Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan tajam pada perdagangan Rabu, 25 Maret 2026. Lonjakan ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang masih memanas, khususnya terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Meski sebelumnya sempat diprediksi akan melemah, IHSG justru melonjak ke zona hijau dan menutup di level 7.302.
Kenaikan IHSG mencapai 195,282 poin atau sekitar 2,75 persen. Indeks ini sempat dibuka di level 7.084, kemudian bergerak antara 7.057 sebagai titik terendah dan 7.302 sebagai puncak tertinggi sepanjang sesi perdagangan. Volume perdagangan mencapai 38,157 miliar saham senilai Rp25,372 triliun, dengan kapitalisasi pasar mencatatkan angka Rp12,868 triliun.
Pemicu Kenaikan IHSG
Gerakan tajam IHSG ke zona hijau tidak lepas dari beberapa faktor yang bermain di pasar modal domestik dan global. Investor mencermati perkembangan terkini dari konflik di Timur Tengah, terutama antara AS dan Iran, serta respons dari bank sentral dunia terhadap tekanan inflasi.
1. Penurunan Ketegangan Geopolitik
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan IHSG adalah sikap diplomatis dari pihak AS. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS akan menunda serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama belum ada tindakan eskalasi dari pihak Iran. Pernyataan ini memberikan angin segar bagi investor yang khawatir akan terjadinya gangguan pasokan energi global.
Iran sendiri membantah adanya negosiasi formal, namun mengakui telah menerima pesan dari negara lain terkait dialog dengan AS. Meskipun ancaman terhadap infrastruktur AS dan Israel masih menggantung, situasi tampak lebih terkendali dan tidak langsung memicu gejolak pasar.
2. Stabilitas Kebijakan Bank Sentral Global
Bank sentral utama dunia seperti The Fed, ECB, BoE, BoJ, dan Bank of Canada memilih mempertahankan suku bunga acuan masing-masing. Keputusan ini memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi masih bisa dikendalikan tanpa perlu langkah agresif yang berpotensi mengguncang pasar.
The Fed masih mempertimbangkan satu kali penurunan suku bunga sebesar 25 bps dalam tahun ini. Namun, investor tampaknya mulai mengesampingkan harapan tersebut karena masih adanya kekhawatiran terhadap kenaikan harga global.
3. Sentimen Positif dari Investor Lokal
Dari dalam negeri, investor lokal tampaknya mulai optimis dengan prospek ekonomi Indonesia. Hal ini tercermin dari jumlah saham yang bergerak menguat, yaitu sebanyak 574 saham. Sementara itu, hanya 148 saham yang melemah dan 101 saham lainnya stagnan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa investor tidak serta merta panik meski ada ketegangan di luar negeri. Justru, banyak yang melihat peluang di tengah situasi yang dinamis.
Perbandingan Data IHSG Sebelum dan Sesudah Lonjakan
Untuk lebih memahami kenaikan IHSG, berikut adalah perbandingan data penting sebelum dan sesudah lonjakan Rabu, 25 Maret 2026:
| Parameter | Sebelum Lonjakan | Setelah Lonjakan |
|---|---|---|
| Level IHSG | 7.084 | 7.302 |
| Volume Perdagangan | – | 38,157 miliar |
| Nilai Perdagangan | – | Rp25,372 triliun |
| Kapitalisasi Pasar | – | Rp12,868 triliun |
| Frekuensi Transaksi | – | 2.126.216 kali |
Saham-Saham yang Mendorong Kenaikan IHSG
Beberapa sektor unggulan berkontribusi besar terhadap lonjakan IHSG. Saham-saham dari sektor energi, perbankan, dan infrastruktur menjadi pendorong utama.
1. Saham Energi
Saham energi mendapat sentimen positif dari penurunan ketegangan geopolitik. Investor melihat bahwa risiko gangguan pasokan energi global mulai berkurang, sehingga harga minyak dan gas bisa stabil.
2. Saham Perbankan
Bank-bank besar di Indonesia juga mencatatkan kenaikan. Stabilitas suku bunga global memberikan ruang bagi bank untuk menjaga kinerja keuangan yang sehat.
3. Saham Infrastruktur
Saham infrastruktur ikut menguat karena investor optimis terhadap proyek-proyek pengembangan yang akan didorong pemerintah ke depannya.
Prediksi Sebelum Lonjakan
Sebelum lonjakan terjadi, banyak analis memperkirakan IHSG akan melemah. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, misalnya, memprediksi bahwa IHSG akan menguji level support di kisaran 6.800 hingga 7.000. Namun, kenyataan di lapangan justru bergerak sebaliknya.
Perbedaan prediksi ini menunjukkan betapa dinamisnya pasar modal. Faktor eksternal seperti kebijakan luar negeri dan geopolitik bisa mengubah arah pasar dalam waktu singkat.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi ekonomi dan geopolitik global. Angka-angka yang disebutkan merupakan hasil dari sesi perdagangan tertentu dan tidak menggambarkan tren jangka panjang.
Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan pasar dan melakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Artikel ini tidak bermaksud memberikan rekomendasi finansial, melainkan sebagai informasi umum terkait kondisi pasar modal Indonesia.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













