Musim hujan dan Idul Fitri dulu identik dengan kecemasan bagi Warsana. Bukan karena persiapan kue lebaran atau persediaan daging kurban, melainkan banjir rob yang datang mengganggu rumahnya di Desa Eretan Kulon, Indramayu. Setiap tahun, saat air laut naik dan pasang tinggi bertepatan dengan perayaan Lebaran, ia dan keluarga harus rela mengungsi atau bertahan di rumah yang tergenang air asin.
Kini, cerita itu mulai berubah. Berkat bantuan program Kampung Nelayan Sejahtera, rumah Warsana bukan lagi sekadar tempat berteduh, tapi ruang yang layak untuk merayakan momen sakral seperti Idul Fitri. Perubahan ini tak datang begitu saja, tapi hasil dari serangkaian langkah terukur yang membawa dampak nyata bagi kehidupan warga pesisir.
Perjalanan Panjang Menuju Rumah Layak
Kehidupan di kawasan pesisir utara Jawa memang penuh tantangan. Selain ketergantungan pada hasil laut, warga juga harus siap menghadapi ancaman banjir rob yang semakin sering terjadi. Kenaikan permukaan air laut dan penurunan tanah membuat wilayah seperti Eretan Kulon rentan terendam air saat pasang tinggi.
1. Identifikasi Risiko dan Potensi Banjir Rob
Sebelum ada solusi, langkah pertama adalah memahami akar masalah. Tim dari program Kampung Nelayan Sejahtera melakukan pendataan menyeluruh terhadap wilayah rawan rob. Faktor-faktor seperti elevasi tanah, frekuensi pasang surut, dan kondisi rumah lama menjadi bahan evaluasi utama.
2. Penyusunan Desain Rumah Tahan Rob
Desain rumah baru tidak sekadar meniru model konvensional. Rumah yang dibangun dirancang khusus untuk tahan terhadap genangan air asin. Pondasi ditinggikan, material yang tahan korosi digunakan, dan ventilasi dibuat cukup untuk menghindari kelembapan berlebih.
3. Pelibatan Warga dalam Proses Pembangunan
Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tapi juga bagian dari proses pembangunan. Melalui pendampingan, mereka dilibatkan dalam tahap persiapan, mulai dari pemilihan lokasi hingga penyelesaian akhir. Ini menciptakan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap rumah barunya.
Perubahan yang Dirasakan Warsana
Warsana mengaku, dulu saat banjir rob datang, ia dan keluarga harus menyelamatkan barang-barang ke tempat tinggi atau bahkan mengungsi ke rumah tetangga. Tidak ada ruang untuk merayakan Lebaran dengan tenang.
Sekarang, rumahnya sudah tidak lagi terancam banjir rob. Dapur bisa digunakan tanpa khawatir tergenang air. Kamar tidur pun tetap kering meski pasang tinggi terjadi. Hal ini memberi ruang lebih bagi keluarga untuk merayakan Idul Fitri dengan suasana yang nyaman dan aman.
Fokus pada Kesejahteraan Jangka Panjang
Program Kampung Nelayan Sejahtera tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik rumah. Pendampingan ekonomi juga menjadi bagian penting agar manfaatnya berkelanjutan.
1. Pelatihan Keterampilan Baru
Warga diberi pelatihan seperti pembuatan kerajinan dari limbah ikan, pengolahan hasil laut, dan pemasaran produk secara digital. Ini membuka peluang tambahan penghasilan di luar pekerjaan utama sebagai nelayan atau buruh.
2. Akses ke Modal Usaha Mikro
Program juga menyediakan akses ke modal usaha kecil melalui koperasi atau lembaga keuangan mikro. Ini memungkinkan warga untuk memulai usaha sampingan yang bisa berkembang seiring waktu.
3. Penguatan Kelembagaan Lokal
Keberlanjutan program bergantung pada kekuatan lembaga lokal. Kelompok masyarakat, koperasi, dan tokoh adat dilibatkan untuk memastikan program tetap berjalan meski tidak ada bantuan eksternal.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski banyak kemajuan, tantangan tetap ada. Perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut terus menjadi ancaman jangka panjang. Selain itu, pemeliharaan rumah dan infrastruktur perlu perhatian berkelanjutan agar tidak cepat rusak.
Data dan Perbandingan Sebelum dan Sesudah Program
Berikut adalah perbandingan kondisi rumah dan kualitas hidup warga sebelum dan sesudah program Kampung Nelayan Sejahtera diterapkan:
| Aspek | Sebelum Program | Sesudah Program |
|---|---|---|
| Kondisi Rumah | Terendam banjir rob saat pasang tinggi | Dibangun tahan air dan aman dari rob |
| Aktivitas Harian | Terhambat saat musim rob datang | Tetap berjalan normal |
| Kepemilikan Aset | Rumah tidak layak huni | Rumah layak huni dan produktif |
| Pendapatan | Tergantung pekerjaan harian | Ada tambahan dari usaha mikro |
| Kondisi Psikologis | Cemas saat Idul Fitri | Tenang dan nyaman merayakan |
Kesimpulan
Perubahan yang dialami Warsana dan warga Eretan Kulon bukan hanya soal bangunan rumah. Ini adalah kisah tentang harapan yang kembali, tentang kenyamanan merayakan hari besar tanpa rasa cemas, dan tentang langkah nyata untuk menghadapi perubahan iklim yang tak terhindarkan.
Program seperti Kampung Nelayan Sejahtera menunjukkan bahwa solusi berkelanjutan membutuhkan pendekatan holistik. Bukan hanya membangun rumah, tapi juga membangun kapasitas manusia dan sistem yang mendukung kemandirian.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini berdasarkan kondisi dan data terkini yang tersedia. Beberapa angka atau kondisi bisa berubah seiring waktu dan kebijakan yang berlaku.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













