PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) menetapkan target laba bersih sebesar Rp 174,8 miliar pada tahun 2026. Target ini disusun berdasarkan evaluasi terhadap kinerja sebelumnya serta proyeksi kondisi makroekonomi dan industri pembiayaan nasional.
Langkah ini menunjukkan komitmen WOM Finance dalam memperkuat posisi di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Meski menghadapi tantangan, perusahaan tetap optimistis bisa mencapai target lewat strategi yang terukur dan pengelolaan risiko yang hati-hati.
Kinerja Keuangan WOM Finance di Tahun 2025
Sebelum menetapkan target baru, WOMF mencatatkan sejumlah pencapaian penting di tahun 2025. Meski laba bersihnya turun cukup signifikan, ada indikator lain yang menunjukkan pertumbuhan positif.
1. Laba Bersih Turun 45,78% Menjadi Rp 142,55 Miliar
Pada akhir 2025, WOM Finance mencatatkan laba bersih sebesar Rp 142,55 miliar. Angka ini turun 45,78% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 262,91 miliar.
Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal, termasuk tekanan suku bunga serta perubahan perilaku konsumen akibat dinamika ekonomi nasional.
2. Return on Asset dan Return on Equity Masih Terjaga
Meski laba bersih turun, WOMF tetap mencatat return on asset (ROA) sebesar 2,41% dan return on equity (ROE) sebesar 7,45%. Kedua rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan aset dan modal yang masih dalam kisaran wajar.
Indikator ini menjadi salah satu bukti bahwa perusahaan menjalankan operasional dengan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang baik.
3. Penyaluran Pembiayaan Naik 9,35% YoY
Total penyaluran pembiayaan baru pada 2025 mencapai Rp 5,94 triliun. Angka ini naik 9,35% secara tahunan, menunjukkan bahwa permintaan terhadap layanan pembiayaan WOMF masih cukup tinggi.
Peningkatan ini menjadi modal penting untuk mendukung target laba bersih di tahun 2026.
4. Total Aset dan Ekuitas Mengalami Pertumbuhan
Total aset WOMF pada akhir 2025 mencapai Rp 7,37 triliun, naik 6,08% dibanding tahun sebelumnya. Sementara ekuitas tumbuh 4,81% menjadi Rp 1,98 triliun.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa struktur permodalan perusahaan tetap stabil meskipun menghadapi tekanan laba.
Target Laba Bersih WOMF pada 2026
Dengan melihat kondisi kinerja 2025, WOMF menetapkan target laba bersih Rp 174,8 miliar pada 2026. Target ini naik sekitar 22,6% dibanding realisasi laba bersih tahun lalu.
1. Penyaluran Pembiayaan Ditargetkan Tembus Rp 6 Triliun
Salah satu strategi utama untuk mencapai target laba adalah meningkatkan volume penyaluran pembiayaan. WOMF menargetkan penyaluran di atas Rp 6 triliun pada 2026.
Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan pendapatan bunga dan fee-based income dari berbagai produk pembiayaan yang ditawarkan.
2. Efisiensi Biaya Operasional
Perusahaan juga berencana melakukan efisiensi biaya operasional untuk meningkatkan margin laba. Ini termasuk optimalisasi teknologi dan digitalisasi layanan.
Efisiensi ini penting mengingat industri pembiayaan saat ini menghadapi tekanan margin akibat persaingan dan kenaikan biaya dana.
3. Diversifikasi Produk dan Pasar
WOMF berencana memperluas portofolio produk dan menjangkau pasar baru, terutama di segmen UMKM dan konsumen ritel. Ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan market share.
Diversifikasi ini juga diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada satu segmen tertentu.
4. Penguatan Manajemen Risiko
Mengingat volatilitas ekonomi dan risiko kredit yang masih tinggi, WOMF akan memperkuat sistem manajemen risiko. Ini mencakup penilaian kelayakan calon nasabah dan monitoring portofolio secara berkala.
Langkah ini penting untuk menjaga kualitas aset dan menghindari potensi kerugian.
Tantangan yang Dihadapi WOM Finance
Meski memiliki target yang realistis, WOMF tidak luput dari sejumlah tantangan di tahun 2026.
1. Persaingan di Industri Pembiayaan Makin Ketat
Semakin banyaknya pemain baru dan ekspansi digital dari perusahaan pembiayaan lain membuat persaingan semakin sengit. WOMF harus terus berinovasi agar tetap relevan.
2. Tekanan Suku Bunga Acuan BI
Suku bunga acuan Bank Indonesia yang masih tinggi berpotensi menekan permintaan pembiayaan dari konsumen. Ini bisa berdampak pada volume penyaluran dan spread bunga.
3. Risiko Makroekonomi
Kondisi ekonomi global dan domestik yang belum sepenuhnya pulih juga menjadi tantangan. Inflasi, nilai tukar, dan ketidakpastian geopolitik bisa memengaruhi kinerja keuangan.
Strategi Jangka Panjang WOMF
WOM Finance tidak hanya fokus pada pencapaian target 2026, tapi juga mempersiapkan fondasi untuk pertumbuhan berkelanjutan.
1. Peningkatan Infrastruktur Digital
Digitalisasi menjadi fokus utama untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamanan nasabah. Perusahaan terus mengembangkan platform digital yang ramah pengguna.
2. Penguatan SDM
Investasi terhadap sumber daya manusia juga menjadi prioritas. WOMF berupaya meningkatkan kompetensi tim melalui pelatihan dan sertifikasi industri.
3. Kolaborasi dengan Mitra Strategis
Kemitraan dengan berbagai pihak, baik dari sektor finansial maupun non-finansial, menjadi bagian dari strategi ekspansi yang berkelanjutan.
Disclaimer
Data dan target yang disebutkan dalam artikel ini bersifat proyeksi berdasarkan informasi terkini dari manajemen perusahaan. Nilai riil bisa berbeda tergantung pada perkembangan kondisi makroekonomi, regulasi, dan faktor lain di luar kendali perusahaan.
WOM Finance tengah melangkah mantap menuju target barunya di 2026. Dengan strategi yang terukur dan manajemen risiko yang ketat, perusahaan berharap bisa kembali menunjukkan performa terbaiknya di tengah dinamika industri yang penuh tantangan.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













