Amerika Serikat bersiap menjalankan program asuransi kapal di Selat Hormuz, sebuah langkah strategis yang diharapkan bisa memulihkan aliran pasokan minyak dan gas global. Inisiatif ini muncul sebagai respons atas ketegangan yang terus meningkat antara AS-Israel dan Iran, yang membuat jalur pelayaran strategis itu nyaris tertutup.
Langkah ini diumumkan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam rapat kabinet yang dipimpin Presiden Donald Trump. Meski rencana ini sudah mulai disiapkan sejak awal Maret 2026, belum ada kapal yang tercatat menggunakan perlindungan tersebut. Namun, pemerintah menyatakan bahwa ini baru permulaan dari upaya pemulihan arus perdagangan energi.
Perlindungan Baru untuk Jalur Energi Global
Selat Hormuz bukan sembarang jalur pelayaran. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia bergantung pada selat ini. Ketika situasi di kawasan memanas, dampaknya langsung terasa di pasar energi global. Program asuransi kapal yang diinisiasi AS diharapkan bisa menjadi solusi jangka pendek untuk melindungi kapal dagang dari potensi serangan.
Program ini akan melibatkan kerja sama antara pemerintah AS dan satuan militer Komando Sentral AS. Tujuannya jelas: memastikan bahwa aliran energi tetap mengalir meski dalam kondisi ketegangan tinggi. Scott Bessent menyebut langkah ini sebagai tindakan “berani” yang bisa memberikan rasa aman baru bagi armada yang melintas.
1. Pelibatan DFC dalam Asuransi Maritim
US International Development Finance Corporation (DFC) akan menjadi lembaga yang memberikan jaminan asuransi kepada kapal-kapal yang melintas. Dengan dukungan ini, kapal bisa mendapat pengawalan serta perlindungan finansial jika terjadi insiden selama pelayaran.
2. Pengawalan Militer untuk Keamanan
Selain perlindungan finansial, kapal-kapal yang menggunakan program ini juga akan mendapat pengawalan dari pasukan militer AS. Ini diharapkan bisa mengurangi risiko serangan dari pihak Iran, yang telah beberapa kali menargetkan kapal asing di kawasan.
3. Peningkatan Arus Lalu Lintas Pelayaran
Bessent menyebut bahwa meski masih awal, sudah ada peningkatan jumlah kapal yang keluar masuk Teluk Persia. Ini menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diambil mulai memberikan efek positif, meski belum sepenuhnya pulih.
Biaya Asuransi Naik Tajam, Tapi Perlindungan Tetap Dibutuhkan
Meski asuransi kapal masih bisa didapat, biayanya kini melonjak tinggi. Saat ini, premi asuransi bisa mencapai sekitar 5% dari nilai kapal, naik hingga lima kali lipat dari sebelum konflik meledak. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan saat kondisi masih stabil, di mana premi hanya sekitar sepersekian persen.
CEO Lloyd’s of London mengakui bahwa permintaan asuransi tetap tinggi meski harga mahal. Ini menunjukkan bahwa bukan karena tidak ada perlindungan, tapi karena risiko yang terlalu besar. Ancaman serangan dari Iran tetap menjadi penghalang utama bagi kapal komersial untuk melintas secara normal.
Strategi Trump Hadapi Lonjakan Harga Energi
Lonjakan harga minyak dan gas global menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi AS. Namun, pemerintah Trump percaya bahwa langkah-langkah antisipatif bisa meredam dampaknya. Salah satu strategi utama adalah meningkatkan produksi energi domestik agar lebih mandiri.
Scott Bessent menyatakan bahwa masyarakat AS kini lebih siap menghadapi volatilitas harga jangka pendek, selama ada kepastian jangka panjang. Pandangan ini mencerminkan optimisme bahwa situasi bisa pulih meski butuh waktu.
1. Pengecualian Regulasi Maritim
Pemerintah membuka pengecualian untuk kapal yang biasanya tidak boleh mengangkut barang antarpelabuhan AS. Ini memungkinkan lebih banyak kapal untuk beroperasi, membantu menstabilkan pasokan energi dalam negeri.
2. Pelepasan Cadangan Minyak Strategis
Cadangan minyak nasional juga telah digunakan untuk menekan harga. Jutaan barel minyak dilepaskan ke pasar untuk menutup kekurangan sementara akibat gangguan di Selat Hormuz.
3. Opsi Kebijakan Darurat
Jika situasi memburuk, pemerintah masih memiliki beberapa opsi cadangan. Salah satunya adalah penangguhan pajak bensin federal. Ini bisa menjadi langkah cepat untuk meredam lonjakan harga BBM di pasar lokal.
4. Pengambilalihan Aset Energi Iran
Trump juga menyebut kemungkinan mengambil alih produksi minyak Iran, meski belum ada detail teknisnya. Ini bisa mencakup penyitaan fasilitas produksi di Pulau Kharg, pusat pengolahan minyak Iran.
Perbandingan Biaya Asuransi Sebelum dan Selama Konflik
| Kondisi | Premi Asuransi Rata-Rata | Catatan |
|---|---|---|
| Sebelum konflik | 0,1% – 0,2% dari nilai kapal | Risiko rendah |
| Selama konflik | 3% – 5% dari nilai kapal | Risiko tinggi akibat ancaman serangan |
Iran Masih Tutup Pintu untuk Kapal Terkait AS-Israel
Meski AS telah meluncurkan program asuransi, Iran tetap bersikeras melarang kapal yang terkait dengan AS atau Israel untuk melintas. Negara ini menilai kehadiran kapal-kapal tersebut sebagai bentuk pendudukan ekonomi dan ancaman terhadap kedaulatannya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meski ada langkah dari AS, ketegangan di kawasan belum mereda. Iran tetap memandang program ini sebagai bagian dari dominasi AS di jalur energi global.
Apakah Ini Kabar Baik untuk Harga Minyak?
Langkah AS bisa dianggap sebagai upaya untuk menenangkan pasar. Namun, pengaruhnya terhadap harga minyak masih terbatas selama ketegangan dengan Iran belum berakhir. Program asuransi bisa membantu, tapi tidak serta merta menurunkan harga secara signifikan.
Yang jelas, langkah ini memberi sinyal bahwa AS siap mengamankan jalur energi dunia. Jika diimbangi dengan penyelesaian konflik, maka harga minyak bisa kembali stabil dalam jangka menengah.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Maret 2026. Situasi geopolitik dan harga energi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan di lapangan. Data biaya asuransi dan kebijakan pemerintah bisa mengalami penyesuaian sesuai kondisi aktual.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.









