Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menggelindingkan program konsolidasi Bank Perekonomian Rakyat dan Bank Perekonomian Syariah (BPR/BPRS). Langkah ini merupakan bagian dari upaya penguatan struktur industri perbankan di Tanah Air. Tujuannya jelas: menciptakan bank yang lebih sehat, kuat, dan mampu bersaing di kancah industri keuangan yang semakin kompetitif.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa hingga 11 Maret 2026, sudah ada 142 BPR/S yang berhasil dikonsolidasikan menjadi 50 entitas. Sementara itu, 22 BPR/S lainnya masih dalam proses merger menjadi 6 BPR/S. Proses ini masih menunggu persetujuan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Belum selesai di situ, masih ada 242 BPR/S lainnya yang sedang dalam tahap konsolidasi di bawah pengawasan OJK.
Konsolidasi BPR/S: Langkah Menuju Industri yang Lebih Kuat
Langkah konsolidasi ini tidak hanya soal pengurangan jumlah bank. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat sistem perbankan mikro di Indonesia. Dengan mengurangi jumlah entitas, diharapkan efisiensi operasional meningkat, risiko lebih terkendali, dan kapasitas layanan lebih baik.
1. Penurunan Jumlah BPR Terus Berlanjut
Tren penurunan jumlah BPR masih berlanjut di tahun 2026. Ini terjadi karena dua hal utama. Pertama, penggabungan atau peleburan usaha antar-BPR yang dimiliki oleh satu induk perusahaan yang sama. Kedua, pencabutan izin usaha, baik karena permintaan dari bank itu sendiri (self-liquidation) maupun karena status bank sebagai Bank Dalam Resolusi (BDR).
2. Permodalan BPR/S Jadi Fokus Utama
OJK tengah menyusun regulasi baru terkait permodalan BPR/S. Regulasi ini akan menjadi dasar dalam mengkategorikan BPR ke depannya. Penyusunan aturan ini sejalan dengan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR/S (RP2B) yang dirilis pada 2024 lalu. Harapannya, dengan aturan yang lebih jelas, industri BPR/S bisa tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan.
3. Implementasi RP2B Masih Dipantau
OJK terus memantau pelaksanaan RP2B. Di dalam roadmap ini, ada beberapa poin penting seperti penguatan struktur industri, peningkatan kapasitas SDM, dan optimalisasi teknologi perbankan. Semua ini dirancang agar BPR/S tidak hanya bertahan, tapi juga bisa menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.
Kinerja BPR/S di 2025: Stabil dan Menjanjikan
Di tahun 2025, kinerja industri BPR/S mencatatkan pertumbuhan yang stabil. Total aset BPR/S tumbuh 5,60% secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan ini didukung oleh penyaluran kredit yang naik 5,94% YoY, mencapai Rp177,42 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami peningkatan sebesar 5,86% YoY, mencapai Rp169,69 triliun.
| Indikator | Pertumbuhan YoY | Nilai (Rp Triliun) |
|---|---|---|
| Total Aset | 5,60% | – |
| Penyaluran Kredit | 5,94% | 177,42 |
| Dana Pihak Ketiga | 5,86% | 169,69 |
Meski begitu, rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) BPR dan BPRS tetap berada di atas ambang batas. CAR BPR mencapai 28,91%, sementara BPRS berada di angka 19,73%. Angka ini menunjukkan bahwa permodalan kedua jenis bank tersebut masih sangat sehat dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Risiko Kredit Masih Terkendali
Salah satu catatan penting dari OJK adalah peningkatan Non-Performing Loan (NPL) secara tahunan. Meski mengalami kenaikan, OJK menilai risiko kredit ini masih dalam batas wajar dan manageable. Artinya, bank-bank ini masih bisa mengelola risiko dengan baik meski ada tekanan dari sisi kualitas pinjaman.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Konsolidasi BPR/S bukan hanya soal angka. Ini adalah proses kompleks yang melibatkan berbagai aspek: hukum, operasional, SDM, dan teknologi. Banyak bank kecil yang harus rela bergabung atau bahkan tutup karena tidak mampu memenuhi standar baru. Namun, dari proses ini, diharapkan akan lahir bank-bank yang lebih profesional dan memiliki kapasitas layanan yang lebih luas.
1. Regulasi yang Lebih Ketat
Dengan adanya aturan baru tentang permodalan, BPR/S dituntut untuk memiliki struktur keuangan yang lebih sehat. Ini termasuk dalam hal modal inti, likuiditas, dan pengelolaan risiko. Bank yang tidak siap dengan standar baru akan sulit bertahan di masa depan.
2. Peran Teknologi Makin Besar
Di era digital seperti sekarang, BPR/S juga dituntut untuk bisa mengadopsi teknologi dengan baik. Mulai dari layanan perbankan digital hingga sistem manajemen risiko berbasis teknologi. Ini adalah tantangan sekaligus peluang bagi BPR/S untuk bisa bersaing dengan bank besar.
3. Perlindungan Nasabah Tetap Jadi Prioritas
Dalam setiap proses konsolidasi, OJK selalu memastikan bahwa nasabah tetap dilindungi. Termasuk dalam hal penyelesaian kewajiban bank yang bergabung atau yang dicabut izinnya. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga siap turun tangan jika diperlukan untuk melindungi dana masyarakat.
Penutup
Program konsolidasi BPR/S yang tengah digulirkan OJK merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem perbankan mikro di Indonesia. Dengan mengurangi jumlah entitas dan meningkatkan kualitas bank yang tersisa, diharapkan industri BPR/S bisa menjadi lebih sehat dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.
Namun, perlu dicatat bahwa data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan regulasi dan kondisi industri. Informasi terkini sebaiknya selalu dikonfirmasi melalui sumber resmi OJK atau LPS.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













