Finansial

Prediksi Melambatnya Penjualan Aset Bank Bermasalah Akibat Tekanan Ekonomi yang Berkepanjangan

Rista Wulandari
×

Prediksi Melambatnya Penjualan Aset Bank Bermasalah Akibat Tekanan Ekonomi yang Berkepanjangan

Sebarkan artikel ini
Prediksi Melambatnya Penjualan Aset Bank Bermasalah Akibat Tekanan Ekonomi yang Berkepanjangan

Penjualan aset bermasalah bank memang jadi andalan tambahan untuk menopang laba di tengah tekanan ekonomi. Tapi tahun ini, laju recovery income diprediksi melambat. Stok aset macet yang makin tipis dan situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih jadi penyebab utama.

Beberapa bank besar seperti BCA dan Mandiri memang sempat meraih pertumbuhan laba berkat dari penjualan aset. Tapi tren itu mungkin tak bisa diulang di 2025. Pasar yang lesu dan permintaan yang terbatas bikin prospek recovery income makin suram.

Dinamika Recovery Income di Tengah Perlambatan Ekonomi

Penjualan aset bermasalah biasanya jadi solusi cepat buat bank menutup kerugian atau menambah pendapatan. Tapi saat ini, kondisi ekonomi yang belum stabil bikin minat pembeli menurun. Harga pun harus diturunkan agar laku.

Trioksa Siahaan dari LPPI menyebut, recovery income tahun ini bakal lebih rendah. Bukan karena bank tidak berusaha, tapi karena aset yang tersedia makin sedikit dan ekonomi belum kondusif. Artinya, bank harus cari cara lain untuk menjaga profitabilitas.

BCA sendiri tetap optimis. Hera F. Haryn dari BCA bilang, penjualan aset masih sesuai target. Tapi bank ini juga tidak mengandalkan pendapatan dari aset bermasalah sebagai pendorong utama laba. Fokus utama tetap pada pengelolaan risiko dan kualitas kredit.

1. Rasio NPL Coverage BCA di 183,8%

Salah satu indikator dalam mengukur ketahanan bank terhadap risiko adalah NPL coverage. BCA mencatat rasio ini di angka 183,8% per 2025. Artinya, bank ini punya cadangan yang cukup kuat untuk menghadapi kredit macet.

Rasio ini menunjukkan bahwa BCA tidak hanya fokus pada penjualan aset, tapi juga memperkuat struktur keuangan secara keseluruhan. Dengan begitu, tekanan terhadap recovery income pun bisa dikurangi.

2. CIMB Niaga Fokus pada Pendapatan Non-Bunga

Berbeda dengan BCA, CIMB Niaga lebih memilih menggeser fokus ke pendapatan non-bunga. Lani Darmawan, Presiden Direktur bank ini, menyebut bahwa aset bermasalah sudah terbatas.

Sebagai gantinya, CIMB Niaga mengejar fee based income. Strategi ini dianggap lebih stabil di tengah permintaan kredit yang masih lesu. Pendapatan recovery tahun lalu juga turun 29,4% menjadi Rp 1,02 triliun.

3. Mandiri Masih Meraih Pendapatan Recovery yang Tinggi

Bank Mandiri mencatat pendapatan recovery sebesar Rp 7,28 triliun, naik 15% dibanding tahun sebelumnya. Meski demikian, pertumbuhan laba hanya 0,92%. Ini menunjukkan bahwa recovery income memang membantu, tapi bukan satu-satunya faktor.

Bank tetap harus waspada terhadap bermasalah yang bisa meningkat di tengah perlambatan ekonomi. Strategi diversifikasi pendapatan jadi kunci agar tidak terlalu bergantung pada satu sumber.

Strategi Bank Menghadapi Perlambatan Recovery Income

Menghadapi situasi ini, bank tidak bisa lagi mengandalkan pendapatan dari penjualan aset sebagai andalan utama. Diversifikasi pendapatan, baik dari segi produk maupun sumber, jadi pilihan utama.

BCA, misalnya, menekankan pada pengelolaan risiko yang ketat. Sementara CIMB Niaga berfokus pada fee based income. Pendekatan yang berbeda, tapi tujuannya sama: menjaga laba di tengah ketidakpastian.

Bank juga makin agresif dalam mengembangkan layanan digital. Ini bukan cuma soal efisiensi, tapi juga cara menarik nasabah baru dan meningkatkan pendapatan non-bunga.

Tantangan yang Harus Diwaspadai

Perlambatan recovery income bukan masalah instan. Ini bisa jadi tren jangka panjang, terutama jika ekonomi tidak segera pulih. Bank harus punya antisipasi dan strategi jitu agar tidak terjebak di posisi pasif.

Salah satu risiko utama adalah ketergantungan terhadap satu sumber pendapatan. Saat recovery income melambat, laba bisa langsung tergerus. Oleh karena itu, penting untuk terus mengembangkan sumber pendapatan lain.

4. Peran Digitalisasi dalam Meningkatkan Pendapatan

Digitalisasi jadi salah satu solusi yang digunakan bank untuk meningkatkan pendapatan. Layanan digital tidak hanya efisien, tapi juga bisa menghasilkan fee based income yang stabil.

BCA, misalnya, terus mengembangkan layanan digital yang bisa diakses nasabah dengan mudah. Ini termasuk aplikasi mobile, internet banking, hingga layanan e-commerce yang .

5. Penguatan Layanan Fee Based Income

Fee based income jadi andalan baru banyak bank. Ini pendapatan yang didapat dari layanan seperti transfer, pembayaran tagihan, hingga pengelolaan investasi. Tidak tergantung pada suku bunga atau kondisi ekonomi makro.

CIMB Niaga misalnya, fokus pada pengembangan layanan ini. Dengan portofolio aset bermasalah yang terbatas, bank ini memilih mengejar pendapatan yang lebih stabil dan berkelanjutan.

6. Manajemen Risiko Kredit yang Ketat

Bank juga makin ketat dalam mengelola risiko kredit. Ini penting agar tidak terjadi penumpukan NPL yang bisa mengganggu kinerja keuangan. BCA mencatat NPL coverage di atas 180%, menunjukkan bank ini punya cadangan yang cukup.

Manajemen risiko yang baik juga bisa mengurangi kebutuhan bank untuk menjual aset bermasalah. Dengan begitu, tekanan terhadap recovery income pun bisa dikurangi.

Perbandingan Pendapatan Recovery Bank Besar

Berikut adalah pendapatan recovery dari beberapa bank besar di tahun lalu:

Bank Pendapatan Recovery Pertumbuhan Tahunan
BCA Rp 2,23 triliun +46,7%
Mandiri Rp 7,28 triliun +15%
CIMB Niaga Rp 1,02 triliun -29,4%

Data ini menunjukkan bahwa tidak semua bank bisa mengandalkan recovery income secara konsisten. Ada yang naik, ada juga yang justru turun.

7. Perlunya Diversifikasi Pendapatan

Mengandalkan satu sumber pendapatan bisa berbahaya. Bank perlu punya beberapa pilar pendapatan yang bisa saling menopang. Ini termasuk pendapatan bunga, fee based income, hingga penjualan aset.

Dengan pendekatan yang terdiversifikasi, tekanan terhadap recovery income bisa dikurangi. Bank juga bisa lebih fleksibel menghadapi perubahan kondisi ekonomi.

8. Fokus pada Efisiensi Operasional

Efisiensi juga jadi kunci. Dengan yang lebih rendah, bank bisa menjaga laba meski pendapatan dari recovery melambat.

Digitalisasi dan otomatisasi j

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.