulai memikirkan jangka panjang agar tidak terus-menerus terjebak dalam siklus kenaikan harga dan tekanan APBN.

1. Diversifikasi Sumber Energi

Salah satu langkah penting adalah mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Energi terbarukan seperti surya, angin, dan geothermal bisa menjadi alternatif yang lebih stabil dan ramah lingkungan. Investasi di sektor ini perlu dipercepat agar infrastruktur bisa dibangun dalam waktu dekat.

2. Pengembangan Cadangan Minyak Nasional

Memiliki cadangan minyak yang cukup bisa menjadi buffer ketika harga global naik. Cadangan ini bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik tanpa harus bergantung sepenuhnya pada impor dengan harga mahal.

3. Reformasi Subsidi yang Lebih Tepat Sasaran

Subsidi energi seharusnya tidak lagi dinikmati semua kalangan, termasuk golongan mampu. Dengan sistem yang lebih selektif, dana subsidi bisa dialihkan untuk membantu kelompok rentan secara lebih efektif.

Tabel: Perbandingan Asumsi APBN dan Harga Pasar Minyak Mentah

Komponen Asumsi APBN 2026 Harga Pasar Saat Ini
Harga Minyak per Barrel USD70 USD90–100
Sumber Kementerian RI Bloomberg/EIA
Revisi Terakhir Q1 2026 April 2026

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik global, kebijakan OPEC+, dan kondisi makroekonomi. Harga minyak mentah sangat sensitif terhadap faktor eksternal, sehingga proyeksi di atas dapat berbeda dalam periode waktu singkat.


Fluktuasi harga minyak global bukan hal baru, tapi dampaknya terhadap kebijakan energi nasional sangat nyata. Dengan ketegangan geopolitik yang masih tinggi dan permintaan energi global yang belum stabil, Indonesia harus siap menghadapi berbagai skenario ke depannya. Baik itu melalui penyesuaian kebijakan jangka pendek maupun transformasi energi jangka panjang.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.