PT Bank Sinarmas Tbk. (BSIM) mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp322,43 miliar sepanjang 2025. Angka ini turun 12,89% dibandingkan laba bersih periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai Rp370,13 miliar. Penurunan laba ini terjadi meskipun bank tersebut berhasil meningkatkan komponen pendapatan non-bunga secara signifikan.
Penyusutan laba bersih Bank Sinarmas sebagian besar dipicu oleh turunnya pendapatan bunga bersih. Pendapatan tersebut menyusut hingga 27,61% secara tahunan, dari Rp2,70 triliun pada 2024 menjadi Rp1,95 triliun di akhir 2025. Meski begitu, bank ini mencatatkan pertumbuhan pendapatan komisi dan pendapatan lainnya yang cukup menonjol.
Pendapatan Non-Bunga Naik Tajam
Pendapatan komisi Bank Sinarmas tumbuh 20,61% secara tahunan menjadi Rp460,89 miliar. Sementara itu, pendapatan lainnya melonjak hingga 118,80% YoY, mencatatkan angka Rp745,35 miliar. Lonjakan ini menjadi salah satu penyelamat kinerja keuangan bank di tengah tekanan pada pendapatan bunga.
Beban operasional lainnya juga mengalami penurunan cukup signifikan. Dari Rp2,26 triliun pada 2024, beban tersebut turun 33,52% menjadi Rp1,50 triliun di akhir 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya pengeluaran untuk promosi dan beban lainnya.
1. Beban Promosi Turun 10,99%
Beban promosi menyusut dari Rp33,36 miliar menjadi Rp29,69 miliar. Penurunan ini menunjukkan efisiensi anggaran yang dilakukan Bank Sinarmas dalam upaya memangkas biaya operasional.
2. Beban Lainnya Turun 3,94%
Beban lainnya juga turun dari Rp1,84 triliun menjadi Rp1,77 triliun. Meskipun penurunannya tidak terlalu besar, kontribusinya tetap signifikan dalam mengurangi total beban operasional.
Laba Operasional dan Nonoperasional
Laba operasional Bank Sinarmas meningkat tipis sebesar 2,98% menjadi Rp450,79 miliar dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Namun, laba nonoperasional justru melonjak hingga 6.330,69% YoY, dari Rp1,07 miliar menjadi Rp68,93 miliar. Kenaikan ini menunjukkan adanya pendapatan luar biasa atau keuntungan dari investasi yang tidak rutin.
Sebelum pajak, laba tahun berjalan Bank Sinarmas mencapai Rp519,72 miliar, naik 18,44% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp438,81 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun laba bersih turun, kinerja sebelum pajak tetap menunjukkan peningkatan.
Kinerja Kredit dan Dana Pihak Ketiga
Dari sisi fungsi intermediasi, Bank Sinarmas menyalurkan kredit sebesar Rp12,33 triliun sepanjang 2025. Angka ini turun 15,77% dibandingkan realisasi kredit 2024 yang mencapai Rp14,64 triliun. Penurunan ini bisa menjadi indikator adanya kehati-hatian dalam pemberian pinjaman atau situasi makro ekonomi yang kurang mendukung.
Namun, di sisi pendanaan, bank ini mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 4,93% YoY. Total DPK mencapai Rp47,03 triliun, naik dari Rp44,81 triliun di tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan simpanan tabungan dan deposito.
1. Simpanan Tabungan Naik 12,31%
Simpanan tabungan Bank Sinarmas tumbuh dari Rp13,82 triliun menjadi Rp15,52 triliun. Kenaikan ini menunjukkan bahwa masyarakat masih mempercayai bank ini sebagai tempat menyimpan dana jangka pendek.
2. Deposito Tumbuh 14,53%
Deposito juga mengalami peningkatan dari Rp12,83 triliun menjadi Rp14,69 triliun. Ini menunjukkan bahwa produk berjangka waktu masih diminati oleh nasabah yang mencari return lebih stabil.
Indikator Kesehatan Keuangan
Rasio KPMM (Kewajiban Penyediaan Modal Minimum) Bank Sinarmas meningkat dari 31,26% pada 2024 menjadi 35,20% di akhir 2025. Peningkatan ini menunjukkan bahwa bank ini memiliki modal yang lebih kuat untuk menopang risiko.
Kualitas kredit juga menunjukkan perbaikan. NPL (Non-Performing Loan) bruto turun dari 1,88% menjadi 1,77%. Sedangkan NPL net turun tipis dari 0,38% menjadi 0,39%. Meskipun angka ini masih dalam batas wajar, bank tetap perlu waspada terhadap potensi risiko kredit.
1. NIM Menyusut Jadi 4,46%
Net Interest Margin (NIM) turun dari 6,06% menjadi 4,46%. Penurunan ini sejalan dengan penurunan pendapatan bunga bersih yang disebabkan oleh tekanan suku bunga dan kondisi pasar.
2. BOPO Naik Menjadi 94,09%
BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional) meningkat dari 93,74% menjadi 94,09%. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan operasional masih digunakan untuk menutup biaya operasional.
Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Sinarmas 2024 vs 2025
| Indikator | 2024 | 2025 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Laba Bersih | Rp370,13 miliar | Rp322,43 miliar | -12,89% |
| Pendapatan Bunga Bersih | Rp2,70 triliun | Rp1,95 triliun | -27,61% |
| Pendapatan Komisi | Rp382,25 miliar | Rp460,89 miliar | +20,61% |
| Pendapatan Lainnya | Rp341,01 miliar | Rp745,35 miliar | +118,80% |
| DPK | Rp44,81 triliun | Rp47,03 triliun | +4,93% |
| Kredit | Rp14,64 triliun | Rp12,33 triliun | -15,77% |
| NPL Bruto | 1,88% | 1,77% | -0,11% |
| NPL Net | 0,38% | 0,39% | +0,01% |
| NIM | 6,06% | 4,46% | -1,60% |
| BOPO | 93,74% | 94,09% | +0,35% |
Kesimpulan
Meskipun menghadapi tekanan pada pendapatan bunga, Bank Sinarmas tetap mampu menjaga kinerja keuangan dengan memperkuat pendapatan non-bunga dan efisiensi biaya. Pertumbuhan DPK yang positif dan peningkatan rasio KPMM menunjukkan bahwa bank ini memiliki fondasi yang kuat meski laba bersihnya turun.
Namun, tantangan ke depan tetap ada. Penurunan volume kredit dan tekanan pada NIM menjadi catatan penting yang perlu dikelola dengan baik. Bank perlu terus mengembangkan strategi diversifikasi pendapatan dan optimalisasi biaya untuk menjaga konsistensi kinerja di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat berdasarkan laporan keuangan tahunan Bank Sinarmas per 31 Desember 2025. Angka-angka bisa berubah seiring dengan adanya pembetulan atau audit lebih lanjut.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













