Ilustrasi suasana salah satu pusat perbelanjaan di Kota Bandung. Foto: dok Istimewa.
Musim belanja menjelang Lebaran selalu jadi penentu kinerja ritel di awal tahun. Tahun ini, industri ritel Indonesia diprediksi bakal mencatat pertumbuhan positif di triwulan pertama 2026. Prediksi ini didasarkan pada lonjakan aktivitas konsumsi menjelang dan saat Ramadan hingga Idulfitri 1447 H. Sebagai puncak penjualan tahunan, dua bulan suci ini punya pengaruh besar terhadap pencapaian target sepanjang tahun.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyebut bahwa momentum Ramadan dan Idulfitri menjadi penopang utama kinerja ritel triwulan I. Di periode ini, hampir semua segmen ritel mencatat lonjakan transaksi. Terutama menjelang hari raya, ketika masyarakat mulai mempersiapkan kebutuhan lebaran, dari pakaian baru hingga perlengkapan hari raya.
Faktor yang Dorong Pertumbuhan Ritel di Awal Tahun
1. Musim Belanja Ramadan dan Idulfitri
Ramadan dan Idulfitri memang selalu jadi musim emas bagi pelaku usaha ritel. Di sinilah terjadi lonjakan permintaan pada berbagai kategori produk. Mulai dari fashion, makanan, hingga kebutuhan hiburan. Masyarakat cenderung lebih boros di periode ini karena ada budaya belanja khusus menjelang lebaran.
2. Kenaikan Upah Minimum dan Pencairan THR
Selain faktor budaya, peningkatan daya beli juga didorong oleh kebijakan upah minimum yang naik serta pencairan THR bagi karyawan swasta. Uang THR ini biasanya langsung dialokasikan untuk kebutuhan lebaran, termasuk belanja di pusat perbelanjaan.
3. Stimulus Pemerintah yang Mendukung Konsumsi
Program pemerintah seperti diskon tarif transportasi dan penyaluran bantuan sosial juga turut mendorong daya beli masyarakat. Terutama kalangan menengah ke bawah yang jadi target utama dari insentif tersebut. Ini membuka peluang lebih besar bagi ritel untuk menarik konsumen baru.
Pola Belanja Masyarakat saat Ramadan dan Idulfitri
1. Peningkatan Permintaan Produk Fashion
Menjelang Lebaran, permintaan produk fashion seperti pakaian muslim, sepatu, dan aksesori meningkat tajam. Banyak konsumen yang ingin tampil baru saat Idulfitri, sehingga belanja fashion jadi prioritas utama.
2. Lonjakan pada Kategori Food and Beverages
Saat libur lebaran tiba, pola belanja berubah. Masyarakat lebih banyak membeli makanan dan minuman instan, kue kering, serta camilan untuk menyambut tamu. Kategori ini jadi salah satu yang paling tinggi pertumbuhannya selama periode Ramadan dan Idulfitri.
3. Hiburan dan Rekreasi Jadi Pilihan Utama Keluarga
Setelah hari pertama Idulfitri digunakan untuk silaturahmi, hari-hari berikutnya biasanya diisi dengan aktivitas rekreasi. Banyak keluarga yang datang ke pusat perbelanjaan untuk menikmati wahana hiburan, bioskop, atau area bermain anak. Ini membuat sektor entertainment jadi salah satu yang paling ramai.
Perkiraan Kunjungan ke Pusat Perbelanjaan
APPBI mencatat bahwa selama Ramadan hingga Idulfitri, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan naik sekitar 10 hingga 15 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini biasanya terjadi di hari kedua Idulfitri, saat masyarakat mulai keluar rumah setelah menjalani aktivitas keagamaan di hari pertama.
Berikut perkiraan distribusi kunjungan selama Ramadan dan Idulfitri:
| Hari | Kategori Produk Utama | Tingkat Kunjungan |
|---|---|---|
| Hari pertama Idulfitri | Produk religius, kebutuhan pokok | Rendah |
| Hari kedua Idulfitri | Fashion, hiburan, makanan | Tinggi |
| Hari ketiga dan seterusnya | Hiburan, rekreasi, kuliner | Stabil tinggi |
Strategi Ritel Menyambut Musim Puncak
1. Menyediakan Promo Khusus Lebaran
Mayoritas pusat perbelanjaan dan e-commerce menawarkan diskon besar-besaran menjelang lebaran. Mulai dari cashback, potongan harga hingga bundling produk. Ini dilakukan untuk menarik konsumen dan meningkatkan nilai transaksi per pengunjung.
2. Memperbanyak Stok Produk Andalan
Mengantisipasi lonjakan permintaan, pelaku ritel biasanya menambah stok produk yang biasa laris saat lebaran. Terutama di kategori fashion dan makanan. Keterbatasan stok bisa berdampak langsung pada penjualan.
3. Meningkatkan Layanan Pelanggan
Selama masa puncak, pelayanan pelanggan jadi fokus utama. Banyak pusat belanja yang menambah jam operasional, menambah tenaga kerja, hingga memperluas area parkir agar pengalaman belanja tetap nyaman.
Tantangan yang Masih Dihadapi Industri Ritel
Meski prospeknya cerah, industri ritel tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah fluktuasi harga bahan baku yang bisa memengaruhi margin keuntungan. Selain itu, persaingan dengan e-commerce yang terus meningkat juga jadi tantangan tersendiri, terutama dalam merebut perhatian konsumen muda.
Belum lagi, kenaikan biaya operasional seperti listrik, transportasi, dan tenaga kerja yang terus naik. Semua ini bisa menggerus profit ritel jika tidak dikelola dengan baik.
Kesimpulan
Musim Ramadan dan Idulfitri memang jadi penentu kinerja ritel di awal tahun. Dengan berbagai faktor pendukung seperti peningkatan daya beli dan stimulus pemerintah, industri ini diprediksi tumbuh positif di triwulan I 2026. Namun, tetap diperlukan strategi yang tepat agar bisa memaksimalkan peluang yang ada.
Disclaimer: Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi yang tersedia hingga Maret 2026. Angka dan kondisi bisa berubah tergantung situasi ekonomi dan kebijakan yang berlaku.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













