Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga emas dunia kembali terperosok pada Kamis, 26 Maret 2026. Penurunan ini terjadi seiring dengan pesan yang beragam dari Presiden Donald Trump terkait pembicaraan perdamaian dengan Iran. Investor pun mulai waspada, sementara dolar AS yang menguat semakin menekan harga logam mulia ini.
Menurut data dari Investing.com, harga emas spot turun 2,8 persen menjadi USD4.378,81 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka anjlok lebih dalam, mencatatkan penurunan 3,9 persen hingga USD4.407,50 per ons. Penurunan ini terjadi meski sebelumnya emas sempat pulih dan mencoba menembus level USD4.500 per ons.
Emas Tak Lagi Jadi Pelindung Aman?
Emas biasanya jadi pilihan utama investor saat situasi geopolitik memanas. Namun kali ini, logam mulia itu justru terlihat lesu. Salah satu penyebabnya adalah dolar AS yang semakin perkasa. Dolar yang kuat membuat emas terasa lebih mahal bagi pembeli dari negara lain.
Selain itu, optimisme awal pekan tentang diplomasi AS-Iran mulai buyar. Pasar mulai meragukan apakah pembicaraan damai itu benar-benar akan terwujud. Ketidakpastian ini membuat investor lebih memilih aset berimbang seperti obligasi atau saham, ketimbang emas yang tidak memberikan bunga.
1. Dolar yang Menguat Jadi Beban
Indeks dolar AS terus merangkak naik. Ini berarti nilai dolar menguat terhadap enam mata uang utama lainnya. Saat dolar naik, harga emas dalam mata uang lain jadi lebih mahal. Akibatnya, permintaan global terhadap emas pun melambat.
2. Spekulasi Kenaikan Suku Bunga AS
Kekhawatiran akan lonjakan harga energi akibat ketegangan Iran juga memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi membuat investor lebih tertarik pada aset yang memberikan imbal hasil, seperti obligasi, daripada emas yang tidak menghasilkan bunga.
3. Perubahan Sentimen Investor
Investor mulai menilai ulang posisi mereka. Meski emas biasanya dianggap aman saat krisis, kali ini dinamika pasar lebih kompleks. Lonjakan harga minyak, ekspektasi suku bunga yang tertunda turun, dan kekuatan dolar membuat emas kehilangan daya tariknya.
Trump dan Ketidakpastian Diplomasi
Presiden Trump menambah kebisingan di tengah ketegangan dengan Iran. Dalam sebuah rapat kabinet, ia menyatakan bahwa Iran "memohon" untuk mencapai kesepakatan. Namun, ia juga mengatakan tidak yakin apakah AS akan mampu atau mau menyetujui kesepakatan tersebut.
Tak lama setelah pasar saham Wall Street ditutup, Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari. Ia menyebut pembicaraan berjalan “sangat baik”, meski pihak Iran justru membantah adanya pembicaraan damai.
1. Pernyataan Trump yang Bertolak Belakang
Trump menyebut pembicaraan dengan Iran “produktif” di awal pekan. Namun, pernyataannya yang berubah-ubah justru menambah ketidakpastian. Investor pun mulai ragu, dan pasar bereaksi dengan volatilitas tinggi.
2. Respons Resmi dari Iran
Menurut media Iran, Tasnim, pemerintah Teheran telah memberikan tanggapan resmi atas proposal gencatan senjata 15 poin dari AS. Namun, mereka masih menunggu jawaban dari Washington. Ketidaktentuan ini membuat investor lebih memilih menahan diri dari investasi berisiko tinggi.
3. Saham Anjlok, Minyak Naik Tajam
Di tengah kekacauan ini, saham di Wall Street terpuruk. Sementara itu, harga minyak mentah melonjak. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran akan kenaikan inflasi global. Ini semua semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga AS.
Dinamika Pasar Emas dalam Angka
Berikut adalah rincian harga emas dan faktor terkait yang memengaruhi pergerakannya dalam beberapa hari terakhir:
| Faktor | Pengaruh terhadap Emas |
|---|---|
| Dolar AS menguat | Negatif |
| Spekulasi kenaikan suku bunga | Negatif |
| Ketegangan geopolitik | Positif (biasanya) |
| Lonjakan harga minyak | Negatif (melalui inflasi) |
| Optimisme diplomasi | Positif (jika stabil) |
Meski secara historis emas cenderung naik saat ketegangan meningkat, kali ini faktor makroekonomi justru lebih dominan. Investor lebih memilih aset berimbang ketimbang emas yang tidak memberikan dividen.
Apa Kata Ahli?
Max Baecker, presiden American Hartford Gold, menyatakan bahwa emas saat ini berada dalam kisaran tertentu. Ia menilai pasar perlu menembus level USD4.500 dan mempertahankannya agar tren naik bisa terbentuk. Namun, selama belum terjadi, reli emas masih rentan terhadap koreksi.
Adam Turnquist, kepala strategi teknis di LPL Financial, menambahkan bahwa pergerakan emas kali ini terasa kontra-intuitif. Biasanya, emas naik saat ada ketegangan global. Tapi kenaikan imbal hasil obligasi AS dan ekspektasi suku bunga yang tertunda turun membuat emas kehilangan daya tariknya.
Kesimpulan
Harga emas dunia kembali turun karena kombinasi faktor: dolar yang menguat, ekspektasi kenaikan suku bunga, dan ketidakpastian politik terkait pembicaraan AS-Iran. Meski emas biasanya jadi pelindung di masa krisis, kali ini investor lebih memilih aset berimbang.
Pergerakan emas ke depan akan sangat tergantung pada perkembangan diplomasi antara AS dan Iran serta kebijakan moneter Federal Reserve. Investor disarankan terus memantau indikator makroekonomi dan pergerakan dolar untuk mengantisipasi fluktuasi harga emas.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Artikel ini disusun berdasarkan informasi hingga 26 Maret 2026. Keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab individu masing-masing.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













