PT Waskita Karya (Persero) Tbk terus menunjukkan kemajuan dalam pemulihan kinerja keuangan. Di tahun 2025, perseroan mencatat laba kotor atau gross profit sebesar Rp1,58 triliun, naik sekitar 12% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencatat Rp1,41 triliun. Angka ini menjadi salah satu indikator positif bahwa langkah-langkah penyehatan yang diambil beberapa tahun terakhir mulai membuahkan hasil.
Total pendapatan konsolidasi Waskita Karya di tahun yang sama mencapai Rp8,85 triliun. Pendapatan ini berasal dari kombinasi kerja induk perusahaan dan anak usahanya, masing-masing sebesar Rp5,75 triliun dan Rp3,1 triliun. Pendapatan utama berasal dari sektor konektivitas, Sumber Daya Air (SDA), gedung, serta segmen lainnya. Mayoritas pendapatan masih didominasi oleh proyek-proyek pemerintah, menunjukkan konsistensi perusahaan dalam mendukung pembangunan infrastruktur nasional.
Pendapatan dan Laba Waskita Karya di 2025
Pendapatan usaha Waskita Karya di tahun 2025 didorong oleh sejumlah proyek strategis. Segmen konektivitas menjadi penyumbang terbesar, mencatatkan pendapatan sebesar Rp3,3 triliun. Diikuti oleh sektor SDA sebesar Rp1,4 triliun, gedung Rp1,2 triliun, dan sisanya dari berbagai proyek lainnya senilai Rp0,9 triliun.
- Struktur Pendapatan Berdasarkan Segmen Usaha
| Segmen Usaha | Pendapatan (Rp triliun) |
|---|---|
| Konektivitas | 3,3 |
| Sumber Daya Air | 1,4 |
| Gedung | 1,2 |
| Lainnya | 0,9 |
| Total | 6,8 |
Meski pendapatan terus meningkat, beban pokok pendapatan juga masih tinggi. Di tahun 2025, beban tersebut mencapai Rp7,2 triliun atau sekitar 82% dari total pendapatan usaha. Meski begitu, laba kotor yang berhasil dicatat menunjukkan bahwa efisiensi operasional mulai terlihat.
- Peningkatan Laba Kotor dan Margin Keuntungan
| Tahun | Laba Kotor (Rp triliun) | Margin Laba Kotor (%) |
|---|---|---|
| 2024 | 1,41 | 13% |
| 2025 | 1,58 | 18% |
Peningkatan laba kotor ini tidak terjadi begitu saja. Waskita Karya menerapkan strategi efisiensi di berbagai level, baik di induk perusahaan maupun anak usaha. Fokus pada pengelolaan biaya dan penyelesaian proyek lama menjadi kunci utama pencapaian ini.
Strategi Penurunan Liabilitas dan Divestasi
Salah satu langkah penting yang diambil Waskita Karya adalah penurunan liabilitas sebesar Rp2,21 triliun di tahun 2025. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk kembali ke bisnis inti sebagai kontraktor murni.
- Langkah Divestasi Aset di 2025
- September: Divestasi 94,7% saham PT Waskita Sangir Energi (WSE) melalui anak usaha PT Waskita Karya Infrastruktur (WKI).
- November: Pelepasan 35% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) oleh PT Waskita Toll Road.
- Desember: Divestasi 20% saham PT Waskita Modern Realty (WMR) oleh PT Waskita Karya Realty (WKR).
Divestasi ini tidak hanya membantu mengurangi beban utang, tetapi juga meningkatkan likuiditas perusahaan. Dengan melepaskan aset non-inti, Waskita Karya bisa lebih fokus pada proyek-proyek infrastruktur yang menjadi keahlian utamanya.
Peningkatan Nilai Kontrak Baru dan Fokus Proyek Pemerintah
Waskita Karya juga berhasil mencatat nilai kontrak baru (NKB) sebesar Rp12,52 triliun di tahun 2025. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencapai Rp9,55 triliun. Lonjakan ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap jasa konstruksi BUMN ini masih tinggi, terutama dari sektor publik.
- Komposisi Nilai Kontrak Baru di 2025
| Jenis Proyek | Nilai (Rp triliun) |
|---|---|
| Irigasi | 3,2 |
| Sekolah Rakyat (SR) | 2,1 |
| RSUD | 1,8 |
| Jalan Tol | 2,5 |
| Lainnya | 2,92 |
| Total | 12,52 |
Proyek-proyek yang diambil tidak sembarangan. Melalui Komite Manajemen Konstruksi, Waskita lebih selektif memilih kontrak yang memiliki risiko rendah dan pembayaran yang lebih terjamin, seperti sistem monthly payment. Ini sebagai langkah antisipasi agar tidak terjebak dalam proyek turnkey yang biasanya lebih berisiko tinggi.
Fokus Utama: Penurunan Utang dan Kembali ke Core Business
Di akhir tahun 2025, total nilai kontrak yang dikelola Waskita mencapai Rp31,7 triliun dari 63 proyek yang tersebar di seluruh Indonesia. Meski jumlah proyek besar, fokus utama perusahaan kini adalah menurunkan total utang yang masih cukup signifikan.
- Utang Utama yang Sedang Direstrukturisasi
| Jenis Utang | Nilai Outstanding (Rp triliun) |
|---|---|
| Master Restructuring Agreement (MRA) dan KMKP 2021 | 31,65 |
| Obligasi Non-Penjaminan | 3,35 |
Restrukturisasi utang menjadi bagian penting dari Rencana Penyehatan Keuangan (RPK) yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Sebagian besar restrukturisasi obligasi juga telah mendapat persetujuan dari pemegang saham obligasi.
Langkah ini menunjukkan komitmen Waskita Karya untuk kembali ke bisnis inti sebagai kontraktor murni. Dengan begitu, perusahaan bisa menjalankan operasional yang lebih sustainable dan terhindar dari risiko finansial yang tinggi.
Inovasi Tata Kelola dan Manajemen Risiko
Selain fokus pada aspek finansial, Waskita Karya juga melakukan inovasi dalam tata kelola perusahaan. Pembentukan berbagai komite di tingkat dewan komisaris dan direksi menjadi bagian dari upaya meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan dan manajemen risiko.
Langkah ini diharapkan membuat perusahaan lebih adaptif dalam menghadapi dinamika pasar dan tantangan bisnis ke depan. Dengan struktur yang lebih rapi dan pengawasan yang ketat, Waskita Karya bisa menjaga konsistensi kinerja jangka panjang.
Disclaimer
Data dan angka yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari informasi resmi yang dirilis PT Waskita Karya (Persero) Tbk per 31 Desember 2025. Angka-angka ini dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan kondisi keuangan dan operasional perusahaan.
Tags: bumn, laba bersih, waskita karya
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













